Aku, Khanza

Aku, Khanza
Jeritan Hayati


🍁🍁🍁


Tepat pukul 05.00 terdengar suara adzan berkumandang begitu merdunya, burung mulai berkicau dan ayam mulai terdengar suara kokoknya.


Biasanya setiap pagi nek Raya bangun sebelum matahari terbit ia mengerjakan sholat subuh dengan duduk berselonjor, setiap harinya saat hendak melakukan sholat 5 waktu aliran air yang mengucur deras terdengar di telinga Zizi sehingga ia tersentak saat suara air itu berdengung di telinganya.


Zizi berlari menuju kamar mandi dan berdiri di belakang nek Raya.


"Nek, apa waktu subuh sudah datang?" tanya Zizi mengusap matanya karena baru saja terbangun.


Nek Raya masih terdiam karena dirinya sedang melakukan wudhu, makanya dia tidak menjawab pernyataan Zizi.


Setelah beberapa saat nek Raya berbalik pada Zizi.


"Ambil wudhu kita sholat bersama," perintah nek Raya dengan tersenyum kecil pada Zizi yang masih terdiam berdiri melihatnya.


"Baik nek tapi biasanya Zizi kalau ambil wudhu bersama kakak, karena Zizi masih belum paham cara berwudhu dengan benar," bijaknya Zizi berkata jujur pada nek Raya membuat dirinya jadi tertawa simpul.


Karena pengakuan Zizi itu, nek Raya mengajarkan awal mula berwudhu sampai selesai.


Setelah itu mereka bersama berjalan ke arah ruang tamu untuk melakukan sholat secara berjamaah, di karenakan Zizi masih kecil dia berdiri tepat berada di sebelah nek Raya, begitu juga sebaliknya saat Alsha melakukan sholat bersama dengan Zizi di rumah Hayati.


Zizi terus mengikuti gerakan yang di lakukan oleh nek Raya bahkan tidak ada yang salah dari gerakan Zizi sangat fasih sekali terlihat seperti orang dewasa saat melakukan sholat, kemudian akhir dari sholat itu Zizi mengadahkan kedua tangannya untuk berdoa sampai meneteskan air mata tanpa dia sadari entah apa yang di pikirkan anak sekecil Zizi sehingga mengalir air mata di wajahnya.


.


.


.


Namun, di sisi lain.


"Alshaaaa," jeritan Hayati pecah saat dirinya hendak terbangun dari lelap tidurnya, ia pun terduduk di atas kasurnya sambil membuang nafas kasar ternyata dirinya sedang bermimpi buruk sekali.


Dia melihat jam beker yang terletak di atas lemari kecil sebelah kasurnya, ia juga menggeliat sedikit sambil meregangkan seluruh ototnya sebelum hendak bangkit dari kasur untuk membangunkan Alsha yang masih tertidur, itulah fikir Hayati.


"Kino, bangun! ayo sholat subuh." Hayati perlahan membangunkan suaminya berulang kali tapi tak mau juga terbangun.


"Aaaahh nanti saja, aku masih ngantuk!" celoteh Kino membelakangi Hayati sama sekali tak perduli.


"Ayo bangun, kamu jarang sekali sholat subuh! bagaimana kita mau dapat momongan kalau kamu saja malas untuk menghadap padanya," kata Hayati pula terus berusaha berbicara pelan namun tak juga di hiraukan.


"Apa yang kau tahu? sudah kau saja yang sholat! dasarnya kau mandul, kenapa aku yang kau salahkan?" gerutu Kino bangun dari kasurnya hendak pergi ke sofa kamar mereka dan ia melanjutkan tidurnya kembali tanpa memperdulikan ucapan Hayati.


Hayati mengelus dadanya sendiri mendengar ucapan kasar suami yang di hormatinya itu setiap kali dia buka suara pasti ada saja perkataan yang tidak enak dia dengar olehnya.


Setelah perdebatan itu selesai Hayati pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan sholat fardhu subuh 2 rakaat.


Kemudian Hayati bangkit dari tempatnya tak ingin membangunkan Kino kembali, ia membuka pintu kamarnya menuju kamar Zizi terlebih dulu dari jauh ia melihat kamar Zizi sudah kian terbuka dan masih sangat gelap apalagi kondisi lampu tidak menyala, biasanya lampu tidur harus terpasang di kamar Zizi kalau tidak dia pasti merengek minta di temani sungguh terasa aneh bagi Hayati dengan yang dia lihat pagi itu.


Hayati terus melangkah cepat dengan membuang semua pikiran jeleknya, setelah sampai di depan pintu kamar ia mulai menghidupkan lampu terlebih dulu, betapa terkejutnya Hayati melihat kondisi kamar Zizi berantakan tidak beraturan apalagi Zizi tidak ada di dalam kamarnya, Hayati menganga seakan kehabisan suara ingin menjerit tetapi itu ia abaikan, ia sigap berlari ke arah kamar Alsha dengan jantung yang mulai sesak dia rasakan.


"Tidak tidak! aku harus membuang semua pikiran ini," lirih Hayati sambil berlari lebih cepat dari sebelumnya.


Begitu juga dengan kamar Alsha terlihat kosong tidak ada orang di dalamnya, Hayati mulai lemas dan terduduk di lantai menjerit seketika dengan sekeras mungkin.


Aaaaaaa


"Anakku...." Jeritan Hayati pecah saat fardhu subuh itu.


..........


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan:...


Rumah tangga harus di dasari oleh iman dan taqwa, jika tidak ada iman maka lemahnya kamu sebagai seorang suami. karena tempatnya surga ada pada suami. namun kalau suami yang tidak patuh perintah Tuhan, sudah kewajiban istri untuk menasehati tanpa rasa lelah, perlahan dan semoga di bukakan pintu hidayah untuknya. Ketika suami jauh dari Tuhan, rangkul dia jangan engkau hardik karena suami adalah surgamu. Suami yang tidak dapat di pertahankan itu 1 berjudi, 2 bermain wanita, 3 minuman keras, 4 suka memukul. Semoga bermanfaat ❤️