Aku, Khanza

Aku, Khanza
Ketulusan Seorang Anak Kecil..


...♡♡♡...


"Halo pitter, saatnya kau selamatkan dunia karena kau pahla-"


PRAAANGGG


Debugh


"Akh! dasar anak sialan kau, apa kau tak bisa bermain di kamar mu saja?" hardik Shopia yang sudah kesakitan memegang panggulnya.


Awalnya Zizi terbangun karena ingin buang air kecil di kamar mandi yang sudah tersedia di dalam kamar lalu dia mencari kakaknya beserta Hayati namun tidak ia temukan kemudian ia melihat robotan yang sangat ia sukai akhirnya dia tidak menangis lantaran ada sesuatu yang menemaninya akan tetapi dia tidak bermain di dalam kamar karena dia ingin menunggu Hayati dan Alsha pulang maka itu dia terduduk di lantai ruang tamu sambil memainkan robotannya.


Shopia yang berjalan mengarah ke ruang tamu yang sebelumnya dari dapur terlihat sedang membawa gelas berisi jus akan tetapi ia tak melihat Zizi yang terduduk di bawah lantai pada akhirnya ia menyenggol tubuh Zizi sehingga gelas itu terlepas dari tangannya dan ia pun terjatuh keras ke lantai dan berhamburlah pecahan gelas kaca tersebut tetapi untung saja tidak mengenai Zizi sedikitpun.


Dengan sigapnya Zizi berdiri karena terkejut melihat Shopia jatuh merasa kesakitan. "Nenek baik-baik saja? sini nek Zizi bantu berdiri ayo nek," keriuhan Zizi membuat Shopia murka padanya.


Lalu Shopia mendorong kuat tubuh Zizi yang berani memegangnya akhirnya Zizi terhempas jauh dari Shopia.


"Siapa nenek mu anak gembel?! aku bukanlah nenek mu karena aku tidak punya cucu seperti kalian ini, kau dan kakakmu itu sama saja. Dasar anak tidak tahu diri!" bentak Shopia pula membuat Zizi tertunduk dan tampak cemberut karena Shopia menyebut kakaknya.


Kemudian Zizi berdiri dengan beraninya. "Nenek boleh menghinaku tapi jangan hina kak Alsha karena Zizi tidak suka ada orang yang menghinanya."


Sungguh berani dan lantangnya Zizi berucap demikian secara tegas ia melontarkan perkataan itu tampak pula kepalan kedua tangannya menatap tajam Shopia.


Shopia tersenyum kecil lalu dia berusaha bangkit sambil memegang panggulnya.


Tap Tap


Shopia berjalan mengarah pada Zizi yang awalnya memegang rambut Zizi dengan lembut sambil menunjukkan senyum kecilnya.


Rambut Zizi di tariknya sekuat tenaga hingga Zizi mengerang kesakitan. "Berani sekali kau berkata lantang padaku barusan! sadarlah kau dan kakakmu hanya numpang di rumah ini jangan kau berani berkata kasar padaku saat ini kau bisa aku bunuh dan mati mengenaskan! apa kau mau?" berang Shopia yang terus saja menjambak rambut Zizi tanpa ampun namun sedikitpun Zizi tidak menangis dia hanya menutup kedua matanya menahan rasa sakit di kepalanya itu.


Karena Shopia tidak puas melihat ketegaran Zizi yang tidak menangis akhirnya dia mencubit punggung belakang Zizi sekuatnya sehingga pecahlah suara tangisan keluar dari teriakan Zizi dan di situlah Shopia tertawa terbahak mendengar erangan dari Zizi sungguh Shopia tidak memiliki hati nurani sedikitpun pada anak kecil seperti Zizi.


Kemudian Shopia mendekatkan mulutnya ke arah telinga Zizi sambil berbisik. "Masih punggungmu yang aku buat begini, apa kau mau lehermu ku cekik sampai mati? awas kau kalau mengadukan semua ini pada yang lain, aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawa kakak mu yang tidak tahu diri itu! sana kau, dasar gembel," timpalnya dengan mendorong kembali tubuh Zizi hingga terpental ke lantai.


Setelah Shopia puas dengan perbuatannya lalu ia berjalan namun teringat akan sesuatu sehingga dia berbalik menoleh pada Zizi yang terlihat memegangi punggungnya.


"Hoi anak gembel! kau bersihkan semua pecahan kaca ini jangan ada yang tersisa kalau aku balik kau belum membereskannya maka semua kaca ini aku masukkan ke dalam mulutmu! paham kau," kelakarnya berkata secara keras namun Zizi hanya terlihat menghisap jempolnya merasa takut jika melihat ke arah Shopia.


Lalu Shopia tak ambil pusing lagi akhirnya dia melanjutkan langkahnya ke arah dapur kembali.


Dengkul Zizi yang terasa gemetaran saat ia harus berhadapan dengan Shopia yang sudah dia anggap seperti neneknya sendiri sebenarnya dia sudah merasakan kalau Shopia sangat tidak menyukai dirinya juga sang kakak akan tetapi Zizi masih berusaha supaya mendekatkan dirinya walau di acuhkan ketika ia menegur setiap hari pada Shopia dengan keramahannya.


Beberapa saat Zizi teringat pesan dari Shopia untuk membereskan semua pecahan kaca akhirnya dia bangkit dan beranjak pergi untuk mengambil sapu serta plastik membungkus tangannya supaya tidak mengenai tangannya begitu cerdiknya Zizi walau di usianya yang masih kecil.


Setelah selesai membuang pecahan kaca ke tong sampah lalu Zizi kembali ke kamarnya untuk mencuci wajah supaya tidak terlihat jika ia baru saja menangis kemudian ia melihat punggungnya dari arah pantulan kaca sungguh jelas berbirat bekas cubitan dari Shopia di tubuhnya yang kecil dan tak lupa ia mengganti baju sedikit tebal serta memberi bedak di bagian cubitan tersebut setelah semuanya beres ia pun terduduk di atas kasurnya sambil menatap bingkai foto dirinya bersama Hayati juga sang kakak yang tampak tertawa bahagia memeluknya tepat berada di tengah mereka.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Berbahagialah kalian jika menampung anak yatim karena cinta yang mereka berikan murni tidak berharap apapun selain kasih sayang darimu ❤️