Aku, Khanza

Aku, Khanza
Sebuah Pillihan?


...♡♡♡...


Lorong rumah sakit.


Tampak Nathan beserta yang lainnya sedang menunggu dengan duduk di bangku yang sudah tersedia di depan ruang UGD sebab Nathan telah membawa Hayati ke rumah sakit yang terdekat dari rumah Shopia supaya Hayati lebih cepat di tangani dan di beri perawatan intensif oleh dokter.


"Tuan muda, setelah ini kita harus melakukan apa?" tanya Wandi pula seketika membuka suara di saat yang lain masih terdiam dengan raut wajah yang sedih.


"Sisanya biarkan aku yang urus jadi tugas pak Wandi telah selesai, terima kasih banyak sudah membantu ku melancarkan rencana ini dan kalau saja bukan karena bantuan pak Wandi mungkin kami tak akan bisa membawa tante keluar dari rumah itu," cakap Nathan terdengar merendah sehingga Devan juga Amel tampak anggukan kepala membenarkan ucapan Nathan barusan.


"Tuan muda jangan sungkan begitu, saya tidak banyak membantu dan itu juga berkat tuhan pada saya sudah memberi kekuatan menghadapi wanita seperti itu tuan," balas Wandi yang tampak kesal entah mengapa sebab ia terbayang wajah Shopia saat bersamanya. "Ah iya tuan muda! terakhir saya teringat pesan tuan yang mengatakan harus bisa mendapatkan foto wanita itu, ini tuan fotonya beserta anak lelakinya."


Wandi sebelumnya merogoh ponsel miliknya yang ada di saku jas lalu ia memperlihatkan hasil jepretannya itu pada Nathan.


Baik Devan maupun Amel langsung sigap ikut melihat foto tersebut di balik ponsel milik Wandi.


"Bagus sekali pak, terlihat sangat jelas! langsung saja kirim ke ponsel saya," antusias Nathan pula kemudian ia merogoh ponsel miliknya di saku celana.


Tak berapa lama foto tersebut masuk ke ponsel milik Nathan setelah di kirim oleh Wandi sehingga ia tersenyum lebar sebab itu akan memudahkan dirinya menangkap keduanya.


Drtt


Drttt


Sejenak ponsel Amel bergetar di saat dirinya lagi serius mendengarkan pembicaraan mereka lalu ia merogoh ponsel tersebut dan melihat ternyata ada panggilan dari ayahnya kemudian ia sekilas melirik ke arah samping ingin memastikan kalau tak ada yang memperhatikan dirinya jika pergi sebentar sehingga tak lama ia pun berdiri dari duduknya serta berjalan dengan menoleh sesekali ke belakang ternyata memang tidak ada yang sadar kalau dirinya sudah pergi, itulah fikirnya namun ia tetap mencari posisi aman untuk berbicara pada ayahnya.


Kini Amel sudah berada di balik sebuah pembatas tembok sehingga ia menekan tombol terima dan melekatkan ponsel tersebut ke arah telinganya.


"Halo, kenapa papa?" tanya Amel lewat ponselnya.


"Kau di mana Amelia? Apa kau tak ingat besok pagi kau sudah harus berangkat?" ucap ayahnya di sebrang.


"Huffhh! ya, aku ingat pa! lagian besok pagi, kan? saat ini aku sedang menolong seseorang jadi aku akan pulang malam," balas Amel yang tampak membuang nafas panjang.


"Kau juga belum membereskan barang-barangmu! papa tidak mau tahu kau harus segera pulang sekarang, jangan membantah!" tegas ayahnya lalu ia menutup panggilan tersebut.


"Hah! apa sih, kok jadi maksa aku harus pergi ke sana? Jadi kesal sama papa!" ia mengoceh sembari menjambak rambutnya sendiri sebab ia merasa jengkel.


"Kau mau ke mana?" tanya Devan seketika di balik tembok kini sudah terlihat bersandar di sebelah Amel tanpa ia sadari.


"Tak perlu tahu aku di sini sejak kapan! yang aku tanya kau mau pergi ke mana?" mengulang lagi dengan tampang serius yang tak pernah Amel lihat sebelumnya.


"Kepo!" ketus Amel yang sejenak tampak ingin berlalu pergi.


Zrapp


Yeap, tangan Amel kini di tahan oleh Devan sehingga Amel kaget sebab ia tak pernah merasakan aura dingin dari Devan namun kali ini sorotan mata Devan berbeda.


"Aku tidak suka jika pertanyaan ku belum di jawab dan kau se-enaknya pergi begitu saja," tangkas Devan dengan wajah marahnya.


"Ap... Apasih! kok kau jadi serius begitu? pftt!" kekehan Amel membuat Devan bertambah marah.


Brukk


Melotot lah mata Devan dan seketika Amel jadi terpelongo menatap Devan yang memukul tembok karena ia terkekeh sedari tadi sehingga Amel terdiam membisu seakan tak dapat membalas.


"Apa dengan begini aku sudah terlihat serius? sekarang kau katakan padaku kau mau pergi ke mana?" mengulang kesekian kali namun matanya masih melotot ke arah Amel.


Glupp


Amel seakan kehilangan pita suaranya setelah Devan berkata demikian.


"Iya, aku katakan! bisakah kau menjauh sedikit dari ku?" sanggah Amel pula sebab ia juga merasa aneh mengapa Devan bersikap seperti itu padanya.


"Oke, sekarang kau bisa katakan!" ucap Devan pula menuruti perkataan Amel dan kini ia pun sudah sedikit jauh dari Amel lalu ia mengatupkan kedua tangan di dada serta menunggu Amel berbicara.


"Begini Van besok pagi aku akan pergi ke Jerman," ungkapnya pula.


"Apa?!"


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Tak ada orang tua yang menyesatkan anaknya sebab yang ia fikirkan dengan apa yang sudah ia jalani dan kebanyakan orang tua tak ada yang ingin jika anaknya merasakan hal yang sama dengannya semisal dulunya ia hidup sengsara jadi kalau bisa ia tak ingin anaknya hidup sengsara sama seperti dirinya ❤️