Aku, Khanza

Aku, Khanza
Suasana Hangat


...β™‘β™‘β™‘...


Keasyikan Alsha saat menikmati ayam goreng dengan duduk bersila di lantai tanpa menoleh ke siapapun dirinya terus mengunyah di luar kesadarannya.


Betapa terkejutnya Nathan ketika tahu Alsha memakan ayam itu hingga terduduk tanpa melihat siapapun, bahkan sampai menjilati tulang ayam tersebut namun kakek Panji belum bisa melihat kejadian itu dan berkali-kali Nathan membuang nafas kasar melihat tingkah Alsha yang sedari tadi tidak ada habisnya.


"Apa kau sudah puas memakan semua ayam itu?" celetuk Nathan membuat Alsha terkejut bukan kepalang.


"Hah." Alsha mendongak, malah terbengong seperti membeku sesaat.


Alsha juga tidak mengira kenapa bisa dirinya memakan ayam itu dan duduk di lantai dengan santai, mungkin karena perut terasa sedang lapar bahkan tidak menyadari hal yang akan membuatnya malu.


Secepatnya dia bangkit hingga tertunduk malu. "Heheh, maafkan aku karena aku sungguh lapar sekali, maaf sekali lagi." Alsha berusaha membuka suara dan membungkuk berulang kali sambil memegang sisa ayam di tangannya itu.


Lagi-lagi Nathan mengambil nafas dalam mendengar ocehan Alsha yang membuatnya tidak habis fikir dan tak bisa berkata apapun lagi.


Kakek Panji hanya tersenyum hangat saat mendengar perkataan Alsha bukannya marah, malah ia tersenyum seolah merasa lucu dengan kepolosan Alsha itu.


"Alsha, apa kau begitu sangat lapar? mari kita makan sekarang," ajak kakek Panji pula berusaha meraih lengan Alsha yang berada sedikit jauh darinya.


Alsha pun mendekati lengannya pada kakek Panji supaya mudah di raih oleh si kakek.


"Nathan kau juga duduklah biar kakek duduk di sebelah Alsha," turut kakek Panji pula.


"Hmm, harusnya tadi aku menyuruh pelayan untuk mengusir kucing sebelum menyediakan makanan di atas meja," celetuk Nathan begitu nyelekit melirik Alsha sejenak.


Zlep


Meong


Tetiba Alsha kena kutukan langsung dari mulut Nathan, dengan cepat ia membungkam mulutnya sendiri hingga erat.


"Ternyata benar, dasar kucing liar!" ketus Nathan lagi bergeleng kepala sambil meraih kursinya untuk ia duduki.


"Sudahlah, Nathan memang begitu kau jangan ambil hati ya Alsha," imbuh kakek Panji mengelus pelan lengan Alsha.


"Ya kek Alsha mengerti," patuhnya pula sambil melirik sinis menatap wajah Nathan yang dengan santainya duduk tidak ada reaksi bersalah atas tuduhannya terhadap Alsha.


Balok es nyebelin! awas saja kau, akan ku cekik sampai tidak bernafas lagi?! batin Alsha menggerutu hingga terlihat mulutnya yang cemberut memaki Nathan di benaknya.


"Kek, duduklah cepat sebelum aku mati di cekik bukan mati kelaparan!" lontaran ucapan dan tatapan Nathan seolah tahu isi hati Alsha.


Hah? secepat itu dia tau? apa dia benar dukun? Alsha masih membatin dan menautkan kedua alisnya begitu terheran.


Kakek Panji mulai bergerak mengenakan tongkatnya beserta Alsha di sampingnya.


Alsha menggeser kursi untuk sang kakek, begitu pula dirinya yang menggeser kursi untuk ia duduki. Yeap, berhadapan dengan si balok es yang membuat Alsha tak bisa berkutik dengan tatapan dari Nathan.


Mata Alsha melotot melihat peralatan untuk makan di atas meja begitu lengkapnya, sudah tersusun rapi di atas meja dengan posisi di letakkan dekat bangku, walau bangku dalam keadaan kosong.


"Apa ini semua? apa rumah ini sedang menjual perlengkapan dapur?" tanya Alsha mengerutkan wajah.


Kedua pelayan sontak terkekeh melihat reaksi Alsha yang bertanya demikian.


"Pfffft." Suara kekeh kedua pelayan tidaklah nyaring tapi membuat lontaran tajam dari balik mata Nathan.


Keduanya langsung membungkam mulut karena sudah melihat ekspresi tuan muda mereka.


"Apakah kau sekolah tidak mengerti dengan peralatan ini?" celetuk Nathan lagi seakan tak percaya kalau Alsha itu benar di luar logikanya.


"Apa kau fikir aku sekolah untuk mengingat semua ini? aku hanya tau ini?!" balik berkata ketus sambil meraih sebuah garpu supaya tidak sepenuhnya dianggap bodoh oleh Nathan.


Lagi lagi kedua pelayan Yeni dan Yani terlepas ingin tertawa tapi tetap mereka tahan, hingga Nathan menatap mereka kembali.


"Hakh, sekarang kau lihat aku! supaya bisa menjadi bekal hidup mu nanti, perhatikan aku."


Nathan anggukkan kepala memberi isyarat pada Yeni supaya menyiapkan menu utama untuknya, dengan sigap Yeni langsung bergerak cepat mendekati Nathan.


Sang kakek hanya bergeleng kepala mendengar perdebatan yang membuat suasana meja makan jadi terasa hangat setelah kedatangan Alsha di rumah itu.


Kemudian setelah itu Nathan panjang lebar menjelaskan pada Alsha sambil memberikan arahan bagaimana menggunakan semua peralatan yang ada di atas meja tersebut.


*Service plate ( pisau daging atau ikan) Butter plate ( memotong roti ) , Butter knife ( untuk mengoles selai pada roti ) , Fish fork ( garpu ikan akan diletakan persis di sebelah kiri service plate ) , Water glass ( Water glass adalah gelas air utama yang ditempatkan di atas susunan pisau makan )*


"Aah, pusing!" cetus Alsha demikian. "Begini lebih cepat," mulutnya tersenyum lebar dan kedua alisnya bergerak.


Karena Alsha mulai jengah dengan ocehan Nathan, ia mengambil sebuah garpu dan menancap daging yang seharusnya di letakkan di atas piring dahulu lalu di potong kecil tapi tidak untuk Alsha dia menyantap daging itu dari garpu saja.


"Emm enak, tidak perlu repot begitu pakai di potong segala! begini jadi lebih enak, kan?" ucap Alsha sambil mengunyah satu tancapan daging yang masuk ke mulutnya tanpa berfikir kesalnya Nathan saat itu.


"Hahahah," lepaslah kekehan kedua pelayan itu tak tertahan lagi akibat keberanian Alsha terhadap Nathan.


Di ikuti oleh kakek Panji tertawa lepas juga walau dirinya belum bisa melihat dengan jelas tingkah konyol Alsha.


Astaga... 🀣🀣 kalau gitu gausah panjang lebar ya Nathan? mana deluan makan lagi,🀣🀣 wkwkwk seng sabar tohπŸ˜†


...........


Masih ada kelanjutan yang lebih seru lagi, tetap kepoin cerita mereka hanya di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan ❀️


^^^To be continued^^^


^^^πŸ‚ aiiWa πŸ‚^^^