Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kejahilan Tina...


...โ™กโ™กโ™ก...


Usai keluar dari kamar Panji kemudian langkah Chelsea menuju dapur bermaksud ingin mengatakan pada koki supaya memasak bubur serta sop daging untuk mertuanya itu sedangkan untuk yang lain bisa makanan apa saja asal di tambahkan menunya karena dia sedang ada tamu, begitulah pesannya pada koki dapur.


Setelah dari dapur lalu dia meminta pengurus rumah untuk membawa Tina juga Chintya ke kamar tamu supaya bisa beristirahat sebelum masakan di siapkan lalu ia pun berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil pakaian ganti buat Chintya.


Tampak Chelsea menuju kamar tamu sambil membawa pakaian ganti untuk Chintya.


Di saat Chelsea berada di depan pintu kamar tamu ia mendengar obrolan mereka berdua dari arah luar lalu ia pun mengetuk pintu tersebut berulang kali sambil memanggil keduanya.


Kreekk


Pintu pun di buka oleh Tina dengan cepat. "Apa aku mengganggu kalian?" tanya Chelsea sambil seloroh.


"Tidak nyonya silahkan masuk," sahut Tina dengan ramah pula.


Karena Tina sudah menyambutnya kemudian Chelsea berjalan masuk ke dalam lalu Tina menutup kembali pintu kamar dengan rapat.


"Chintya nah baju ganti mu," kata Chelsea sambil memberikan sepasang baju baru yang belum dia pakai pada Chintya.


"Terimakasih banyak nyonya maaf karena sudah merepotkan," turut Chintya tersenyum kecil lalu ia menyambut baju itu bahkan matanya langsung berbinar melihat model baju tersebut ternyata merek yang sekarang lagi booming juga sedang tren. "Eh nyonya, bukankah ini baju yang mahal itu?" lanjutnya pula melebarkan mata saat melihat baju yang ingin dia beli sekarang ada di tangannya.


"Ya benar jadi pakailah cepat nanti kau bisa sakit mengenakan baju basah begitu dari tadi," saran yang terdengar sedikit memaksa itu membuat Chintya jadi sadar kalau bosnya itu memang sangat baik bahkan ia memberikan bajunya untuk karyawannya yang di katakan bukan saudara kandung. "Chin, kenapa masih bengong? cepatlah ganti," lanjut Chelsea lagi membuyarkan lamunan Chintya.


Secara sigap Chintya melangkah ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah dan setelah ia di dalam secara jelas ia mencium wangi bunga kesturi yang membuatnya merasa nyaman di saat mencium parfum yang di pakai oleh Chelsea sama persis dengan wangi sabun cair yang sudah tersedia di bagian bathub.


Yeap Chintya jadi tidak sadar sudah menghabiskan waktu 20 menit di dalam kamar mandi karena wangi itu tadi membuatnya enggan keluar.


Beberapa saat dia pun akhirnya keluar terlihat sudah mengenakan baju yang di berikan Chelsea padanya ternyata ukuran tubuh Chelsea hampir sama dengannya.


"Wah kak, kau cantik sekali dengan pakaian itu," riuh Tina tak menduga kalau baju yang di kenakan oleh Chintya terlihat pas.


"Kau terlalu memujiku," balas Chintya dengan wajah yang memerah akibat pujian dari Tina barusan.


Sejenak Tina mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya sambil membuka layar ponselnya entah apa yang ingin di lakukan oleh Tina sehingga Chintya dengan pedenya sudah mengangkat sebelah tangannya tepat di panggul.


"Kakak kenapa? kok terlihat sedang bergaya?" tanya Tina menaikkan satu alis matanya.


"Bukankah kau ingin memfoto ku?" balik bertanya pula seolah dia sudah kepedean sejak tadi.


"Yang mau memoto kakak siapa? aku sedang melihat perbedaan kakak sedang tertidur sama yang saat ini ku lihat sungguh sangat jauh berbeda," celotehnya pula sambil menunjukkan layar ponsel miliknya ke arah Chintya bahkan Chelsea sempat menahan tawanya sekilas ketika melihat foto Chintya entah sejak kapan Tina memotretnya apalagi jelas sekali mulut Chintya ternganga di foto itu.


