Aku, Khanza

Aku, Khanza
Peran Panji Yang Hebat


...♡♡♡...


Ruang rias modeling.


Panji yang baru saja tiba ingin memasuki ruang rias tetapi dia sudah melihat pintu ruangan tersebut terbuka lebar bahkan dia sempat mendengar jelas suara keras dari cucunya yang terdengar sedang mengamuk.


"Ada apa ini? kenapa denganmu Nathan?" tanya kakeknya yang baru saja masuk melewati pintu dan di ikuti Genji di belakangnya.


Glup


Hardi hanya terdiam dan menelan air liurnya sampai ke tenggorokan melihat amukan dari bos mudanya itu apalagi dia sempat menyaksikan sedari dekat ketika Nathan menghantam dinding memakai kepalan tangannya sendiri sesaat Hardi melirik Nathan yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaan dari kakeknya lalu Hardi menoleh pada Panji yang sudah kian menatap padanya kemudian Hardi langsung tertunduk tak berani buka suara.


"Papa masuklah dulu," ucap David membuka suara saat suasana hening menyapa.


Panji hanya melirik Nathan yang terdiam saja tanpa menyahut sapaan darinya bahkan Panji juga melihat tangan cucunya berdarah akibat menghantam dinding dengan keras namun dia tak ingin bertanya lebih lanjut karena wajah Nathan sudah tidak enak untuk di ajak bicara.


Ketika Panji berjalan ke arah dalam ruangan ia melihat ketiga karyawannya sudah dalam keadaan terikat dan leher mereka di lilitkan secara bersama.


"Ya tuhan Yuli, Tiara, dan Putri ada apa dengan mereka? kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Panji pula yang sangat terkejut dan tak menduga dengan apa yang di lihatnya.


Kemudian Panji memeriksa nafas dari Yuli dengan menjarakkan antara jemarinya dengan hidung Yuli dan ia pun terkejut kalau ketiga karyawannya sudah tewas di tempat.


Genji hanya menganga saat menyaksikan apa yang di lihatnya sekarang bahkan dia sempat berfikir kalau ketiga orang tersebut di bunuh oleh keluarga Panji sendiri tetapi dia tak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat makanya dia hanya terdiam ikut mendengar kronologi kejadian sebenarnya.


"Kami juga tidak tahu kenapa bisa terjadi hal seperti ini pada mereka, kami juga baru saja tiba di ruangan sudah melihat kondisi mereka membiru serta dingin," jawab David sesaat dia berjalan ke arah ayahnya dan menempelkan telapak tangannya di atas sebelah pundak kanan sang ayah. "Pa semua bukti tidak ada yang berhasil kami temukan, pelaku itu sangat rapi dalam aksinya dia menghilangkan semua jejak bahkan cctv kamera mereka hancurkan dan lihatlah semua bajuku yang papa desain sudah rusak di tangan pelaku itu," ungkap David lagi dengan menjabarkan serta menunjuk ke arah baju yang sudah berserakan di lantai bagai barang tak berharga lagi padahal itu baju yang akan di keluarkan oleh Panji karena David belum memakainya untuk launching produk baru perusahaan mereka.


Genji masih terlihat bingung apa sebenarnya motif dari pelaku itu dengan mengambil ketiga nyawa karyawan Panji, itulah pikirnya dalam benak.


AAAHHH


Pukulan keras berulang sekali lagi karena Nathan masih saja menghantam dinding dengan tangannya yang sudah keluar darah.


Kemudian Chelsea berlari ke arah Nathan karena sudah tidak tahan lagi melihat anaknya yang menyakiti diri sendiri. "Sudah nathan! kau jangan terus begini, lihatlah lukamu semakin lebar, ada apa dengan mu?" tanya ibunya yang terlihat menautkan kedua alis mata tampak pula ia memegang kuat tangan Nathan supaya Nathan tidak berbuat hal nekat lagi.


Nathan langsung menepis tangan ibunya secepat mungkin.


