Aku, Khanza

Aku, Khanza
Mayat Mutilasi? Apakah Khanza..


...♡♡♡...


Pinggiran kota Babakan Ciparay di hebohkan oleh sesosok mayat yang tidak di ketahui identitasnya di temukan dalam kondisi dengan tubuh yang sudah terpisah satu sama lainnya.


Ketika berita itu masuk koran membuat Amel terkejut bathin sekali.


Pagi itu Amel sedang sarapan pagi bersama ke dua orang tuanya, setiap harinya koran selalu datang karena ayahnya memang suka membaca berita melalui pos metro.


Ketika Amel melihat sekilas berita heboh itu dia langsung beranjak dari kursi meja makannya terus mencari tempat lain untuk menghubungi Devan dengan suasana perasaan yang tidak enak.


Amel tampak sedang bermain dengan ponsel pintarnya itu dengan mengetik nama Devan di kontak pribadinya.


Tut Tut


Setelahnya Amel menempelkan ponsel itu dekat dengan telinganya sambil menggigiti kuku seolah rasa takut menghantuinya saat tahu berita tersebut.


Kemudian tidak harus mengulang panggilannya Devan sudah mengangkat lebih cepat dari dugaan Amel.


"Hoamm, ya halo ada apa?"


Tanya Devan dari sebrang sana sampai terdengar dirinya masih menguap.


"Baguslah kau angkat cepat telvonku! biasanya kau paling lama kalau sudah aku hubungi, ohya kau sekarang ada di mana Van?" tanya Amel di balik ponselnya.


"Kau tanya aku sepagi ini ada di mana? masa iya aku sudah berkeliaran di pagi buta begini."


Celoteh Devan pula.


"Pagi buta apanya? sana lo liat jam, mata lo yang buta kali ya, ini sudah jam 9 lo bilang pagi buta? aku tidak mau tahu ya Van, sekarang kau lekas mandi dan jemput aku di depan," tandas Amel nyerocos seperti rel yang sedang berjalan.


"Iya-iya, aku mandi dulu! sudah matikan telvonnya sekarang."


Turut Devan yang kali ini mengalah pada Amel karena memang dirinya yang salah tidak melihat jam terlebih dulu.


"Bagus! cepat sedikit, karena ini masalah serius," kata Amel lagi sambil meraih topinya untuk dia pakai nantinya.


"Yasudah matikan, dari tadi nyerocos terus! bagaimana aku bisa mandi? dasar wanita yang pada dasarnya suka merepet sudah seperti bebek saja mulutmu itu!"


Kata Devan yang terdengar mencibir sekali setelah itu dia langsung mematikan ponsel seketika.


"Dasar cowok brengsek, berani sekali dia menghina ku sampai aku di katai bebek segala! gue bebek dan lo induknya."


Amel tampak menggerutu dengan ngedumel sendiri sekaligus melemparkan ponselnya di atas kasur, kemudian dia mengganti pakaiannya untuk pergi sebelum Devan menjemput.


.


.


.


Rumah sakit Umum Babakan Ciparay.


Mobil sedan berwarrna silver milik Devan terparkir di kawasan rumah sakit umum.


Blam


Mereka berdua keluar dari mobil secara bersama dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Sesampainya di dalam rumah sakit Amel langsung mengajak Devan untuk ke ruangan bagian otopsi.


Ruang Otopsi.


Tok Tok


"Masuk saja," sahut salah satu petugas yang berjaga di ruangan itu.


"Oh, apa yang kau maksud korban mutilasi itu? sekarang kami masih memeriksa data mayat tersebut, mohon tunggu saja di luar dalam beberapa menit akan saya berikan data dari jasadnya," cakap petugas itu pula yang tengah sibuk mengambil darah melalui suntikan yang dia pegang.


"Baiklah pak, terimakasih banyak atas informasinya," turut Amel bungkukan badan dengan sopan sekaligus menarik lengan Devan tuk keluar bersama dengannya.


