Aku, Khanza

Aku, Khanza
Pulangnya Panji Ke Rumah...


...♡♡♡...


Halaman rumah keluarga Austin.


Hardi menghentikan mobilnya seusai ia memarkirkan di halaman rumah tampak Tina sedang duduk di depan bersama Hardi dan Chelsea duduk bersebelahan dengan mertuanya serta Chintya gabung dengan duo kembar itu di bangku terakhir.


Setelah mobil itu berhenti kemudian Hardi dengan sigap keluar dari dalam serta berlari ke arah garasi belakang mobil untuk mengambil kursi roda dan setelah ia mengeluarkannya lalu ia membawanya ke arah pintu mobil tempat duduk Panji lalu ia membuka pintu mobil tersebut bermaksud ingin membantu Panji supaya bisa duduk di kursi roda yang ia pegang.


"Mari tuan saya bantu duduk di sini," kata Hardi pula yang sudah memegang sebelah lengan Panji akan tetapi Panji tidak bereaksi apapun dia hanya terdiam dengan wajah yang berkerut


"Tak perlu memakai kursi itu lagi sebab aku tidak lumpuh masih bisa berjalan menggunakan tongkat sudah cukup kau saja yang duduk di kursi itu," tangkas Panji seketika membuat Tina membungkam mulutnya ingin tertawa sedang melihat Hardi yang melebarkan matanya melihat ke arah Panji lalu ia menoleh pada Tina pula tapi sesaat Tina langsung mengalihkan pandangan matanya.


"Tapi pa..." tampak Chelsea menahan lengan mertuanya itu.


"Apa kau tidak mendengarnya tadi?" balas Panji dengan nada yang sedikit keras.


Sejenak Chelsea membuang nafas kasar lalu ia melepas pegangannya tadi. "Hmm yasudah kalau begitu," turut Chelsea yang terpaksa mengiyakan karena sang mertua tak dapat di bantah kalau sudah begitu. "Hardi tolong kau papah saja tuan karena aku belum membeli tongkatnya," titah Chelsea setelah itu ia pun keluar dari mobil begitu juga dengan Chintya serta duo kembar yang serentak bersamaan keluar dari mobil.


"Baik nyonya, mari tuan saya bantu berdiri."


Hardi menggeser kursi roda tadi ke arah lain lalu ia menyambut lengan Panji secara erat serta Panji pun bergerak ketika lengannya sudah di pegang oleh Hardi.


"Pelan-pelan tuan," ucap Hardi yang terlihat sedang memegangi tubuh Panji perlahan.


"Bawa masuk saja kursi rodanya Yen," kata Chelsea sambil menunjuk ke arah kursi itu.


"Siap nyonya," patuh Yeni bungkukkan badan pula lalu ia berjalan ke arah kursi roda tersebut dan mendorong ke arah pintu belakang.


Tampak Hardi secara pelan memapah Panji di sebelahnya hingga menuju ke arah pintu rumah.


"Kalian juga masuklah ke dalam, yuk!" ajak Chelsea dengan lontaran senyuman kecil mengarah pada ke duanya.


Tina juga Chintya turut anggukan kepala dan mengikuti langkah Chelsea pula dari belakang bahkan Tina mendongakkan kepalanya melihat megahnya rumah keluarga Austin karena ia baru pertama kali datang ke rumah mereka.


"Besar sekali rumahnya kak," imbuh Tina berkata demikian lalu ia menoleh pada Chintya.


"Yap kau benar bahkan apartemen ku saja tidak sebesar ini," balas Chintya pula yang ikut mendongak ke atas.


Sesampainya mereka di depan pintu kemudian ada beberapa pengurus rumah sudah berderet menyambut kepulangan tuan besar mereka dengan serentak mereka bungkukan badan ketika Panji masuk pertama kali.


"Ssstt, diam lah Tina jangan terlihat kampungan," ejek Chintya kemudian Tina cemberut di saat Chintya mengejeknya.


"Anggap saja rumah sendiri, kalian duduklah dulu aku ingin melihat mertuaku di kamarnya," pesannya pula sebelum ia bergerak pergi.


"Oke nyonya," jawab serentak keduanya.


Chelsea pun beranjak dari tempatnya ke arah kamar sang mertua.


Sampainya Chelsea di depan pintu kamar yang sudah terbuka ia melihat mertuanya sedang duduk di depan jendela yang terbuka serta angin berhembus masuk ke dalam kamar itu.


"Papa kenapa duduk di sini? tidak istirahat saja?" bertanya lembut ketika Chelsea sudah berada di sebelah Panji.


"Aku sudah lelah berbaring lebih enak di sini, kau temani lah tamu yang kau bawa tadi biarkan aku sendiri dulu," pintanya pula berbicara serta tampak memejam kedua matanya seolah dia merasa menikmati angin yang berhembus mengenai tubuhnya walau tak dapat melihat.


"Baiklah, jika papa ingin sesuatu bisa panggil aku ataupun Yani," pesan Chelsea pula berkata dengan menepuk pundak mertuanya dengan pelan.


Panji hanya terdiam tanpa berbicara kemudian Chelsea menuruti keinginan dari mertuanya karena Chelsea tahu saat ini sang mertua sedang terpukul dengan keadaanya sekarang makanya Chelsea selalu mengiyakan setiap perkataan mertuanya.


"Aku keluar dulu pa," pamitnya sambil sesekali menoleh ke belakang sebelum menutup pintu ia pun sempat berdiri sejenak menatap lurus bahkan ia merasa sedih juga dengan kondisi mertuanya itu.


Tak berapa lama Chelsea menutup kembali pintu dengan rapat barulah Panji meneteskan air matanya.


"Maafkan papa, karena papa kalian semua jadi susah," gumamnya pula dengan berkata lirih sambil mengepalkan kedua tangan di atas pahanya secara kuat.


"Papa seakan tak berguna saat ini,' gumamnya lagi sesaat jatuhlah air mata di pipinya yang sudah tampak ada bekas di area wajah akibat air keras yang mencelakainya sejak kejadian itu wajah Panji seolah tak dapat di kenali jika bukan dari anggota keluarganya sebab wajah Panji seperti cacat bisa di katakan daging yang terkelupas dari kulit ya begitulah kira-kira.


Kehampaan Panji serta kesedihannya membuat dia berfikir ingin melarikan diri namun dia masih belum mampu untuk berjalan jauh.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Jikalau kau merasa sendiri ingatlah tuhanmu karena ia tidak akan meninggalkan mu seorang diri walaupun kau sering berbuat hal yang tak di sukainya jadi apapun keluhanmu hanya tuhan yang setia mendengarkannya ❤️