Kini Chintya mulai panas ketika menatap foto dirinya ada di ponsel Tina bahkan keluar asap dari kedua telinganya sangking geramnya pada Tina yang sudah menyimpan foto dirinya di saat tidur.


"Tinaaaaa..."


Teriak Chintya dengan kerasnya kemudian ia pun mengejar Tina yang sudah berlari deluan saat Chintya menjatuhkan paper bag yang berisi baju basah terlepas dari tangannya sebab ia mengejar Tina dengan wajah kesal.


"Haduuuh! mulai lagi mereka kejaran-kejaran seperti kucing berebut tulang ikan," gumam Chelsea pula bahkan berulang kali dia memijat dahinya sendiri sambil melihat ke arah mereka yang saling mengejar.


"Jangan kak, iPhone edisi ini sudah tidak ada lagi dan tak pernah lagi ku dapatkan kamera sebagus ini," balasnya dengan teriak namun tetap menghindar dari Chintya.


"Aku tak peduli, karena kau jahil memfoto ku yang kacau balau begitu, sini kau akan ku hancurkan ponsel mu itu!" teriaknya lagi sambil terus mengejar Tina sampai dia balaskan kekesalannya itu.


"Iya... Ampun kak jangan kejar lagi, aku capek!" tampak Tina mengatur nafasnya karena sesak di kejar terus oleh Chintya.


Prok Prokk


Tepukan keras dari kedua tangan Chelsea membuat keduanya berhenti seketika. "Apa kalian sudah selesai? tidak ada habisnya kejaran dari kantor tadi," lontar Chelsea terlihat mengatupkan kedua tangan di dada menatap ke arah mereka.


"Tina membuat saya kesal nyonya," keluh Chintya dengan menunjuk ke arah Tina hingga menautkan kedua alis matanya.


"Maaf kak," turut Tina tampak mengerutkan wajahnya.


"Tina sekarang hapuslah foto Chintya dari ponselmu, apa kau ingin ponsel mu hancur di buat oleh Chintya?" memberikan saran pada Tina supaya mendengarkan dirinya.


"Baik nyonya akan saya hapus segera," katanya dengan cepat ia menekan delete dari galeri ponselnya. "Nah kakak lihat sudah tidak ada lagi," lanjutnya lagi sambil mengarahkan galeri album di ponselnya itu.


"Baguslah, awas kau ya jika kau menyalinnya ke tempat lain," cerocos Chintya pula berkata demikian.


"Tidak kak... Aku benar sudah menghapusnya," meyakini sekali lagi lalu ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil miliknya sambil melirik Chintya yang merapikan rambutnya karena habis mengejar Tina jadinya berantakan.


"Sudah kelar, kan?" tanya Chelsea yang tampak bergeleng kepala melihat keduanya yang paling suka saling mengejar satu sama lain.


"Sudah nyonya," senyum kecil Tina mengarah pada Chelsea.


Tok Tok


"Nyonya makan siang sudah siap," sapa dari pengurus rumah dengan mengetuk pintu berulang kali sambil berkata demikian.


"Baiklah saya akan keluar," sahut Chelsea dari dalam.


Tak berapa lama pengurus rumah itupun berlalu pergi ketika mendengar suara Chelsea dari dalam.


"Yuk sudah waktunya makan," ajak Chelsea kemudian ia melangkah sambil menatap ke arah Tina. "Kau bereskan rambutmu itu terlihat sedikit berantakan," tunjuk Chelsea pula pada Tina sesaat lalu ia melenggang kembali.


"Oh iya nyonya," turut Tina pula lalu ia merapikan dengan cepat rambutnya itu setelah beres ia berjalan menyusul mereka dari belakang serta menutup kembali pintu kamar.


"Hufhh untung saja ponselku tidak jadi di hancurkan," gumamnya pula sambil mengelus dada berulang kali.


Chintya pun bergeleng kepala mendengar ucapan Tina itu walau samar.


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


NANTIKAN TERUS CERITA AKU KHANZA