
...โกโกโก...
Terdengar samar dari arah pintu masuk rumah suara para pengurus rumah menyambut seseorang yang baru saja pulang.
Ruang meja makan.
Beraneka ragam menu sajian terutama seafood segar yang sudah tersedia di atas meja makan kian tersusun serta lengkap dengan alat untuk menyantap hidangan tampak Chelsea juga kedua kandidatnya itu duduk di kursi mereka masing-masing yang siap untuk menikmati makanan yang telah di sajikan.
Awalnya Chelsea sudah menghubungi sang suami dan ternyata dia sedang ada rapat dengan direktur perusahaan tekstil klien lama dari Panji kini di tangani oleh David selama Panji dalam kondisi yang tak memungkinkannya untuk menemui klien tersebut makanya Chelsea tak mungkin menunggu suaminya pulang tentu saja akan lembur.
"Makanlah sepuas kalian anggap saja rumah kalian sendiri," imbuh Chelsea yang terdengar ramah dengan senyuman kecilnya itu.
"Terimakasih nyonya sudah mengundang kami makan bersama nyonya seperti ini," kata mereka seketika serentak berucap demikian.
"Nah gitu dong kalau kompak jadinya enak di lihat," seloroh Chelsea sengaja meledek bahkan seketika mereka saling menoleh dari samping karena duduk bersebelahan.
Chintya melontarkan senyumnya begitupula dengan Tina sebaliknya sehingga Chelsea bergeleng kepala sambil meraih nasi untuk ia letakkan di atas piringnya kemudian di ikuti oleh keduanya sampai Tina sudah terlihat sangat tak sabar untuk menyantap seafood kesukaannya itu namun Chintya malah alergi dengan segala macam seafood begitulah yang dia katakan saat Tina bertanya kenapa ia tak mengambil seafood padahal terlihat sangat lezat dan ternyata Chintya mengatakan alasannya pada Tina.
"Ck,ck sangat di sayangkan sekali kakak tidak bisa makan udang yang lezat ini," ejeknya pula dengan meledek saat ia mengangkat piringnya yang sudah terisi dengan lauk berupa seafood itu.
"Diam kau! makan saja jangan ribut," hardik Chintya yang tampak jengkel pada Tina.
Tap Tap
Terdengar langkah kaki mengarah pada meja makan mereka.
"Ma," sapa Nathan dari jauh.
Chintya dan Tina menoleh ke belakang karena sempat mendengar sapaan dari seorang lelaki di tengah mereka.
"Huk, uhuk uhuk!"
"Hei hei, kau kenapa? ayo minum dulu nih sampai tersedak begitu," riuh Chintya ketika spontan mendengar Tina batuk hingga muncrat nasi di dalam mulutnya setelah melihat Nathan di belakang mereka.
"Tina kau kenapa? sampai batuk begitu?" tanya panik dari Chelsea pula di saat ia ingin menyahut panggilan dari Nathan jadinya terjeda.
"Ti- tidak apa-apa nyonya saya hanya tersedak saja," jawab Tina yang masih terlihat memukul dadanya sesekali sambil terus minum air yang di berikan oleh Chintya padanya.
Oh tuhan siapa dia? apa dia anak dari nyonya Chelsea? tampannya tak manusiawi... Apa sekarang aku sedang bermimpi? batin Tina yang sempat terbengong hingga ia tak sadar sudah mengangakan mulutnya ketika menatap ke arah Nathan.
"Tina, Tina..."
Chintya berulang kali menepuk pelan kedua pipi Tina namun dia masih menatap ke arah Nathan.
"Kau sudah pulang? ayo kemarilah," panggilan ibunya dari jarak yang sedikit jauh dari tempat Nathan berdiri.
Nathan pun melenggang ke arah meja makan karena ibunya sudah memanggilnya untuk lebih dekat.
Sesampainya Nathan berdiri tepat di dekat mereka membuat Tina semakin jelas melihat sosok wajah Nathan sesungguhnya.