Sementara itu Panji berjalan ke arah Nathan yang sudah saatnya dia untuk menghentikan amukan cucunya itu.


Panji meraih dagu Nathan dengan menatap kedua mata Nathan secara tegas. "Bilang pada kakek, apa yang kau sesalkan sehingga kau rela menyakiti dirimu sendiri?" tanya sang kakek yang sudah di tatap oleh Nathan pula.


Lalu Nathan menempelkan bekas luka bercampur darah di dinding dengan kepalan tangannya yang tampak begitu kuat. "Aku bodoh kek, kenapa aku sampai tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas apalagi waiters itu aku yakin merekalah pembunuh yang sebenarnya," ungkap Nathan terdengar lirih sekali. "Aku payah sekali kek, aku tak bisa memberi keadilan pada mereka karena kita tidak punya bukti apapun," timpalnya lagi yang terdengar jelas kalau ia juga kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat banyak.


Setelah mendengar keluhan dari cucunya itu Panji pun meraih kepala Nathan untuk menenangkan walau ia harus berusaha lebih banyak lagi. "Ini bukan kesalahan mu, jadi kau tak perlu sampai menyakiti diri mu sendiri," kata sang kakek yang terus mengelus kepala Nathan berharap cucunya bisa sedikit mengontrol emosinya.


Namun Nathan hanya terdiam dan mendongak ke arah atas sesaat dia melihat cctv terpampang jelas di dekat bagian pintu lalu ia melebarkan matanya dan menoleh pada kakeknya seketika.


"Kek, itu ada kamera satu lagi yang masih utuh," tunjuk Nathan pula terdengar sedikit senang ketika melihat sebuah kamera yang masih lengket.


Semua yang ada di ruangan itupun mengikuti arah telunjuk dari Nathan dan David tak menduga kalau dalam ruangan memiliki 2 kamera. "Ya kau benar! sekarang kita ada bukti untuk di serahkan pada pihak polisi dan biar mereka yang menjalankan tugasnya," turut sang kakek pula anggukkan kepala dan sesaat dia mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi kantor polisi menangani kasus ketiga karyawannya.


Setelah Panji selesai mengubungi kantor polisi ia berjalan ke arah Genji yang sudah menyaksikan kejadian itu. "Genji, maafkan aku karena kau ikut menyaksikan hal seperti ini," ucap Panji sesaat memegang sebelah pundak Genji.


"Tidak masalah tuan kalau begitu saya pamit dulu karena masih ada urusan yang harus saya kerjakan," sambut hangat dari Genji yang tersenyum ramah membalas ucapan dari Panji. "Tuan yang sabar dan serahkan saja semuanya pada polisi," lanjut Genji lagi sambil menoleh ke arah ketiga karyawan Panji.


"Terima kasih Genji, apa kau mau ku antar sampai ke luar?" tanya Panji memberi senyum di wajahnya.


"Tidak perlu tuan karena tuan masih ada urusan yang lebih penting dan saya juga terburu-buru sekarang," katanya pula yang menolak perlahan tawaran dari Panji.


"Ya sudah kalau begitu, kau berhati-hatilah di jalan," balas Panji menepuk pelan berulang kali pundak Genji.


"Saya pamit dulu tuan, semuanya," sapa Genji terlihat bungkuk karena ingin deluan pergi dari ruangan.


Mereka semua pun menyahut dengan serentak membalas anggukan kepala dari Genji.


Akan tetapi Nathan tidak membalas sapaan dari Genji kemudian saat Genji tersenyum ramah padanya Nathan malah menatap saja di saat Genji keluar pun ia menoleh pada Nathan melirik dari samping dan begitupula dengan Nathan yang masih terus melihat Genji sampai ke pintu keluar.


Nathan itu sangat mudah mengenali gelagat orang lain dan jika dia tidak suka maka dia hanya diam seperti sikapnya saat ini terhadap Genji.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


Selanjutnya....


TETAP NANTIKAN KESERUAN LAINNYA😁