
...♡♡♡...
Hari sudah hampir petang maka tiba saatnya bagi Khanza beserta Zizi juga Taro untuk kembali pulang dan menyetor uang pada Dani sebab mereka sudah menjualkan beberapa koran yang telah laku namun masih bersisa lumayan banyak jadi sudah pasti Khanza menggunakan uang yang di berikan oleh Ratih padanya untuk mengganti kerugian koran yang hilang.
Di sepanjang mereka berjalan menuju pulang tampak di wajah Zizi begitu ceria sehingga ia berlompat riang sebab mendapatkan mainan yang ingin ia beli sebelumnya kini sudah ada di tangannya bagaimana ia tak sesenang itu jika mainan tersebut telah menjadi miliknya.
"La la lalala..." Zizi bersenandung terdengar sedang bernyanyi riang serta sesekali berlompat sembari melihat bungkus mainan yang ada di tangannya.
"Sepertinya kau sangat senang Zi... Tapi walau kau senang tetap harus perhatikan jalan mu nanti kau bisa tersandung," pesan singkat dari sang kakak kemudian Zizi pun berjalan seperti biasa tanpa berlompat lagi.
"Iya kak, Zizi memang sedang senang kak... Apa kakak tidak ingat mainan ini? karena sebelumnya Zizi pernah minta ke bunda sebelum kita di buang dari rumah itu," katanya pula yang sedang berusaha tersenyum.
"Iya kakak masih ingat tapi sudahlah Zi, kau jangan mengungkit masalah itu lagi karena kakak sudah tak ingin kita berurusan dengan mereka dan kau bisa lihat sendiri sebelumnya kalau madam mencoba melukai kalian berdua jadi kakak tidak mau itu terulang kembali sebab kakak mempunyai firasat yang buruk jika kita sampai tertangkap olehnya," paparnya sembari bergeleng kepala dengan menautkan dahi menatap ke arah adiknya.
"Ya kakak benar! kita tak boleh sampai bertemu dengannya lagi tapi kak, Zizi jadi teringat ketika nenek jahat itu mengatakan kalau bunda sedang sakit dan sampai sekarang Zizi masih kepikiran yang di katakannya," balas Zizi dengan bijaknya.
"Kakak tidak percaya dengan ucapannya dan bisa saja dia hanya mengarang cerita supaya kita masuk ke perangkapnya buktinya dia tega menyakiti kalian yang masih kecil bahkan belas kasihannya pada kalian tidak ada sama sekali," timpal kakaknya pula sehingga Zizi mulai mengerti maksud perkataan dari kakaknya.
"Iya juga kak mungkin itu sebuah jebakan untuk kita! pokoknya kita harus berlari sejauh mungkin dari nenek jahat itu kak," riuh Zizi membenarkan perkataan kakaknya barusan.
"Makanya tugas kakak akan selalu menjaga kalian supaya tak terjadi hal buruk pada kalian," tegasnya lagi berkata demikian.
"Dan tugas kita juga akan menjadi jagoan kakak," riuhnya lagi dengan suara yang tampak bersemangat.
Grepp
"Iya tidak kak Taro?" rangkulan tangan Zizi tepat di atas pundak Taro sehingga Taro pun kaget karena tiba-tiba saja Zizi merangkulnya sebab sedari tadi dia hanya mendengarkan perbincangan mereka.
Dengan sigap Taro anggukkan kepala berulang kali sembari tersenyum lebar menatap ke arah Zizi tepat di sebelahnya.
"Kita nanti main bersama ya kak Taro, kak Taro jadi musuhnya dan Zizi jadi pahlawannya!" celoteh Zizi pula sembari terus merangkul pundak Taro secara hangat bahkan membuat Taro merasa nyaman dengan kehadiran Zizi sebab selama ini ia hanya mendapat teman di saat dirinya sedang ada uang jika tidak ada maka ia di jauhi oleh temannya apalagi ia juga bisu sudah pasti dirinya di peralat untuk kesenangan semata.
Lagi-lagi Taro anggukan kepala membalas obrolannya dengan Zizi bahkan Khanza hanya bergeleng kepala saja sambil tersenyum simpul pada keduanya yang asyik tertawa bergurau bersama di sepanjang jalan.
