
🍁🍁🍁
Malam hari suasana keheningan di rumah Hayati yang baru saja pulang dari kantor polisi bahkan ia menggendong Zizi masuk ke dalam rumah sampai ke dalam kamar.
Ting Tong
Bunyi bel yang terdengar beberapa kali membuat Hayati merasa senang mungkin saja itu Alsha yang baru pulang ke rumah dengan selamat sehingga Hayati berlari menuju pintu rumahnya dengan cepat karena ia tak ingin Alsha menunggunya lebih lama, itulah fikir Hayati.
Ceklek
Pintu terbuka lebar.
"Al- ."
"Assalamu'alaikum halo tante," lambaian tangan seorang lelaki memudarkan senyuman bahagia Hayati.
"Wa'alaikumsalam egh, Devan ternyata tante fikir siapa," sambutnya dengan nada rendah serta hangat.
"Apa Devan mengganggu tante?" tanya lelaki itu dengan sopan.
"Tidak sama sekali silahkan masuk Devan," turut Hayati memberi jalan pada lelaki tersebut terdengar ramah.
"Terimakasih tante," patuhnya pula dengan melenggang masuk ke dalam rumah.
Setelah pintu kembali di tutup Hayati mengikuti lelaki itu dari belakang.
"Devan mau minum apa?" tanya Hayati pula setelah sampai di ruang tamu.
"Tidak perlu repot-repot tante, Devan hanya ingin bertemu Alsha saja sebentar karena ada tugas penting yang harus Alsha ketahui," menolak dengan sopan karena terlalu segan pada Hayati.
Hayati menghembus nafas kasar. "Huuh..."
"Ada apa tante? kenapa wajah tante sedih begitu? apa ada hal buruk terjadi pada Alsha?" riuhnya pula terdengar begitu cemas serta panik.
"Alsha sedari siang belum pulang Van, tante juga tidak tahu pergi kemana Alsha," pekik Hayati mengelus pundak lehernya berulang kali.
"Alsha tidak mengatakan apapun sebelum pergi tante?" tanyanya lagi masih dalam keadaan panik.
"Zizi kemana tante?" sambungnya dengan celingukan melihat arah lain dia fikir Zizi juga hilang bersama Alsha.
"Zizi sedang tidur tante juga sudah lapor masalah ini ke pihak berwajib tapi mereka bilang besok baru di lakukan pelacakan," imbuhnya pula terlihat sangat sedih.
.
.
Lelaki yang di panggil oleh Hayati dengan sebutan Devan itu berasal dari keturunan Arab ia memiliki namanya tersendiri yaitu Devan Ezaz. Dia memiliki rambut yang tebal, alis yang indah, bulu mata lentik, kulit putih, bola mata kecoklatan, dirinya tinggal di salah satu kota Bandung berdekatan dengan rumah madam Shopia namun Devan sama sekali tidak mengenal siapa Shopia itu karena dirinya terlalu sibuk dengan sekolah. Devan berasal dari negara Turki, ia lebih nyaman tinggal bersama neneknya di banding kedua orangtuanya yang tidak menganggap dirinya lagi.
Devan dan Alsha seumuran mereka saling bersama di saat sekolah saling mengerjakan tugas kelompok bersama bahkan di mana ada Alsha di situ ada Devan membuat semua murid pada iri melihat kedekatan Alsha dan Devan, apalagi kenyamanan itu sangat di rasakan oleh Devan karena Alsha merupakan sosok wanita yang murah hati, lembut, pintar, dan pandai berbaur makanya Devan siap menjaga Alsha saat berada di sekolah.
.
.
.
Sementara itu di sisi lain saat Alsha masih berada di rumah Nathan Austin.
Aaagghhh
Sorotan mata yang sangat tajam membuat keduanya saling bertatapan.
Glup
Kedua bola mata saling melotot tak dapat berbicara sama sekali.
"Aduh tuan muda anda tidak apa-apa?" tanya seorang pelayan wanita membuka suara ketika mendapati suasana tegang itu.
Mereka berdua terjatuh di lantai tempat ruangan sauna yang di masuki oleh Alsha.
Awalnya Alsha tidak melihat ada sebuah batas tanjakan karena sangking buru-burunya mau berlari keluar.
Di saat yang bersamaan Nathan mencari Alsha karena sudah terlalu lama menunggu di meja makan akhirnya ia menyuruh pelayan untuk masuk ke kamar mandi, alhasil pintu sauna tertutup tak dapat di buka karena jika seseorang masuk akan terkunci otomatis dari dalam makanya tanpa fikir panjang lagi Nathan mendobrak pintu itu dengan kuat yang pada akhirnya bisa menangkap Alsha dengan cepat tanpa ada yang terluka sedikitpun.
.
.
Beberapa menit setelahnya.
"Apa kamu bisa berdiri? aku susah untuk bangkit?" tanya Nathan yang sudah mulai terasa sesak.
Seketika Alsha berdiri dengan menekan dada Nathan.
"Ma- maafkan saya pintunya mungkin terkunci dan saya tidak mendengar kalau kalian memanggil, maafkan saya sekali lagi," turut Alsha mulai kelabakan ia langsung berlari ke luar sauna dengan cepat meninggalkan Nathan yang masih terbaring di lantai.
"Tuan mau saya bantu?" tanya pelayan yang masih berada di dekatnya menatap Nathan.
"Khem, tidak perlu! saya bisa bangkit sendiri," celetuk Nathan hingga berdehem entah apa yang dia rasakan saat itu ia lekas berdiri dengan sigap namun tetap santai.
"Betulkan pintu ini, kalau bisa tidak perlu di pakaikan kunci lagi, mengerti?" tegasnya pula hingga merapikan kerah bajunya sambil melenggang keluar ruangan sauna.
Nathan keluar dalam keadaan tunduk ia tak ingin di katakan lelaki cabul oleh seorang wanita dan itu semua dia lakukan karena lagi dalam keadaan kondisi darurat saja.
Alsha menatap malu wajahnya yang sudah memerah ia langsung menutupi seluruh wajahnya dengan menaikkan handuk kimononya sampai atas dia juga tidak bisa mengira tiba-tiba saja Nathan masuk ke dalam ruangan itu, kecerobohan membuat dirinya menjadi sangat malu serasa tak ingin menampakkan wajahnya di depan Nathan.
"Bagaimana ini? aku harus bagaimana di depannya nanti?" gumam Alsha pula yang masih saja menutup wajahnya dengan handuk kimono.
"Nona saya keluar dulu semua makanan sudah beres nona bisa keluar setelah siap merapikan diri, saya pamit nona," kata pelayan itu bungkuk dengan sopan.
"Ya saya mengerti," turut Alsha masih menutupi wajahnya yang begitu memerah.
Pelayan rumah merasa bingung dengan sikap Alsha yang demikian dia juga terheran kenapa tuan mudanya juga bersikap aneh padahal di rumah itu tak ada satupun ruang sauna yang tidak memakai kunci akan tetapi barusan sang majikan berkata tidak perlu pakai kunci lagi, kini semua peraturan sedikit berubah dari tuannya itu, begitulah fikir sang pelayan.
...........
Bagaimana kelanjutan kisah Alsha❤️ yuk tetap simak ceritanya di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan cerita mendebarkan lainnya❤️
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^