Aku, Khanza

Aku, Khanza
Hembusan Nafas Terakhir


...โ™กโ™กโ™ก...


Perebutan saling tarik menarik pun terjadi antara Guntur juga nek Raya, di saat kejadian itu tidak ada satu orang pun melewati jalan yang di lalui oleh Zizi dan nek Raya sebelumnya makanya Zizi tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi lantaran jalan itu juga biasanya memang sepi, namanya juga jalan potong sudah pasti tidak banyak orang yang melewati jalan itu dan dirinya hanya bisa terdiam seakan ingin menjerit saja karena sudah mulai menahan rasa sakit dari pergelangan tangannya itu.


"Kau lepaskan tangan anak ini! tidak kah kau memiliki hati nurani terhadap anak kecil? kau pergi cari yang lain sesuai keinginan mu! tapi tidak anak ini," teriak ibunya pula semakin berusaha menahan tangan Zizi supaya tak terlepas darinya.


"Berani sekali kau memerintahku nenek tua?!" hardik Guntur dengan bernada keras sekali.


Tangan nek Raya mulai tampak gemetaran karena merasa sudah tak kuat lagi tuk menahan tarikan dari anaknya itu.


Karena sudah begitu banyak membuang waktu akhirnya nek Raya di tendang memakai kaki panjang dari Guntur.


Bughh


Nek Raya terhempas jauh karena tendangan keras dari Guntur.


"Neneeeekk."


Jeritan keras dari Zizi pecah ketika itu apalagi dia juga melihat nek Raya terlentang sampai mengeluarkan darah dari hidung serta kepalanya.


"Dasar om jahat! nenek terluka karena om. aku tidak mau ikut sama om!" teriak Zizi sekuat tenaganya berharap ada yang menolong dirinya juga nek Raya yang sudah tak sadarkan diri.


"Sudah biarkan saja dia! kau nurut, atau tidak kau akan berakhir sama seperti nenek tua itu!" bentaknya dengan berkata santai seolah perbuatannya itu di anggap biasa saja.


"Tidak, aku tidak mau ikut! aku mau menolong nenek, lepaskan aku! neneeeekk maafkan Zizi nek..."


Mulai berlinang lah air mata Zizi menjerit memanggil nama nek Raya, bahkan ia menggeliat saat di gendong paksa oleh Guntur.


"Woi, siapa di sana?!" teriak dari salah satu warga yang tampak sedang membawa cangkul.


"Ah sial?!"


"Mmh, mmh."


Zizi di dekap oleh telapak tangan Guntur supaya tidak bersuara lagi, ia juga bersembunyi di balik pohon besar sambil terus membungkam mulut Zizi.


Orang tadi berlari dengan cepat menghampiri nek Raya yang sudah terbujur lemas tak berdaya lagi, alangkah terkejutnya orang itu melihat kondisi nek Raya yang tampak terus mengeluarkan darah dari hidung serta kepalanya akibat benturan keras pohon besar yang menghantam dirinya.


Dari balik pohon Zizi terus menggeliat berusaha sekuat tenaga supaya bisa lolos dari dekapan kuat tangan Guntur hingga ia mencoba membuka mulutnya serta menggigit salah satu jemari tangan Guntur.


Aaaaaaaa


Guntur merasa kesakitan akhirnya dia berteriak karena gigitan Zizi memakai giginya yang runcing dan tak lupa juga Zizi meraih batu berukuran sedang untuk senjatanya.


"Woi, ternyata kau rupanya! aku sudah menduga pasti kau yang tega berbuat begini, kejam kau terhadap ibu mu sendiri Guntuuurr kali ini aku tidak lagi berbelas kasihan pada kau manusia bejat!" amuk warga yang membawa cangkul itu terdengar sangat geram sekali melihat perilaku Guntur yang sudah bukan perbuatan manusia lagi.


"Sini kau!" ia kembali menarik lengan Zizi secara keras..


Paaakkhh


Zizi sedikit melompat dan langsung menimpuk bagian wajah Guntur menggunakan batu yang dia ambil sebelumnya tanpa di ketahui oleh Guntur.


Muncratlah darah dari pelipis matanya akibat pukulan keras batu tadi.


"Dasar anak sialan!" berang Guntur sudah tampak murka.


Akan tetapi Zizi sudah kian berlari secepat mungkin menjauhi Guntur supaya dirinya tidak tertangkap kembali.


Sampainya Zizi mendekat pada nek Raya membuat kesal serta jengkel dari Guntur karena kali ini dia bisa di kalahkan oleh seorang bocah kecil.


"Kau tidak akan bisa kabur Guntur! karena polisi telah mencari keberadaan markas yang selama ini kau sembunyikan itu, jadi kau mau lari kemana lagi? majulah kalau kau berani padaku!" tantang lelaki barusan terdengar berani sekali sambil mengarahkan cangkulnya ke depan yang bisa langsung menghantam tubuh Guntur walau hanya dengan sekali pukulan saja.


Tetapi karena Guntur tidak membawa senapan makanya dia coba mundur terlebih dulu tak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan dirinya.


"Kali ini aku tak ingin berurusan dengan mu bedebah! dan kau anak kecil, aku akan membunuhmu sampai aku mendapatkan mu kembali," ucapnya pula sambil menahan darah yang terus keluar dari wajahnya.


Meskipun ancaman itu terdengar jelas di telinga Zizi sama sekali ia tak merasa takut lagi, makanya dia hanya menatap Guntur dari jarak jauh saja sampai Guntur melangkah pergi dalam suasana hati yang amat jengkel.


Guntur berlari lebih cepat karena ia mengingat perkataan yang terlontar dari mulut lelaki barusan bahwa markasnya sudah di ketahui oleh polisi, langkahnya semakin cepat sambil mencaci maki Zizi serta lelaki yang mengancamnya barusan tiada hentinya.


Setelah Guntur berlalu pergi Zizi langsung melangkah mendekati nek Raya dengan berjongkok dan di ikuti lelaki tadi pula.


"Nak, apa kau ada yang terluka?" tanya lelaki itu menatap Zizi dari jarak dekat.


"Aku baik-baik saja om, tapi nenek..."


Zizi tampak sangat sedih sambil menatap wajah lelaki tadi.


Lelaki tersebut menyingkirkan cangkulnya dan langsung meraih pergelangan tangan nek Raya serta memeriksa pernafasan dari hidung, tak lupa juga ia menekan jantung nek Raya yang sudah sedikit melemah saat ia memeriksa detak jantungnya.


"Ada apa om?" tanya Zizi mulai panik dengan ekspresi yang terlontar dari balik wajah lelaki tersebut.


"Maaf, tapi nek Raya sudah meninggal dan juga jantungnya sudah tidak berdetak lagi."


Begitu ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu, Zizi mendekap tubuh nek Raya sambil terisak mengalir deraslah air mata membasahi wajah kecilnya itu.


"Maafkan Zizi nek... Zizi tidak bisa menolong nenek, maafkan Zizi," pekikan yang terasa begitu lirih sekali membuat lelaki tadi ikut menangis serta menepuk pundak Zizi berusaha menenangkan tangisan Zizi sebisa mungkin.


.


.


Akhirnya nek Raya di bawa pulang dan di bersihkan lukanya terlebih dulu oleh warga sekitar yang terus berdatangan ke gubuk nek Raya.


^^^To be continued ^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


...Kutipan :...


Ingatlah! bahwasanya Tuhan tidak pernah tidur sedetikpun, semua perbuatan manusia akan ada pembalasan di kemudian hari, atau pembalasan itu di terima setelah kematian. Wallahi, apakah kita masih ingin melakukan hal buruk?