Tak terasa lelahnya berjalan akhirnya sampai lah ke tiganya di gubuk tempat mereka melepaskan penat dan sebelumnya mereka bertiga menghilangkan keringat lebih dulu setelah itu barulah membersihkan diri.
Setelah semuanya berberes kini saatnya Khanza menyetor uang pada Dani dan dari kejauhan tampak oleh Khanza ada beberapa lelaki seusia Dani sedang berkumpul bermain kartu dan menikmati segelas kopi serta sorak porai dari suara mereka terdengar jelas.
"Mana!" sahutnya pula tanpa melihat ke arah Khanza sebab ia tampak fokus melihat kartu di tangan kanannya sehingga tangan kirinya bermain ke arah Khanza.
Dasar manusia tak punya etika! batin Khanza pula sebab ia terlihat geram karena Dani memberi tangan kirinya untuk menerima uang darinya namun Khanza hanya menghela nafas kasar dan tak ingin berkomentar sudah pasti akan bermasalah pada akhirnya.
Uang itupun di berikan langsung pada Khanza walau dalam hatinya ia menggerutu dan teramat tidak suka dengan perilaku Dani pada orang lain walaupun Khanza lebih kecil darinya namun Khanza tak pernah membandingkan orang lain kalau sudah menyangkut sopan santun.
Setelah uang itu di terima oleh Dani kemudian ia menghitungnya namun ia tak tahu kalau ada kerugian yang harus di tutupi oleh Khanza sebab Khanza tak ingin mengatakannya sudah pasti Dani akan curiga dari mana uang yang di dapat oleh Khanza untuk menutupinya, begitulah fikir Khanza makanya lebih memilih untuk diam daripada memberitahunya.
"Nah, ini uang mu!" cakapnya pula sambil memberi uang yang lagi-lagi di potong dari hasil jualan namun Khanza kali ini tak komplein sebab ia tak ingin kalau Dani sampai tidak terima dengan yang ia ucapkan nantinya dan berujung keributan makanya Khanza menerima saja pemberian dari Dani dengan hati yang lapang bukan karena merasa takut akan tetapi dirinya juga sudah mengerti watak Dani yang terbiasa memakan hak orang lain sebab ia juga mendengar cerita dari kebanyakan orang yang tinggal di dalam gubuk mengatakan hal demikian karena apa yang ia rasakan juga di rasakan oleh orang-orang yang menyetor uang padanya.
Drap
Drap
"Hakh... Haaagh! ba -bang Dani," suara dari seorang anak lelaki seusia Khanza yang terdengar sedang mengatur nafas sambil menyebut nama Dani seketika datang berlarian dan berhenti tepat di sebelah Khanza merungkuk serta menyeka keringat di dahinya.
"Ada apa? di kejar setan? sampai sesak nafas begitu!" sahut Dani dengan santainya melihat anak lelaki itu yang sudah tampak khawatir di wajahnya.
"Bang Dani ikut dulu nanti bang Dani tahu sendiri, ayo bang cepat!" katanya pula sedikit bernada memaksa namun sebenarnya ia merasa takut setelah Dani menatapnya dengan sinis.
"Untuk apa aku harus ikut dengan mu? berani sekali kau memerintah ku! apa kau sudah bosan hidup? hah!" bentak Dani pula dengan bernada keras sehingga kartu di tangannya ia lemparkan di atas meja dan membuat anak lelaki tadi jadi ketakutan bahkan Khanza merasa sangat jengkel melihat sikap Dani padahal anak itu juga mengatakannya dengan sopan.
"Maaf bang Dani bukan aku ingin memerintah tapi ini dalam keadaan darurat makanya aku langsung ke sini," katanya pula dengan tampak meringkuh di ke dua lutut kakinya.
Dani yang melihatnya sampai begitu akhirnya ia juga merasa penasaran ada hal darurat apa lalu ia pun menoleh ke belakang. "Kalian di sini saja dulu, sebentar lagi aku balik," pesannya pula sebelum ia melangkah pergi
Teman-temannya pun anggukan kepala secara serentak lalu anak lelaki itu berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Dani namun karena Khanza juga ingin tahu ada hal darurat apa ia pun juga ikut melangkah bersama mereka tepat di belakang Dani.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Jika hak orang lain kau makan ketahuilah hidup mu akan jauh lebih sengsara di kemudian hari semakin sering kau memakan hak orang lain maka semakin susah pula hidup yang akan kau jalani ❤️