
...โกโกโก...
Parkiran mobil.
Sesampainya Nathan di pekarangan sekolah kemudian ia turun dan menyuruh Wandi untuk menunggunya di mobil saja sebab ia harus menyelesaikan urusannya terlebih dulu.
Seusai Nathan melenggang ke arah area sekolahnya kemudian Wandi memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia.
Nathan terus berjalan ke arah ruangan di mana para guru berkumpul saat jam istirahat sebab ini sudah masuk waktunya makan siang.
Ruang umum para guru.
Tok
Tok
Ketukan beberapa kali dari arah pintu membuat semua mata tertuju pada Nathan yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Maaf, saya Nathan Austin dari kelas IXแต ingin mencari ibu Neti wali kelas kami," sapa Nathan pula sambil melontarkan senyum kecil di wajahnya.
"Oh masuk saja nak," sahut dari buk Neti pula seketika ia menoleh dari arah tempat duduknya.
Setelah di sahut kemudian Nathan masuk melenggang ke arah tempat duduk buk Neti serta senyuman di wajahnya masih terpasang.
"Silahkan duduk Nathan," tutur buk Neti tersenyum ramah pula membalas senyuman Nathan padanya.
"Terimakasih bu," turutnya dengan sedikit bungkuk dengan sopan lalu ia menggeser sedikit kursinya untuk ia duduki.
"Kenapa tidak dari kemarin di ambil berkasnya Nathan?" tanya ramah dari buk Neti pula.
"Maaf bu saya sedang sedikit sibuk saja jadi lupa kalau belum ambil semua berkas di sini," cakapnya dengan menggaruk kepala sesekali.
"Oh yasudah kalau begitu ibu fikir kamu melupakan berkasmu sendiri makanya ibu hubungi kamu tidak di angkat jadinya ibu mengirim pesan saja supaya kamu bisa membacanya," imbuhnya sambil mencari berkas milik Nathan.
Grasak
Grusuk
Terlihat banyak tumpukan kertas dan beberapa berkas di atas mejanya sehingga buk Neti benar-benar sangat teliti dalam mencari nama Nathan.
Tak berapa lama berkas milik Nathan pun terlihat. "Nah ini punya kamu," ucapnya sambil meletakkan di dekat Nathan. "Ohya apa kamu kenal dengan Khanza Alesha? itu juga murid ibuk, kan?" sejenak tangan Nathan berhenti sesaat ketika ia hendak meraih berkasnya setelah ia mendengar nama Khanza.
"Ya bu dia murid yang satu kelas dengan saya," angguk Nathan pula dengan cepat.
"Lalu sekarang di mana dia? kemarin tidak ikut ujian akhir, info yang kami dapat dia sedang sakit namun setelah di tunggu sampai sekarang tidak ada kabarnya sungguh sayang sekali kalau dia tidak ikut ujian paket C karena jika dia tak ikut ujian sudah di pastikan tidak lulus dan setahu ibuk dia anak yang sangat pintar bahkan nilai di raportnya juga sangat bagus," katanya pula demikian sambil menunjukkan semua isi nilai raport yang tertera milik Khanza.
Melebar lah mata Nathan ketika melihat nilai raport milik Khanza sebab mendapat rata-rata nilai A+ itu masih nilai tertulis belum lagi nilai prakteknya tidak ada yang jelek satupun pantas saja dia selalu di peringkat atas dari Nathan, itulah fikirnya karena selama ini Nathan tak pernah tahu isi raport milik Khanza.
"Saya juga sedang mencari info keberadaannya bu sebab dia sudah pindah dari alamat yang ada di raport ini makanya sekarang saya berusaha mencari alamat terbarunya," alasan Nathan pula terlihat meyakinkan.
"Oh begitu, baiklah kalau kamu bertemu rumahnya katakan padanya untuk melanjutkan ujian paket C," pesan darinya membalas anggukan kepala lalu ia menyimpan kembali raport milik Khanza.
"Pasti saya sampaikan bu, maaf bu sudah waktunya saya pamit sekarang," tutur Nathan sejenak ia meraih berkasnya dan memasukkan ke dalam tas yang ia bawa dari rumah.
"Apa itu bu? tanyakan saja," turut Nathan dengan santai ia duduk kembali ke posisinya.
"Apa sekarang kakekmu baik-baik saja nak?" tanya buk Neti sejenak membuat Nathan menautkan kedua alis matanya.
"Dari mana ibu mendapatkan info itu?" kini Nathan balik bertanya karena ia tak merasa sudah memposting apapun tentang kakeknya.
"Sebuah video terekam beberapa detik di sosial media saat kakekmu di siram air keras dan setelah itu tidak ada berita apapun lagi," ungkapnya pula.
Siapa yang sudah berani merekamnya? batin Nathan tampak mengepalkan kedua tangannya itu.
"Kakek baik-baik saja kok bu dan sekarang ada di rumah," ucapnya dengan lontaran senyuman kecil.
"Baguslah kalau begitu ibu mengira kakekmu sedang dalam kondisi yang buruk sebab banyak yang tak menduga kejadian itu menimpa keluarga mu," katanya pula membalas senyum kecil Nathan.
"Ya bu, kakek kondisinya normal seperti biasa," balasnya. "Kalau begitu saya izin pamit bu," lanjutnya lagi sambil bangkit dari kursi dan bungkukan badan.
"Ya berhati-hatilah di jalan jangan lupa sampaikan salam ibuk untuk keluarga mu," lontaran senyum ramah buk Neti yang mengikuti Nathan sudah berdiri.
"Baik bu akan saya sampaikan," turut Nathan lalu ia beranjak dari tempatnya dengan mengeluarkan hawa dingin di wajahnya ketika hendak keluar mengarah pada pintu ruangan.
Seusai Nathan berlalu pergi.
"Neti, itu bukannya murid mu? wajahnya sangat tampan tapi sayang sungguh dingin," celetuk salah seorang guru sebaya buk Neti tepat berada di sebelahnya.
"Ah! siapa bilang dingin? bahkan aku ingin sekali menjodohkan anak gadisku padanya," celoteh buk Neti dengan tersenyum lebar ke arah temannya itu sambil memainkan kedua alis mata.
"Mimpi kau Net!" temannya itu menoyor kepala buk Neti seketika. "Berhayal saja kerjamu, dia cucu dari model papan atas mana mungkin mau berkeluarga dengan rakyat jelata," cerocosnya sesaat dia berjalan ke arah mejanya sambil terus mengoceh.
"Halah! bilang saja kau iri padaku, kita lihat saja nanti!" celetuknya pula lalu ia membuang wajahnya dengan berjalan ke arah luar pintu ruangan.
"Ck,ck sampai kapan dia terus bermimpi? dasar si tukang mimpi," gumam teman dari buk Neti bergeleng kepala sambil menghembus nafas sehingga ia terus mencibir lalu melirik buk Neti keluar.
Taman sekolah.
"Haduh si balok es itu kemana? sudah satu jam kita menunggu di sini," gerutu Devan yang sudah terlihat tak sabaran lagi.
"Bisa diem tidak mulutmu itu? mau aku sumpel pakai sepatu ku ini?" kelakar Amel terdengar pusing mendengar Devan sedari tadi mengoceh. "Sebentar lagi dia juga sampai," lanjutnya pula lalu ia menoleh ke arah masuknya taman. "Nah itu dia."
Tampak Amel loncatan sambil menggerakkan kedua tangannya mengarah pada Nathan.
"Nathan... Di si-"
"Awaaaasssss!"
^^^To be continued ^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
NANTIKAN TERUS HANYA DI AKU KHANZA ๐