
...♡♡♡...
Aku sudah lama tidak mendengar kabar abi, bagaimana sekarang keadaannya di sana ya? apa abi baik-baik saja? semoga abi dalam keadaan sehat, hmm... Terakhir kali aku menjenguk abi saat bersama bunda semenjak itu tidak pernah mendengar kabar abi lagi, sungguh aku merindukan abi saat ini. Batin Khanza pula yang terlihat muram sebab ia bertanya-tanya dalam hatinya bahkan sempat Zizi menyinggung kabar ayah mereka namun Khanza terpaksa memberi alasan di karenakan sibuk bekerja pada akhirnya sampai sekarang Zizi tak pernah menyinggungnya lagi.
Genggaman tangan Khanza begitu erat memegangi jemari kecil tangan adiknya itu setelah ia menepuk pelan kepala Zizi yang bersandar di bahunya sehingga saat ini Zizi tampak pulas begitu saja sebab sudah jadi kebiasaan Zizi jika dirinya bersandar di bahu kakaknya pasti akan terasa nyaman baginya.
"Pak, apa rumah sakitnya masih jauh?" tanya Khanza sejenak karena ia merasa perjalanan sudah cukup lama dan tidak kunjung sampai makanya ia jadi bertanya langsung supaya memastikan jawaban dari lelaki yang membawanya itu.
"Oh iya saya baru saja mendapatkan sebuah pesan dari nyonya juga pak bos dan mereka bilang kalau saya harus membawa kalian ke rumah kontrakan mereka yang sedang kosong lagipula mereka akan segera pulang hari ini sudah pasti menyusul kalian nantinya," imbuhnya terlihat begitu meyakinkan Khanza yang sudah tampak mulai tidak enak hati sebab begitu saja muncul perasaan tersebut.
"Kenapa tidak ke rumah ibu dan bapak saja? bukankah mereka mempunyai tempat tinggal sendiri?" begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut Khanza karena ia ingin mendengar jawaban apa yang akan ia terima dari lelaki tersebut.
"Begini dik, rumah mereka sedang ada perbaikan karena banyak yang rusak makanya kalian saya bawa sesuai dengan perintah dari mereka," balasnya dengan menjawab tenang.
"Begitu ya, baiklah aku paham maksudnya!" turut Khanza mencoba percaya padahal dia sudah berfirasat tak enak setelah ia di bawa dalam perjalanan yang lama.
Perbincangan usai setelah Khanza tak lagi bertanya sehingga keduanya terdiam namun lelaki itu tersenyum menyeringai dari pantulan kaca yang bisa melihat ke arah belakang tanpa Khanza sadari ternyata dirinya sudah di tipu oleh lelaki tersebut.
.
.
.
Halte Bus
"Ma, kita harus ke mana sekarang? aku sudah lelah dari tadi berlari terus sampai kaki ini rasanya mau patah!" keluhan Kino selalu terdengar di telinga ibunya bahkan berulang kali dia berhenti sambil merengek seperti anak kecil.
"Kau ini taunya mengeluh saja, bisakah kau tak membuat mama bertambah pusing Kino!" cetus ibunya yang terlihat geram ketika anaknya terus berceloteh.
"Ya mau bagaimana lagi ma, memang aku sudah lelah karena mama terus membawa ku berlari lagian sudah aku sarankan untuk pergi membawa mobil tapi mama malah langsung menarik ku begitu saja," keluhnya lagi malah terdengar protes hingga wajahnya yang begitu kesal.
PLETAAKKKK
Kepala Kino pun di jitak oleh ibunya sendiri sebab ia merasa sudah di ambang kemarahan karena Kino masih mengulang ucapan yang sama sampai tak dapat di hitung lagi.
"Kau ini apa tak bisa berfikir logis Kino? otak mu itu benar-benar bodoh! sedangkan kita mau melarikan diri dari rumah itu tanpa ketahuan tapi bisa-bisanya kau menyarankan untuk mengeluarkan mobil dari bagasi, kau sama sekali tak pernah memberi solusi yang benar dan lebih baik kau diam saja ikuti mama dan jangan banyak protes!" semburnya dengan membentak dan terus mengomel sehingga Kino pun terdiam tak lagi berbicara.
