Aku, Khanza

Aku, Khanza
Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak Sama Sekali...


...♡♡♡...


Derasnya hujan sudah tampak mulai reda kini orang-orang mulai berlalu lalang untuk pulang ke rumah mereka masing-masing ada juga yang sedang berteduh melanjutkan perjalanannya walau masih terasa rintikannya namun itu tak akan menjadi penghalang bagi mereka untuk beraktifitas kembali.


Drapp


Drapp


Tapp


Pak Yudi sedang berlari dari arah mobilnya hendak menuju ke warung pak Alim sebab ia juga baru saja membereskan semua barang belanjaan yang telah ia susun dengan rapi.


"Halo nak," sapanya pula ketika ia sudah sampai di halaman warung pak Alim serta tampak tawa kecil di bibirnya ketika ia berlambai tangan ke arah Zizi.


"Bapak siapa?" tanya Zizi yang terlihat menautkan kedua alis matanya bahkan tampak jelas raut wajah Zizi sedang menanti kakaknya yang belum juga kembali dengan terus celingukan.


"Apa kau tak ingat bapak nak?" berbalik tanya lagi sementara ia berbicara lalu ia menumpukan tubuhnya di antara kedua tumitnya dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Tidak, Zizi tidak ingat bapak siapa?" jawabnya pula sembari bergerak mundur namun ia sudah memegang telapak tangan Taro supaya mengikuti langkahnya.


Pak Yudi juga tak bisa menyalahkan Zizi yang tak kenal padanya mungkin saja Zizi sudah lupa sebab mereka baru sehari bertemu itulah fikir pak Yudi ketika ia menatap ke arah Zizi sembari menghela nafas pelan lalu ia berdiri kembali sambil terus melihat ke arah Zizi yang masih memegang tangan Taro.


"Wah ternyata sudah pada berkumpul di sini," tegur dari Ratih yang secara tiba-tiba datang dan mengagetkan Zizi sehingga ia membulatkan matanya ketika ia melihat kalau kakaknya sedang bergandeng tangan dengan Ratih.


"Kakak, kenapa kakak berpegang tangan dengan ibuk jahat itu?" celetuk Zizi pula dengan polosnya bahkan ia cemberut pada kedekatan Khanza juga Ratih sementara dalam ingatan Zizi masih terekam jelas kalau Ratih pernah membentak kakaknya.


Yeap, ketika lontaran yang keluar dari mulut Zizi terdengar oleh mereka semua kini Khanza berjalan ke arah Zizi serta memegang kedua bahu adiknya dengan lontaran senyuman simpul di wajahnya.


"Zi, ibuk sudah minta maaf pada kakak dan sekarang Zizi juga harus minta maaf pada ibuk Ratih, ayo..." Pinta sang kakak dengan lembut pula serta mengelus berulang kali kepala adiknya tersebut.


"Tapi kak..."


Raut wajah Zizi berubah menjadi rasa takut sebab ia masih enggan melihat ke arah Ratih makannya ia hanya tertunduk sembari memegang lebih kuat telapak tangan Taro dan dari sikap Zizi itu membuat Taro bingung padahal Taro bisa melihat ketulusan dari wajah Ratih ketika menatap ke arah Zizi itulah pandangan mata yang tampak oleh Taro.


"Sudah nak jangan paksa adikmu nanti dia malah semakin takut pada ibuk," kata Ratih pula membuka suara setelah ia menyadari reaksi Zizi memang sedang takut terhadap dirinya maka dari itu ia ingin berusaha membujuk Zizi dengan cara lain itulah fikirnya.


"Hmmh."


Pada akhirnya Khanza mendengarkan ucapan dari Ratih kemudian ia menghela nafas kasar ketika menatap adiknya yang masih terus tertunduk serta bersembunyi di balik punggung Taro.


Di karenakan suasana menjadi tegang sejenak Ratih melebarkan senyumnya dan menatap ke arah sang suami.


