Aku, Khanza

Aku, Khanza
Ketahuilah Peran Menantu...


...♡♡♡...


Depan parkiran rumah sakit.


"Tina, Chintya apa kalian mau masuk?" tanya Chelsea yang tampak sedang membuka salt beltnya dan menoleh ke belakang tempat duduk mereka.


"Tidak nyonya, kita di sini saja menunggu nyonya kembali dan lagipula kak Chintya basah begini ya kan kak?" tanya Tina sekilas melotot pula mata Chintya padanya. "Iya ampun kak karena aku terpaksa tidak ada jalan lain," ia pun mengatupkan semua jemari tangannya dan tampak memohon di depan Chintya.


"Sudahlah aku maafkan kau," turut Chintya demikian pula lalu ia melontarkan senyum kecil.


Chelsea melihatnya merasa lega karena mereka akur kembali. "Baiklah kalau begitu aku masuk dulu kalian tunggulah di sini."


Tak berapa lama Chelsea beranjak dari tempatnya keluar dari mobil hingga setelah ia di luar tampak sedang berlari kecil menuju area rumah sakit.


Grasak Grusuk


Tina sedang merogoh laptop yang sempat ia bawa sebelumnya dari kantor. "Kak, apa kakak kenal dengan wanita ini?" tanya Tina pula kemudian ia menyerahkan laptop meiliknya mengarah pada Chintya.


"Shopia? aku tak mengenalnya, apa yang ingin kau selidiki dari dia? balik bertanya pula sambil menatap terus ke arah laptop.


"Rina bekerja di perusahaan yang sama dengannya dan lihatlah wanita ini dulunya bekerja di perusahaan kita bahkan aku sudah mencari surat risegnnya tidak ku temukan aku sempat berfikir wanita ini di pecat namun aku masih penasaran karena apa dia di pecat," cakapnya pula sambil menatap ke arah luar kaca mobil dengan wajah yang ingin memecahkan rasa ingin tahunya itu.


"Coba aku minta situs yang ada di bawah datanya ini," imbuh Chintya lalu ia pun mengeluarkan ponsel miliknya setelah itu dia menyalin situs tadi ke dalam ponselnya.


"Untuk apa kak?" tanya Tina yang sudah melihat Chintya saat dirinya menyalin situs tersebut.


"Kalau aku mendapatkan data keluarganya aku akan memberi tahumu," kata Chintya lagi setelah itu ia matikan kembali layar ponselnya dan memasukkan ke saku jasnya pula.


Tina jadi makin pensaran sebab ia sudah mencari di situs yang tertera dan ternyata kosong begitulah pengakuannya pada Chintya namun itu membuat Chintya merasa jadi aneh kenapa ada situs yang tertera di dalamnya apalagi kosong makanya Chintya akan mencoba kembali dengan cara yang berbeda.


.


.


.


Kreekk


Pintu ruang inap Panji terbuka lebar.


"Yani, apa kalian berdua sudah membereskan semua barangnya?" tanya Chelsea ketika menegur mereka yang tampak sedang berberes.


"Sudah nyonya, semua barang telah kami bereskan tak ada yang tertinggal," turut keduanya dengan serentak.


"Baik nyonya kami tinggal dulu," patuh keduanya setelah itu Yeni memanggil Hardi di depan pintu kemudian masuklah keduanya serta dengan bersamaan mereka bertiga keluar dari ruangan dengan membawa seluruh barang.


Seusai mereka bertiga berlalu kemudian Chelsea berjalan lebih dekat ke arah mertuanya.


"Papa apa sudah baikan ingin minta pulang?" tanya Chelsea sesaat dia memegang sebelah pundak mertuanya dengan hangat.


"Aku tidak akan sembuh jika terus berada di sini lebih baik aku di kamarku sendiri supaya tubuhku tidak kaku," balasnya terdengar lirih.


Seketika Chelsea membuang nafas pelan dan melontarkan senyum tipisnya di saat ia mendengar keluhan dari sang mertua sambil ia mengelus perlahan pundak yang ia pegang sebelumnya. "Baiklah kalau begitu kita akan pulang sekarang, papa tunggu di sini karena aku ingin memanggil suster untuk meminta kursi roda pada mereka," imbuh Chelsea kemudian ia beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu namun Panji terdiam tanpa membalas perkataan dari menantunya.


Chelsea keluar dari pintu ruangan dan menutupnya kembali dengan rapat.


Dalam beberapa menit Chelsea sudah kembali sambil mendorong sebuah kursi roda untuk ia bawa masuk ke dalam ruangan dan ada pula kedua suster di belakangnya.


"Bantu saya sebentar untuk menaikkan papa ke sini," pinta Chelsea dengan ramah.


Lalu keduanya anggukkan kepala serta mereka juga saling bersamaan memegang lengan Panji secara erat.


Sementara Chelsea mendekatkan kursi roda tersebut ke arah Panji supaya lebih mudah. "Ayo pa pelan-pelan saja," sambut Chelsea yang tampak juga membantu mereka memegang Panji.


Terlihat Panji sudah terduduk di atas kursi roda dengan wajah yang terlihat banyak yang sedang ia fikirkan begitulah ketika Chelsea meliriknya sesekali.


"Terimakasih sudah membantu kalian boleh kembali," kata Chelsea melontarkan senyum ramahnya.


"Sama-sama nyonya, kami permisi dulu mari..."


Mereka bungkukan badan kemudian berjalan ke arah pintu yang masih terbuka lebar.


"Pa semuanya sudah aku bereskan biaya rumah sakit juga karena sebelum ke sini aku membereskan semuanya di administrasi," kata Chelsea memegang kedua pundak mertuanya.


Namun Panji hanya melontarkan senyum kecil tak ada membalas ucapan dari Chelsea akan tetapi Chelsea mengerti keadaan mertuanya itu karena sudah pasti sang mertua sedang sedih dengan keadaanya saat ini.


Tanpa berkata apapun lagi Chelsea mulai mendorong kursi rodanya ke arah pintu ruangan dan begitu penuh kehatiannya dia membawa sang mertua seakan kasih sayang Chelsea sudah seperti orangtua kandungnya sendiri sebab itu dia tak ingin suster yang membawa Panji turun.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Menantu yang baik sudah pasti karena mertuanya juga baik, akan tetapi banyak juga yang di luar sana masih berbanding terbalik dengan kenyataan yang pasti sebagai menantu harus selalu menghormati walaupun sering berselisih paham sebab wanita yang hebat sudah pasti dia dapat menyelesaikan jalan keluarnya ❤️