Kino membuang nafas kasar setelah ia menerima mentah-mentah perlakuan ibunya itu sembari terus memijat kedua betis kakinya. "Sekarang ini tujuan kita kemana? rumah kontrakan mama juga tidak dekat apalagi kita tak ada kendaraan," kata Kino seketika ibunya memijat dahi sesekali ketika mendengar lontaran tersebut.
"Kita harus mencairkan uang yang ada dalam cek berhadiah kemarin lagian mama juga punya tabungan di ATM dan setelahnya kita fikirkan kemana kita akan mencari rumah yang aman untuk tempat tinggal kita," jawab ibunya sambil merogoh tas yang di bawa oleh Kino lalu ia pun menunjukkannya di depan anaknya. "Apa kau masih ingat dengan cek ini? sekarang ayo kita bergerak jangan buang waktu lagi tak mungkin kita tidur di jalanan memangnya kau mau hidup di jalanan?" lanjut ibunya lagi sengaja memojokkan anaknya itu lalu ia pun berdiri dari duduknya hingga ia lebih dulu berjalan sementara Kino masih saja memjiat kakinya dengan tampang kelelahan.
"Cepatlah Kino! kau ini buang waktu saja," timpal ibunya pula bernada keras setelah ia menoleh ke belakang melihat anaknya masih saja terduduk.
Kino pun membuang nafas panjang kemudian ia berdiri serta berjalan mengikuti ibunya dari belakang.
Bank CNN indonesia.
Tepat di salah satu kantor bank terlihat oleh Shopia sedari jauh sebab mereka berjalan kaki hingga menemukan tempat yang akan mereka tuju apalagi kebetulan nama bank tersebut merupakan tempat dirinya menabung uang makanya Shopia merasa senang terlihat dari raut wajahnya.
Sesampainya mereka di bank tersebut tampak pula orang-orang sedang bergilir menunggu antrian begitu juga dengan Shopia maupun Kino yang saat ini duduk di sebuah kursi kian tersedia di dalamnya.
Beberapa saat kemudian hingga menghabiskan waktu setengah jam sudah saatnya giliran nomor mereka lalu keduanya berdiri dan berjalan ke arah resepsionis serta duduk bersebelahan.
"Ada yang bisa saya bantu ibu?" tanya ramah dari wanita muda terlihat berparas cantik memiliki rambut hitam lurus sebahu lalu tersenyum ke arah mereka.
"Saya ingin mencairkan uang yang ada di dalam cek ini," katanya dengan memberikan langsung pada wanita tersebut.
"Baik, mohon di tunggu ibu..."
Cek itupun sudah di terima oleh wanita itu kemudian ia mulai bekerja sesuai yang di minta oleh Shopia.
Tak berapa lama wanita tadi menoleh ke arah Shopia yang masih menunggunya.
"Maaf ibu di dalam cek ini kosong dan tidak ada isinya," ucapnya pula sehingga Shopia menautkan alis matanya bahkan Kino juga ikut kaget mendengar penyampaian dari resepsionis itu.
"Kenapa bisa begitu? coba kau cek lagi mungkin ada kesalahan saat kau memeriksanya," sanggahnya pula sehingga wanita itu masih terlihat menunjukkan sikap ramahnya pada Shopia.
"Saya sudah mengulang hingga beberapa kali memang cek ini kosong tidak bisa di cairkan dan sepertinya ibu sudah di tipu oleh perusaahan yang tertera ini karena setahu saya perusahaan mereka sudah lama bangkrut," perjelasnya pula sehingga Shopia tampak merasa kesal jika memang itulah kenyataannya.
Kurang aj*r! berani sekali dia menipuku jika saja aku bertemu dengan dia lagi akan aku habisi dia dengan tangan ku sendiri?! batin Shopia yang terlihat murka hingga ia mengepal kuat kedua tangannya.
"Maaf ibu saya tak bisa membantu," tuturnya dengan sopan lalu ia menggeser cek tersebut di depan Shopia namun Shopia meraihnya seketika hingga merobek habis cek tersebut dan ia buang ke tempat sampah lalu setelah itu ia menarik lengan Kino tanpa berkata apapun pada wanita resepsionis tadi.
Mereka berdua berlalu pergi dengan keadaan hati yang penuh amarah sehingga resepsionis itu hanya bergeleng kepala melihatnya sebab baru kali ini dia menemukan ada orang yang tak punya etika sedikitpun.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Seberapa banyak pun dosa yang kau lakukan jika kau bertaubat tuhan akan memberi jalan keluar untukmu selagi niatmu untuk berubah ❤️