Aku, Khanza

Aku, Khanza
Tetesan Air Mata Ratih?


...♡♡♡...


"Aaaakk, ayo buka mulutnya sayang... Tangan ibuk sudah mulai pegal nih," ucap Ratih lagi dengan mengulang berulang kali perkataannya itu sebab Zizi merasa terheran dengan sikap manis yang tampak di wajah Ratih seolah ia masih tak percaya dengan yang di lakukan oleh Ratih terhadapnya.


Sang suami dari Ratih juga merasa terharu dengan perubahan sikap istrinya itu sehingga ia menghela nafas pelan serta tersenyum tipis menatap lurus ke arah istrinya.


Dalam sejenak Zizi melirik ke arah kakaknya sebab ia merasa bingung harus bagaimana membalas keramahan dari Ratih makanya sang kakak anggukan kepala dengan meminta Zizi menerima kebaikan dari Ratih karena sebelumnya juga Ratih begitu perhatian terhadap dirinya dan setelah Zizi mengerti dari isyarat yang di berikan kakaknya itu lalu ia membuka mulutnya perlahan sehingga sesuap soto telah masuk ke dalam mulut Zizi.


"Mmm, anak pinter! bagaimana? rasa sotonya enak tidak?" tanya Ratih pula penuh keriuhan sebab ia jadi merasa senang ketika Zizi sedikit menerima dirinya.


Ketika pertanyaan itu terlontar Zizi pun langsung anggukkan kepala serta tersenyum riang sebab baru kali ini ia bisa menikmati makanan se-lezat itu sedari ia di campakkan keluar oleh Kino bahkan Taro pun ikut senang di saat Zizi dengan semangatnya memakan soto tersebut.


"Pelan-pelan makannya Taro awas kau tersedak," pesan dari mulut Khanza seketika sebab ia melihat Taro begitu riang dengan menatap ke arah Zizi.


Yeap, suasana menjadi terasa hangat ketika Ratih hadir kembali dengan perubahan yang terasa sangat tidak nyata itu bahkan membuat Khanza merasa kalau ini sebuah mimpi ketika ia tertidur padahal semuanya memang telah nyata adanya.


Mereka begitu sangat menikmati makanan tersebut sampai menghabiskan waktu setengah hari sehingga membuat Khanza tersadar kalau dirinya telah melewatkan waktu untuk berjualan koran.


"Ohya Khanza, kalian sekarang tinggal di mana? dan kenapa kalian membawa koran?" tanya Ratih membuka suara pula terlebih dulu setelah mereka menghabiskan makanannya sebab ia bertanya begitu karena sebelumnya ia melihat Taro meletakkan koran di bawah meja makan mereka.


"Kami tinggal di sebuah gubuk yang sudah di sediakan oleh bang Dani buk," jawab Khanza nada rendah.


"Siapa bang Dani?" tanya Ratih lagi menumpukan dagunya di kepalan tangannya tersebut menatap serius ke arah Khanza.


"Bang Dani orang yang sudah memberikan kami koran untuk di jual buk, makanya kami juga sekaligus tinggal di gubuk yang sudah ia siapkan dan bukan hanya kami saja masih ada orang-orang yang berkumpul di dalam gubuknya," ungkap Khanza dengan wajah penuh kehangatan itu.


"Kalian tinggal di gubuk?" rasa tak percaya Ratih kini terlihat jelas di wajahnya bahkan ia melirik ke arah sang suami maka dari itu suaminya anggukan kepala sebab ia memberi izin apa saja yang ingin di lakukan oleh istrinya tersebut sama halnya dengan persetujuan darinya juga.


"Memangnya kenapa buk? kami juga sudah terbiasa hidup di jalanan dan bukan menjadi kali pertama kami untuk tinggal di dalam sebuah gubuk asal kami bisa mencari uang yang halal supaya makanan yang masuk ke dalam perut kami juga menjadi berkah," balas Khanza dengan bijak pula sehingga sorot mata Ratih terlihat sendu menatap lurus ke arah Khanza seolah ia merasa tak sanggup mendengar pengakuan Khanza tersebut.


