Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kehangatan Yang Tak Ternilai


...♡♡♡...


Pagi hari.


Keesokan harinya pasca operasi telah selesai di lakukan dan kini Panji mendapatkan perawatan intensif untuk menjalankan operasi bagian yang berbekas jika pihak keluarga ingin melanjutkan operasi plastik supaya bekas cacat di wajah menghilang karena operasi yang di lakukan dari awal hanya untuk memperbaiki luka dalam yang terbakar saja oleh sebab itu sudah pasti akan meninggalkan bekasnya.


Ruang intensif.


"Nat ayo bangun kau harus pulang, apa kau tidak sekolah?" cakap ibunya yang tampak menggoyangkan tubuh anaknya berulang kali.


"Mmmh."


Nathan tersentak dan menggeliat sejenak lalu ia membuka mata perlahan sambil menguap lepas tak sadar ia sudah tertidur sejak dirinya menangis sedari malam tanpa makan apapun.


"Hah, kakek sudah bangun?" riuh Nathan terdengar senang ketika melihat kakeknya sudah bisa menggerakkan tangannya hingga melontarkan senyuman lebar di bibirnya itu lalu ia beranjak dari sofanya berlari ke arah sang kakek.


Namun kedua matanya di perban sekaligus wajahnya yang tertutup penuh balutan perban juga karena baru selesai operasi betapa sedihnya Nathan ketika melihat kondisi kakek yang sangat ia sayangi kini tak dapat melihat wajahnya lagi.


"Kek maafkan aku karena tidak bisa melindungi kakek dari kecelakaan ini," cakapnya terdengar lirih sehingga bergetar tangannya ketika memegang telapak tangan kakeknya saat berkata demikian.


"Kau selalu menyalahkan dirimu, apa kau mau aku jewer?" seloroh kakeknya pula yang berusaha memberi kehangatan pada cucunya saat melihat dirinya yang seperti itu.


seketika Nathan mendekap erat tubuh kakeknya dengan membalas kehangatan dari sang kakek karena Nathan tak dapat merangkai kata sebab dia merupakan sosok lelaki yang dingin tak dapat memberikan kata-kata indah seperti yang lainnya jadi seperti itulah cara yang bisa dia lakukan saat ini sehingga tampak pula tetesan air mata jatuh di pipinya.


"Uhuk,uhuk kakek sesak nafas Nat kau peluk erat begini," seloroh kakeknya pula hingga Nathan kalang kabut melepas pelukannya merasa takut padahal itu hanya gurauan dari sang kakek kemudian ia bergeleng kepala menghembus nafas kasar.


"Ma aku ingin izin tidak sekolah hari ini," cakap Nathan menoleh ke arah belakang menatap lirih wajah ibunya.


"Tidak! kau harus sekolah, di sini juga ada mama mu yang akan menjaga kakek," sela ayahnya berkata tegas namun Nathan tak menoleh sedikitpun.


Chelsea menghembus nafas panjang karena dia tak menduga anak sama bapak tak pernah ada akurnya sedari dulu. "Apa kau sudah izin pada wali kelas mu?" tanya ibunya melirik ke arah sang suami yang sudah menautkan kedua alis mata.


"Sudah aku bilang dia harus sekolah," tegas ayahnya lagi seperti meninggikan suaranya.


Sementara sang kakek mengelus jemari Nathan yang lekat di telapak tangannya. "Nat, kau sekolah saja jangan sampai bolos hanya karena kakek lagian kakek di sini juga tidak sendiri," pinta lembut dari kakeknya tampak tersenyum tipis di balik bibirnya.


"Aku ingin merawat kakek karena aku sudah tidak mempercayai siapapun lagi," katanya pula menatap ke arah kakeknya bahkan raut wajahnya terlihat sangat sedih.


"Kau masih ada waktu pulang sekolah tuk menjenguk kakek, jadi jangan banyak alasan untuk tidak masuk sekolah!" sergah ayahnya berkata tegas berulang kali.


"Nathan pergilah kau nanti bisa telat," pinta kakeknya dengan sangat karena dia begitu tahu perangai anaknya yang tak dapat di bantah apalagi kondisinya saat ini ia tak mampu menahan Nathan karena masih terbaring lemah di atas kasur rumah sakit.