"Pa, mama sedang lapar! kita makan yuk," ajak istrinya pula dengan antusias bahkan ia sengaja berkata demikian karena ia baru saja melihat kaki Zizi gemetaran sebab itu ia ingin juga memperbaiki hubungannya terhadap Zizi.


Dari keriuhan sang istri barusan kini suaminya juga ikut ambil peran sebab ia juga mengerti maksud dari istrinya mengajak itu untuk apa.


"Apa kalian juga lapar?" tanya Ratih pula dengan bersemangat melontarkan senyuman lebar dan penuh harapnya kalau mereka mengatakan "iya".


"Mhh, buk hujan juga sudah reda sepertinya kami harus kembali," jawab Khanza pula merasa tak enak hati namun ia juga harus melanjutkan berjualan koran itulah fikirnya.


"Kembali ke mana?" tanya Ratih lagi tampak wajahnya yang serius.


"Kak," tegur Zizi seketika bahkan tampak memegang perutnya namun ia tak mengatakan apapun kecuali memasang wajah cemberutnya.


"Oke, tidak ada penolakan! ayo kita masuk nanti saja berbicara di dalam lebih santai jangan cuma berdiri di sini, ayo ikut ibuk!" timpal Ratih pula sehingga ia meraih tangan Khanza dan menariknya berjalan bersamaan dengannya sementara Zizi di pegang oleh pak Yudi lalu Taro mengikuti dari belakang mereka sembari memegang sebagian koran di tangannya.


Yeap, walaupun Ratih mengajaknya sedikit memaksa namun itu membuat Zizi sedikit menerima keberadaan dirinya bahkan ketika Ratih menceritakan sebuah buku dongeng yang dia beli membuat Zizi begitu ceria ketika mendengarnya apalagi Khanza juga merasakan kesejukan dalam hatinya di saat Ratih berusaha mendekatkan diri pada adiknya itu begitu pula pada Taro juga senang dengan kehadiran Ratih di tengah mereka.


Draap


Tap


"Pesanan anda sudah datang selamat menikmati," tegur dari seorang pelayan lelaki membawa beberapa mangkuk soto yang sudah di pesan oleh Ratih sebelumnya.


"Terima kasih," jawab Ratih dengan ramah pula setelah ia menutup buku dongeng dan memasukkan kembali dalam bungkusan yang ia bawa sebelumnya dari pasar.


"Sama-sama... Mari saya pamit dulu," balasnya dengan ramah pula.


Setelah soto itu tersedia di atas meja kini tampak bola mata Zizi yang berbinar seakan tampak sudah sangat kelaparan sehingga terdengar kecapan dari mulutnya itu ketika mencium aroma yang keluar dari soto tersebut.


Greekk


Mangkuk milik Zizi di geser oleh Ratih mengarah padanya ketika Zizi masih menciumi aroma soto tersebut sehingga ia melebarkan matanya tampak bingung kenapa mangkuk tersebut di jauhkan darinya.


"Loh loh, ma kenapa kau ambil mangkuk punya Zizi?" tanya sang suaminya pula terlihat bengong akan tetapi Ratih hanya membalasnya dengan senyuman simpul lalu ia menyendokkan soto tersebut serta menghembusnya perlahan sesekali agar panas dari kuah soto itu sedikit berkurang kemudian Ratih mengarahkan sendok berisi soto tersebut ke arah Zizi.


"Aaaakkk, ayo buka mulutnya sayang."


Zlepp


Seketika mereka semua kaget ketika seorang Ratih yang di kenal pedas dari omongannya itu bisa se-mesra saat ini ketika ingin menyuapi Zizi sehingga mereka terdiam dan menatap lurus ke arah Ratih.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Orang yang sudah mengerti rasa sakit akan selalu mengerti rasanya bagaimana kesulitan yang telah di hadapi ❤️