Greepp


Ratih kini menangkap kedua punggung tangan Khanza dengan penuh kehangatan serta tampak pula wajahnya yang sudah teramat sedih ketika mendengar ucapan Khanza barusan membuat hatinya terasa begitu menyakitkan sebab ia yang memiliki seorang anak saja tak pernah ia biarkan menderita bahkan tak terbayang olehnya jika anak seusia Khanza juga Zizi harus hidup di jalanan yang sudah jelas penuh kekejaman ini, begitulah pemikiran Ratih ketika ia terdiam menatap ke arah Khanza.


"Nak, maukah kalian tinggal bersama ibuk saja? mau, kan?" lontaran pertanyaan dari Ratih melebarkan kedua mata Khanza sejenak bahkan Zizi, Taro juga suaminya ikut mendengarkan perbincangan mereka yang penuh keharuan itu.


Seketika sentuhan di tangan Khanza ia lepaskan begitu saja lalu ia mengarah pada suaminya dengan memegang sebelah lengan suaminya itu.


"Pa, bilang pada Khanza kalau papa sama sekali tidak merasa di repotkan! ayo pa bilang," antusias istrinya pula serta ia menggoyangkan lengan suaminya dengan sedikit nada memaksa.


"Iya ma, sabar... Papa akan meyakini Khanza dulu jadi mama harus tetap sabar jangan terburu-buru begini," seru suaminya berkata demikian sehingga istrinya terdiam dan tertunduk lesu karena Khanza sudah menolak tawaran darinya.


Kini pak Yudi mencoba memegang punggung tangan Khanza juga sama halnya yang di lakukan oleh sang istri sebelumnya namun lagi-lagi jawaban Khanza tetaplah sama.


Maafkan Khanza buk, pak! Khanza menolak karena Khanza tak ingin menjadi beban kalian jadi biarlah Khanza berusaha sendiri lagipula Khanza tak ingin kehangatan ini menjadi berubah setelah kita tinggal bersama maka itu Khanza ingin menjaga hubungan baik dengan kalian! batin Khanza berkata demikian sembari ia melirik keduanya sudah menampakkan raut wajah yang sedih.


Suasana berubah menjadi hening ketika Ratih sempat meneteskan air matanya namun ia memalingkan wajah supaya Khanza dan yang lainnya tidak menyadari air matanya itu.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan Khanza sebab ibuk tak bisa terus memaksa Khanza harus tinggal bersama ibuk tapi Khanza harus ingat, kalau pintu rumah ibuk akan selalu terbuka untuk kalian! apa kau paham nak?" katanya lagi seusai dirinya merasa tenang setelah itu ia terus mengelus pipi Khanza dengan senyuman tipis penuh ketulusan itu terlihat jelas sekali.


Pak Yudi juga tak mungkin memaksa Khanza sebab ia sudah melihat sorot mata Khanza yang penuh tekad itu namun pak Yudi juga bertekad untuk menjaga Khanza dan yang lainnya dari jauh, itulah benak yang sekilas ada di hati pak Yudi.


"Terima kasih buk sudah menerima keputusan Khanza ini dan kalian juga harus berjanji pada Khanza untuk selalu menjaga kesehatan walau sesibuk apapun pekerjaan bapak dan ibuk," ucapan itu membuat Ratih ingin mendekap tubuh Khanza namun sayang meja menjadi penghalang dirinya juga Khanza maka itu dia hanya memberi kehangatan lewat sentuhan di kepala Khanza.


"Iya sayang... Apapun pesan dari mu akan selalu kami ingat," balasnya secara lembut. "Benar kan, pa?" lanjut sang istri ketika ia menoleh ke arah samping sembari tersenyum simpul pada sang suami.


Sang suami hanya anggukan kepala saja serta membalas senyuman pula.


Tak berapa lama sentuhan itu terlepas lalu Khanza menatap ke arah Zizi juga Taro.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Tidak semua orang yang bisa melewati pahitnya kehidupan namun tahu kah kau jika setiap kesulitan yang kau hadapi akan selalu ada rezeki yang terus mengejar dirimu, pahamilah itu! ❤️