Aku, Khanza

Aku, Khanza
Mengenang Sosok Ibu...


...♡♡♡...


Stan makanan Friends.


Kedua mata yang saling bertatapan kini membuat para pengunjung tertuju pada mereka seolah sedang melihat drama romantis karena Devan masih membungkam mulut Amel dengan telapak tangannya itu.


Tuk


Tuk


Seseorang mengetuk meja mereka berulang kali saat mereka saling bertatapan dan ternyata yang datang itu ialah Nathan setelah ia kembali dari toko pakaian pria.


Batss


Karena suara yang mengagetkan dari Nathan lalu dengan cepat Amelia menampik tangan Devan dari mulutnya serta ia terpelongo melihat Nathan berdiri sembari menatap ke arahnya dengan mengatupkan kedua tangan di dada hingga Nathan juga menatap ke arah Devan yang sudah mengalihkan wajah sembari mengelus pundak lehernya tanpa menoleh ke arah Nathan.


"Apa yang sedang kalian lakukan? kenapa makanan kalian masih banyak? di sini tempat makan bukan tempat membuat film drama!" cetus Nathan berkata demikian sehingga Amel menoleh pada Devan dengan tatapan jengkelnya.


"Kau! kenapa mudah sekali menyentuhku? apa kau ingin ku hajar?" semburan dari Amel pula sembari menunjuk ke arah Devan yang masih mengalihkan wajahnya dan tak berapa lama Devan menoleh sesaat.


"Kau tadi berisik! makanya aku tutup mulutmu supaya kau bisa diam," membalik nyerang lalu Devan mengalihkan wajahnya kembali ke arah lain.


Ada apa denganku saat ini? apa aku sudah gila? kenapa aku sekarang merasa ada yang aneh dari diriku? batin Devan mengernyitkan kedua dahinya hingga ia terus membuang nafas panjang namun ketika ia berkata dalam benaknya tampak Nathan menaikkan sebelah alis mata karena ia mengetahui apa yang di bicarakan lewat hatinya Devan.


"Dasar kau! tidak usah banyak alasan bilang saja kau-"


"Cukup!"


Sela Nathan langsung memotong perkataan Amel yang belum selesai, kemudian Amel pun menatap sinis ke arah Nathan.


"Dia yang sudah membuatku berteriak begini," gerutu Amel lagi.


"Sudah cukup ku bilang! kalian bukan anak kecil lagi yang harus di bentak lagian kalian juga sama-sama dewasa jadi jangan saling menyalahkan, cepatlah! kalau kalian sudah selesai susul aku d mobil," imbuh Nathan sembari melirik ke arah Devan yang sama sekali tidak mengarah padanya.


Sreeek


Suara geseran kursi yang di duduki Amel pun terdengar karena dirinya sudah berdiri dari tempatnya. "Aku sudah kenyang jadi aku kembali ke mobil sekarang," katanya pula dengan nada yang sedikit terdengar kesal.


Setelah itu Amel berjalan ke arah kasir untuk membayar makanan yang sudah ia pesan.


"Hoi, makanan mu saja belum kau habiskan!" teguran dari Nathan di balik punggung Amelia yang sedang terlihat membuka dompetnya.


"Biarkan saja! aku sudah tak selera lagi," lontarnya dengan melirik dari samping.


Nathan hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Amel barusan serta ia menoleh ke arah Devan yang sedang menikmati jus jeruknya.


"Apa kau masih ingin di sini?" tanya Nathan pula.


"Kalian deluan saja nanti aku menyusul," balasnya singkat saat ia sudah meneguk jus jeruk miliknya serta ia sesekali melirik ke arah Amel yang sudah lebih dulu keluar dari pintu stan.


"Jangan terlalu lama karena waktu akan terbuang sia-sia," pesan Nathan pula lalu ia beranjak dari tempatnya meninggalkan Devan yang masih terus melirik ke arah Amel.


.


.


.


Cip


Cip


Siulan burung-burung kecil terbang di atas langit di saat suasana keheningan terjadi beberapa menit berlalu di antara Khanza dan buk Meli.


Senyuman mereka berdua yang saling berbalasan tampak begitu hangat hingga tangan Khanza masih mengelus punggung belakang buk Meli.


Dalam sejenak air mata buk Meli terhenti ketika melihat senyum tawa dari Zizi lalu ia menoleh kembali ke arah Khanza.


"Ibuk yang sabar ya, mungkin ini sudah menjadi ujian untuk ibuk dan Khanza yakin ibuk bisa melewati semuanya," imbuh Khanza yang masih saja melontarkan senyuman kecil di wajah cantiknya itu.


"Iya nak sekarang ibuk sudah menjadi lebih lega saat berbicara padamu," katanya dengan menyentuh sebelah pipi Khanza sembari tersenyum kecil juga. "Ohya nak, ibuk hampir lupa ingin bertanya sesuatu padamu," lanjut buk Meli kemudian ia melepaskan sentuhan tangannya di pipi Khanza,"


"Ibuk mau bertanya apa pada Khanza?" turutnya pula.


"Kalian berasal dari mana? di mana orang tua mu nak?" tanya buk Meli dengan wajah rasa penasarannya namun berbalik ke Khanza kini senyum di wajahnya tampak pudar seketika.


Buk Meli melihat dari mata Khanza ada sesuatu luka yang sangat dalam di hatinya. "Nak kalau kau tak ingin menjawabnya tidak apa sebab ibuk bisa memahaminya," sentuhan dari telapak tangan buk Meli ke punggung tangan Khanza.


Mendengar ucapan buk Meli itu sejenak Khanza melontarkan senyum tipis walau terlihat ia berusaha ingin menutupinya namun buk Meli merasa lain ketika menatap senyuman yang di berikan Khanza saat ini.


"Umi," lirih dari suara Khanza ketika ia mendongak ke arah langit-langit.


Air mata yang jatuh membuat hati buk Meli terenyuh bahkan ia menghapus air mata itu dengan rasa simpatinya pada Khanza yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.


"Siapa umi nak? apakah..."


Ucapan yang masih sepenggal itu membuat Khanza menoleh pada buk Meli dengan bola mata yang berair.


"Umi adalah panggilan untuk ibu kandung Khanza buk," katanya pula dengan nada serak.


"Lalu di mana umi kamu sekarang nak?" tampak buk Meli sedang memegang erat jemari lentik tangan Khanza berusaha memberi kehangatan lewat sentuhannya itu .


Walau Khanza sudah mengeluarkan air mata akan tetapi ia masih memberikan senyuman di balik bibirnya itu dan tak berapa lama ia kembali mendongak ke atas langit sambil menunjuk dengan jari telunjuknya sehingga buk Meli mengikuti gerakan telunjuk dari Khanza.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan : ...


Oh ibuku engkaulah wanita yang ku cinta selama hidupku, sesuatu yang tak bisa kita pungkiri bahwa kehilangan sosok ibu sangatlah membuat hati dan perasaan kita hancur hingga kita merasa bahwa separuh nyawa kita telah hilang bersamanya ❤️