Aku, Khanza

Aku, Khanza
Aura Dingin Yang Membuat Tak Berkutik?


...โ™กโ™กโ™ก...


Kantor polisi.


Tampak Nathan serta David duduk di sebuah bangku panjang bersama Genji yang sudah menunggu kedatangan David di kantor polisi sedari tadi karena kasus yang menimpa Panji sampai masuk rumah sakit.


"Bagaimana keadaan tuan Panji sekarang? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Genji yang sesekali melirik ke arah Nathan yang tak sedikitpun menoleh padanya dan hanya menatap ke depan saja.


"Papa masih di UGD belum dapat di pastikan apa yang terjadi dengan papa karena aku sudah lebih dulu ke sini makanya aku tidak tahu keadaan papa sekarang," perjelasnya pula bahkan tampak rasa sedih terpampang jelas di wajahnya itu.


"Semoga tidak terjadi hal buruk pada tuan Panji," turutnya pula yang tampak juga merasakan kesedihan dari raut wajah David. "Ohiya, apakah ini anak anda tuan?" lanjut Genji dengan sengaja bertanya pada David sambil menoleh pada Nathan yang masih tidak ada respon.


"Ya, dia anak tunggal ku."


David berkata demikian lalu menyikut pelan siku lengan Nathan supaya menyahut pertanyaan dari Genji tetapi Nathan masih enggan berbicara karena merasa sedih dengan keadaan kakeknya sekarang. "Ayo sahut kalau di tanya harus menjawab jangan diam saja," timpal ayahnya pula menoleh pada anaknya yang terlihat masih enggan buka suara.


Lalu Nathan menarik nafas pelan serta berusaha berbicara walau terpaksa. "Namaku Nathan Austin jadi panggil saja aku Nathan," katanya sambil menoleh ke arah Genji kemudian ia kembali mengalihkan wajahnya seketika membuat Genji menyimpulkan senyum tipis di balik pinggir bibirnya itu.


"Nama yang sangat bagus kau juga anak yang sangat tampan," cakap Genji pula yang semakin penasaran dengan Nathan sehingga dia berniat untuk mendekatkan dirinya pada Nathan.


"Terima kasih atas pujiannya," turut Nathan namun tak menoleh pada Genji, ia berusaha bersikap santai padahal hatinya cemas memikirkan keadaan kakeknya.


Genji hanya menatap Nathan sedari samping bahkan Genji melihat sorot mata Nathan di penuhi rasa kecemasan akan tetapi Nathan mampu menutupi rasa cemas itu dengan sikap dinginnya seakan membuat orang lain menjadi semakin penasaran karena orang yang terlihat cuek itu sebenarnya memiliki sisi misterius sehingga menarik perhatian orang lain itulah yang di rasakan oleh Genji walau terhitung beberapa detik berbincang dengan Nathan apalagi mereka duduk saling dekat meskipun di batasi oleh David di tengah mereka.


"Apa kalian keluarga korban dari kasus penyiraman air keras di restoran?" sapa petugas seketika muncul membuat mereka bertiga berdiri sejenak.


"Benar pak, kami keluarga yang melaporkan tersangka karena sudah mencelakai ayah saya," sahut David pula terdengar lirih.


"Baiklah kalian ikuti saya, mari kita ke arah sini," ajaknya dengan berjalan lebih dulu lalu mereka mengikuti langkah petugas tadi.


Tidak berapa lama sampailah mereka ke sebuah ruangan tertutup dan di dalamnya sudah tersedia meja serta bangku apalagi tampak pelayan yang mereka laporkan juga duduk dengan keadaan sudah babak belur kemudian kedua tangan di borgol karena berusaha nekat kabur dari sel akhirnya ia di serang oleh ketua tahanan sel yang sudah lama mendekam di penjara.


Mereka bertiga terus melangkah sampai mendekati ke arah pelayan tersebut.


"Silahkan bertanya pada pelaku apa motifnya untuk mencelakai ayah anda karena kami sudah mencoba minta kejelasan darinya namun dia masih saja tidak mau membuka suara," ungkap petugas itu dari samping menatap si pelayan tersebut.


"Siapa nama mu nak?" tanya Genji pula bersuara terlebih dulu.


Akan tetapi pelayan tersebut belum juga menjawab hampir beberapa menit mereka menunggu ia hanya tunduk tanpa menatap mereka semua.


Kalau sudah babak belur begini aku susah menandainya, ya Tuhan bagaimana caraku untuk mengingat wajahnya yang sebelumnya? bathin Nathan pula menatap tajam ke arah pelayan itu sambil mengelus pundak lehernya berulang kali.


"Tegakkan kepalamu nona, aku mau bertanya padamu?" kata David bernada sedikit tinggi pada pelayan tersebut. "Aku bisa mengeluarkan mu dari sini asal kau katakan apa tujuan mu dan kenapa kau mencelakai orangtua ku?"


Namun si pelayan masih enggan menegakkan kepalanya lalu seketika dia melebarkan senyumnya hingga menegakkan kepala menatap David tajam. "Cuih, aku tidak sudi di keluarkan olehmu! karena aku sangat membencinya aku akan membunuhnya!" teriak pelayan itu pula secara menantang.


Secepat mungkin Nathan melangkah dan meremas kerah baju pelayan tersebut secara kuat karena lontarannya tadi Nathan tampak murka tak bisa mengendalikan emosinya.


"Nathan lepaskan dia!" sergah ayahnya yang kian bangkit melihat reaksi dari anaknya itu.


Petugas itu pun ingin mencegah tapi karena Nathan mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat untuk tidak mendekatinya saat ini makanya ia mengurungkan niatnya. "Aku tidak akan mengotori tanganku, jadi kalian tetap di situ aku ingin berbicara padanya kalau aku mau mungkin aku sudah meninjunya sedari tadi," timpal Nathan pula yang masih tampak meremas kuat kerah baju si pelayan.


"Hei nona, aku tidak pernah kasar pada wanita tetapi kalau kau memancingku aku tidak akan segan membuat hidupmu menderita!" lontaran Nathan tepat di hadapan si pelayan yang seolah merasakan hawa kemarahan dari sorot mata Nathan. "Tadi kau bilang apa barusan? membenci kakek ku dan ingin membunuhnya? kau harus langkahi dulu mayatku barulah kau bisa membunuh kakek ku, apa kau paham nona?" kelakar Nathan yang terdengar semakin geram karena pelayan tersebut membuatnya marah.


"Aku tidak takut pada siapapun termasuk kau anak muda yang hanya bisa mengancam ku!" teriaknya pula padahal dia sudah ketakutan namun masih tetap tenang berkata demikian.


Tentu saja Nathan mendengarnya bertambah geram bahkan ia tunduk lalu tersenyum tipis di balik wajahnya itu sehingga tampak terlihat menakutkan ketika mata menatapnya dari dekat.


Kemudian beberap saat Nathan mendekatkan mulutnya ke arah telinga si pelayan itu. "Apa kau perlu bukti nona?" bisikan itu terasa dingin yang di rasakan pelayan tersebut bahkan lebih dingin saat berada di daerah salju sehingga dari bisikan itu membuat si pelayan tidak berkutik.


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


NANTIKAN TERUS YA... ๐Ÿ˜˜