"Baiklah kek aku akan pergi, kakek harus makan banyak supaya cepat sembuh," turutnya serta pesan singkat penuh perhatian membuat sang ayah mengalihkan wajah karena tidak pernah Nathan memberi perhatian padanya sedikitpun semenjak ia tak hadir dalam acara kontes piano yang di mainkan oleh Nathan dulu dari situlah awal Nathan dingin pada ayahnya sendiri.


"Kau jangan lupa sarapan di rumah sebelum berangkat," pesan ibunya pula sekilas melirik suaminya yang terlhat jelas memperhatikan Nathan walau sesaat namun satu sama lain masih saja egois dan keras kepala.


Lalu Nathan anggukkan kepala dan beranjak dari tempatnya ia melenggang tanpa menoleh dengan berjalan menatap ke depan hingga berlalu pergi.


"Ded ikut aku pulang sekarang," ucap Nathan sedari keluar dari pintu ruangan.


"Oh tuan muda, apa tuan ingin pulang?" tanya Hardi menyela.


"Aku mengajak Ded, kenapa kau yang menyahut?" tanya Nathan pula tampak menaikkan sebelah alis matanya.


Apa aku tadi salah mendengar? aduh Tuhan! pasti kenak omel lagi ini. Batin Hardi yang tak sadar sudah di perhatikan oleh Nathan sedari ia melamun.


"Aku tahu kalian tidak tidur jadi setelah Ded mengantarku pulang dia balik lagi ke rumah sakit lalu Hardi bisa istirahat sejenak dan begitu pula dengan Ded, apa kalian mengerti maksud ku?" tanya Nathan menoleh pada keduanya.


Ded dan Hardi anggukkan kepala dengan cepat merasa senang mereka di perhatikan oleh tuannya yang di cap dingin itu bahkan mereka tak menduga bahwa Nathan mengetahui mereka belum ada tidur dari semalaman.


"Ingat pesan ku jangan ada yang masuk selain izin dariku, paham?" tegas Nathan sekali lagi pada Hardi di sampingnya.


"Baik tuan muda," sahut Hardi dengan tegas pula walau sudah dalam kondisi raut wajah masam alias mata 5 watt.


"Bagus kalau begitu, aku pergi dulu! ayo Ded."


Masih setengah melangkah ia berpapasan dengan Genji yang terlihat sedang membawa bingkisan buah serta bunga segar bak wangi kasturi sesaat ia teringat rumahnya yang khas bunga itu makanya Nathan menautkan kedua alis matanya menatap bawaan Genji karena Genji belum pernah sekalipun datang ke rumahnya.


"Halo tuan muda, anda mau pergi?" tanya ramah dari Genji yang tampak memakai baju batik yang di desain oleh sang kakek.


"Apa ingin menjenguk kakek?" balik bertanya pula.


"Ya tuan muda, saya ingin melihat kondisi tuan Panji saat ini."


Genji melontarkan senyum lebarnya walau Nathan terlihat datar tak ada membalas senyuman darinya.


Mata Nathan hanya tertuju pada bunga yang tercium olehnya itu serta raut wajah Genji yang masih asing baginya.


"Baiklah silahkan masuk, tapi jangan sampai kakek terganggu karena kakek harus banyak istirahat," pesan Nathan pula dengan menatap tegas ke arah Genji.


"Baik tuan muda saya mengerti," turut Genji masih bersikap ramah walau Nathan membalasnya cuek.


Kemudian Nathan beranjak dari tempatnya melenggang pergi tanpa melihat ke belakang lagi yang di ikuti oleh Ded di sampingnya lalu dari kejauhan Genji tersenyum tipis melihat ke arah Nathan yang pergi begitu saja dari hadapannya.


Setelah Nathan berlalu pergi barulah Genji melangkah ke arah pintu ruangan karena sudah mendapatkan izin dari Nathan makanya Hardi membiarkan Genji masuk begitu saja.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Jika keegoisan tak dapat kau kendalikan ingatlah saat hari bahagia ketika kau bersama seseorang ketika dirimu dalam keadaan terpuruk maka rasa egois mu secara perlahan bisa kau kendalikan❤️