Amel dan Devan pun keluar dari ruangan itu dan duduk di salah satu bangku yang sudah tersedia.


"Apa yang ingin kau ketahui dari mayat itu?" tanya Devan melirik Amel yang terlihat sedang menatap ke arah lain.


"Aku ingin memastikan kalau itu bukan mayat Alsha," jawab Amel sejenak namun ia masih menatap ke arah lain tanpa menoleh pada Devan.


Amel merasa melihat seseorang yang dia kenal di rumah sakit itu, makanya dia berbicara tanpa melihat ke arah Devan.


Klak Klakk


"Woi, aku ada di sini kenapa kau melihat ke arah sana? kebiasaan orang bicara tapi mata tidak fokus ke sini," celoteh Devan sambil memetik jemari tangannya dan malah membuat Amel merasa sebal.


"Apasih! ribut banget dari tadi, kan sudah ku jawab apa yang kau tanya! lagian tadi aku melihat 3 orang yang aku kenal berjalan ke arah sana," ungkap Amel dengan omelannya itu tetapi dia tetap menoleh ke semula tanpa menghiraukan Devan.


Namun seketika orang yang di kenalnya itu menghilang entah pergi kemana.


"Tuh kan hilang jadinya, elo sih! ribut banget mulut lo itu, minta gue sumpel ya?!" cocot Amel yang sudah kian berdiri dari duduknya tampak wajahnya jengkel sekali terhadap Devan.


Akhirnya cekcok terjadi di rumah sakit tanpa ada satupun yang mau mengalah.


"Kenapa kalian ribut di rumah sakit? mohon tenang sedikit karena bisa menganggu ketenangan yang lain," tegur petugas tadi yang sedang memegang berkas data dari mayat mutilasi itu.


"Maaf pak kami tidak bermaksud membuat kekacauan di sini," turut keduanya dengan bungkuk serentak.


Tampak rambut Devan yang sudah acakan karena jambakan dari Amel ketika sedang cekcok barusan.


"Ini data dari mayat yang kalian maksud tadi," ucap petugas sekaligus menyerahkan map polos ke hadapan Amel.


Amel sigapnya meraih map tersebut dan membukanya dengan cepat.


"Hufghh."


Berulang kali Amel membuang nafas kasar bercampur leganya saat dia membaca data dari mayat tersebut yang ternyata bukan Khanza melainkan orang lain, apalagi dia sempat melihat golongan darah dari mayat itu tidak sama dengan punya Khanza.


"Apa mayat ini keluarga kalian?" tanya petugas itu setelah melihat reaksi Amel yang sebelumnya tampak kelihatan gelisah.


"Tidak pak ini bukan keluarga kami dan sekali lagi terimakasih pak atas waktunya, kalau begitu ini berkasnya saya kembalikan," cakap Amel pula bungkuk dengan sopan sambil menyerahkan map itu.


"Baiklah, saya tinggal dulu," turut petugas itu meraih map di tangan Amel dan beranjak pergi.


Setelah petugas itu berlalu pergi.


Seketika Devan berdiri di depan Amel dengan mengatupkan kedua tangan di dada tampak pula sorotan mata yang begitu tajam terlihat sinis sampai naik salah satu alis matanya.


"Besok-besok kalau ada berita orang hanyut di empang kau datangi saja seperti ini, membuang waktuku kau Amel!" semburan dari Devan merasa sangat jengkel dengan tindakan Amel yang hanya sia-sia itulah fikirnya.


"Heheh..."


Hanya tertawalah yang dapat di lakukan oleh Amel saat Devan mulai kesal terhadapnya.


Kemudian Devan melenggang pergi meninggalkan Amel tanpa berkata apapun.


"Egh, tunggu dong! main pergi saja kau," teriak Amel pula.


Dia pun berlari menyusul langkah Devan.


Next... 🤣🤣