Aku, Khanza

Aku, Khanza
Rasa Perduli?


...♡♡♡...


Pada malam hari sekitar waktu makan malam.


Sebelumnya kedua kandidat Chelsea sudah pulang sedari sore setelah mereka saling bercerita tentang keluarga masing-masing sehingga ketika Tina bertanya soal Nathan pun dirinya menjadi syok akibat mendengar pengakuan dari Chelsea kalau Nathan masih berumur remaja akan tetapi Tina hampir tak menduga karena ia melihat Nathan memiliki tubuh yang bagus di usianya ditambah pula wajah tampannya yang memikat hati para wanita saat melihat Nathan.


Waktu makan malam telah berlangsung namun Nathan masih elok mengerjakan tugasnya karena setelah ia pergi dari kamar kakeknya bukan dia langsung mengerjakan tugas bahkan ia asyik bermenung diri ketika mengingat ucapan dari kakeknya tadi.


Tepat sekitar pukul sembilan malam Nathan akhirnya selesai mengerjakan semua tugasnya yang begitu menumpuk dan menguras tenaganya akhirnya ia terlelap di atas meja belajarnya sendiri tanpa makan terlebih dulu apalagi dia belum melihat kakeknya kembali karena dia sudah terpulas dari lelapnya.


Tok Tok


Tampak David sedang mengetuk pintu kamar ayahnya dari luar namun Chelsea sudah terlelap seusai ia makan bersama suaminya padahal sebelumnya ia sempat membujuk Nathan untuk makan bersama tetapi ia mengatakan masih harus menyelesaikan tugas terlebih dulu pada akhirnya Nathan juga tertidur sehingga berulang kali Yeni mengetuk pintu kamarnya tidak ada sahutan sedikitpun.


"Masuklah," sahut ayahnya dari dalam.


Klakk


Kreek


Pintu kamar ia buka setelah itu David pun masuk ke dalam sambil menutup kembali pintu dengan rapat.


"Papa sudah tidur?" tanya David sambil melenggang ke arah ayahnya.


"Belum," jawabnya singkat dan ia tampak bersandar di kasurnya dengan di tutupi separuh tubuhnya memakai selimut tebal berbahan beldu premium sehingga kulit bisa merespon suhu hangat yang di keluarkan oleh selimut tersebut.


"Kenapa papa masih belum tidur? papa sudah makan?" tanya lagi kemudian ia berjalan dan duduk di atas kasur ayahnya.


"Sudah, karena Nathan berpesan untuk tidak telat makan karena malam ini dia di kamarnya sedang mengerjakan tugas jadi aku tak ingin mengganggunya," imbuhnya berkata demikian.


"Papa sudah merasa baikan setelah pulang? apa yang sedang papa fikirkan? papa jangan banyak fikiran supaya kondisi papa cepat pulih," katanya yang terdengar berusaha memberi sedikit perhatian.


David mengambil nafas panjang setelah ia mendengar perkataan dari ayahnya barusan lalu ia menatap lurus ke ayahnya dan tampak mengelus pundak lehernya sesekali.


"Pa, besok aku dan Chelsea akan ke Inggris karena aku mendapat undangan untuk menjadi model mereka," ucapnya perlahan namun wajah Panji sudah berubah setelah mendengarnya.


"Apa kau tak bisa menolaknya saja? setelah urusan pengobatan ku selesai terserah kau mau kemana saja," balasnya pula terdengar kesal dari nada bicaranya barusan.


"Apa papa tahu kali ini mereka juga akan bekerjasama dengan perusahaan kita dan terutama akan memakai model di perusahaan kita," desaknya terdengar meyakinkan.


"Kau lebih memilih kerjasama itu dari pada mengurusku yang sakit ini?" tanya ayahnya terlihat sedikit kecewa pada anaknya.


"Pa, aku juga melakukan semua ini untuk meluaskan nama perusahaan Agency kita, apa papa tidak paham maksud ku? lagipula donor mata untuk papa belum di kabari oleh temanku makanya aku akan menunggu info darinya sambil bekerja, ku mohon papa mengerti lah tujuan ku pergi ini untuk siapa? ya untuk papa juga," katanya pula yang tak sadar berucap demikian membuat Panji merasa tidak berguna.


"Apa aku memberikan beban untukmu di perusahaan? kau sama sekali belum bisa berubah Vid, kau masih dengan hawa nafsu mu itu, sehingga kau tak bisa mengerti perasaan orang lain terutama pada orangtua mu sekalipun," timpalnya dengan memberi penekanan pada anaknya.


"Pa, bukan begitu maksu-"


"Sudahlah, kau bisa keluar sekarang aku mau istirahat! pergilah," sang ayah langsung memotong perkataan anaknya itu lalu ia bergerak membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya hingga batas leher.


David hanya menghembus nafas kasar saat dirinya secara halus di usir oleh ayahnya itu kemudian David berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu dia juga tak tahu cara menenangkan ayahnya karena dia tidak bisa seperti Nathan yang sangat dekat pada Panji dan pada akhirnya ia hanya menoleh ke belakang sebelum keluar dari kamar bahkan tampak jelas dia tertunduk lesu karena tak mengerti apa yang di rasakan oleh ayahnya saat ini.


Setelah David berlalu pergi dari kamar itu kini Panji tampak meneteskan air matanya dalam pejaman matanya itu ia merasa tidak berguna bagi oranglain bahkan ia berfikir dirinya menjadi beban untuk banyak orang terutama pada Nathan yang sangat dia sayangi itu maka hanya Nathan yang mampu membagi waktu untuk menemaninya akan tetapi ia tak mungkin terus berharap pada Nathan dengan dirinya yang tidak berguna saat ini.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Luangkan waktumu untuk keluarga karena memberi waktu untuk seseorang di haruskan sehingga rasa perduli itu tetap ada ❤️