Dag Dig Dug
Kenapa dengan jantungku? tak biasanya aku melihat orang lain begini, apa ini manusia? kenapa dia tampan sekali terlihat cool, aahh aku bisa-bisa pingsan kalau berlama menatapnya begini! membatin lagi sampai ia terus berbinar matanya ketika melihat Nathan sangat tampan padahal hanya memakai kaus oblong dan celana panjang.
"Aku tidak ada les hari ini, ohya ma tadi aku ke rumah sakit dan aku melihat ruangan kakek sudah kosong kata perawat kakek sudah pulang, apa benar?" balik bertanya pula.
"Iya, kakek meminta pulang makanya mama menuruti permintaan kakek mu," jawab ibunya. "Sekarang kakek ada di kamarnya," katanya lagi.
"Baiklah kalau begitu aku ke kamar kakek dulu," balas Nathan yang tampak ingin beranjak pergi.
"Kau sudah makan? kalau belum makan terlebih dulu di sini," imbuh sang ibu masih memegang lengan Nathan.
"Aku nanti saja mama lanjutlah makannya," tolaknya dengan santai lalu dia bergerak pergi setelah sang ibu melepaskan lengannya.
Tina bahkan masih melihat ke arah Nathan sampai Nathan merasa risih di saat Tina menatapnya seperti daging yang siap di santap begitulah pandangan Nathan tehadap Tina.
Nathan pun berlalu pergi mulai sadarlah kembali Tina sampai ia masih tersenyum tipis ketika mengingat wajah tampan Nathan.
.
.
.
Sesampainya Nathan ke arah kamar sang kakek tampak jelas terlihat kalau pintunya sudah terbuka lebar lalu ia melihat ternyata ada Yeni yang sedang ingin menyuapi kakeknya makan namun masih enggan mau makan.
"Kenapa?" tanya Nathan ketika dirinya sudah masuk ke dalam kamar.
Yeni hanya bergeleng kepala karena tak berani menjawab sebab sebelum Nathan masuk Yeni sudah di suruh keluar oleh Panji karena ia mengatakan tak ingin di ganggu siapapun.
Dari isyarat yang di berikan oleh Yeni kini ia mengerti kalau Yeni tak berani berbicara karena kakeknya itu.
"Yasudah biar aku saja pergilah selesaikan tugas yang lain," titah Nathan pula kemudian ia berjalan ke arah tempat Yeni berdiri sebelumnya lalu Yeni bungkukkan badan setelah itu pergi menuju keluar kamar.
Nathan melirik kakeknya yang hanya terdiam menatap ke arah jendela kamar yang terbuka walaupun tak dapat melihat namun ia masih dapat merasakan di saat Nathan menatap dirinya.
"Kau jangan menatap kakek seolah kakek akan mati besok," ketus kakeknya pula membuat Nathan tersenyum tipis mendengarnya.
"Kakek tidak boleh berbicara seperti itu, apa kakek sudah tak sayang padaku lagi?" celoteh Nathan yang ingin sedikit menghibur sang kakek semampunya.
"Kalau kakek tak sayang padamu mungkin kakek tidak akan mau pulang ke rumah ini," katanya pula kini Nathan membuang nafas kasar lalu menumpukan kedua kakinya menahan tubuhnya sambil memegang bagian kursi tempat kakeknya duduk.
"Seharusnya kakek masih ada di rumah sakit, lalu kenapa kakek minta pulang? apa kakek sudah lebih baik?" tanya Nathan secara halus.
"Kakek sudah tidak betah di ruangan itu dan tubuh kakek terasa kaku hanya di suruh tidur, memangnya kakek benda mati yang tak bernyawa di suruh berbaring saja," mendengar keluh kesahnya membuat Nathan jadi merasa lelahnya hilang seketika.
"Heheh kakek ada-ada saja," kekehan kecil dari Nathan seketika merubah mood Panji menjadi lebih baik.
Yap kehadiran cucunya itu se-saat menghibur dirinya yang sedari tadi merasa kesepian.
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
NANTIKAN TERUS CERITA AKU KHANZA