
...โกโกโก...
Ckiiittt
Brukk
"Ssshh, kenapa ngerem tiba-tiba?" gerutu Nathan yang terkejut dari lelapnya karena Ded berhenti secara mendadak lalu ia tampak berdesis mengelus jidatnya.
"Maaf tuan muda saya bukan sengaja membuat tuan terkejut coba tuan lihat ke arah gerbang," cakap Ded pula sambil menunjuk ke arah gerbang rumah Nathan.
Nathan pun menoleh ke arah kaca mobil di sebelah tempat duduknya saat ini sehingga ia menautkan kedua alis matanya.
"Mau apa orang-orang itu datang ke sini? apa mereka semua ingin minta sumbangan?" celetuk Nathan membuat Ded merasa heran ucapan dari bos mudanya itu.
"Itu bukannya seperti para media ya tuan? kenapa tuan mengatakan peminta sumbangan?" tanya Ded pula dengan polosnya.
"Ya! aku juga tau itu para wartawan tapi ini kan masih pagi makanya aku mengatakan mereka peminta sumbangan sampai berkerumunan begitu, apa tidak ada tugas lain yang harus mereka kerjakan?" omelan Nathan membuat Ded ingin melepas tawanya namun ia tahan sebab bisa jadi bumerang jika ia terlepas dari tawanya.
"Lalu kita harus bagaimana tuan? mereka semua pada berkumpul di depan gerbang," imbuh Ded yang menoleh ke arah Nathan.
Dalam beberapa saat Nathan terdiam tanpa membalas pertanyaan dari Ded.
"Kita lewati saja! jangan lupa kau membunyikan klakson terlebih dulu," titah Nathan pula lalu ia kembali bersender di kursinya sambil memejamkan kedua matanya.
"Baik tuan muda," turut Ded dengan anggukkan kepala lalu ia mulai melajukan mobilnya ke arah gerbang.
TIIINN TIINN
Bunyi klakson berulang kali terdengar oleh para wartawan itu sehingga mereka mengira kalau yang datang ialah Panji dengan sigap semua wartawan itu mengerumuni mobil berwarna kuning milik Nathan sambil berbicara menanyakan bagaimana kondisi Panji saat peristiwa penyiraman air keras terjadi padanya namun mobil tersebut terus melaju walau pelan dan Hardi juga tetap memainkan klakson mobilnya supaya para wartawan itu segera menghindari mobil yang sedang berlaju.
Kemudian gerbang tersebut terbuka lebar karena satpam penjaga rumah mereka menyadari kalau yang datang ialah bos mudanya akan tetapi gerbang itu kembali di tutup setelah mobil Nathan masuk ke dalam perkarangan rumah lalu mobil itu berhenti tepat di garasi penyimpanan mobil.
Satpam itu awalnya sudah merasa pusing karena para wartawan yang bergerombolan terus bersikeras ingin masuk padahal sudah di jelaskan kalau Panji sedang di rawat namun mereka tetap tidak percaya sebelum berbicara langsung pada Panji, yeap begitulah pengakuan dari satpam itu pada Nathan ketika ia sudah keluar dari mobilnya.
"Halo, apa yang kalian lakukan di depan gerbang ini?" tanya Nathan secara santai namun karena ketahuan seseorang ingin merekam ketika Nathan sedang berbicara lalu ia pun tersenyum tipis. "Jangan ada yang merekam satupun dengan kamera kalian kalau tak ingin kamera itu hancur dan kalian terpaksa membelinya dengan yang baru," cakap Nathan terdengar nyelekit namun masih santai.
Tentu saja wartawan yang berniat ingin merekam pun ia undurkan karena melihat aura Nathan yang terasa dingin ketika mata melihatnya secara dekat.
"Aku mengerti kalau kalian sedang melaksanakan tugas untuk mencari berita tetapi dengan sangat aku menolak jika peristiwa yang menimpa keluargaku di publish jadi kalian carilah berita yang lain asal tidak pada keluargaku," celoteh Nathan lagi terdengar berkata tegas menatap ke seluruh wartawan tersebut sehingga mereka terdiam tak berani bersuara. "Kalian membuang waktu jika berada terus di depan gerbang ini sepanjang hari karena tak akan ada orang yang memberikan kejelasan pada kalian semua," ujarnya pula sambil melontarkan senyum kecil supaya mereka yang melihat ke arahnya sedikit tenang tidak tegang seperti itu.
Sementara itu ada salah satu wartawan wanita maju selangkah dengan memberanikan dirinya. "Maaf sebelumnya tuan ini siapa?" tanya wanita berseragam dinas lengkap beserta atributnya.
Lalu Nathan tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu karena tak menduga ternyata banyak orang yang tidak mengenali dirinya. "Kenalkan aku Nathan Austin cucu dari Panji Faldo yang ingin kalian nanti keberadaannya.
Saat lontaran itu terdengar jelas di telinga mereka makanya semua yang berdiri di depan Nathan menjadi terpelongo sebab mereka tak menduga bahwa Panji memiliki cucu yang begitu tampan bahkan sangat berwibawa tak jauh beda ketika Panji sedang berbicara.
"Ohiya apa kalian ingin mengetahui keadaan kakek ku sekarang? baiklah aku akan mengatakannya pada kalian kalau kakekku sekarang dalam keadaan sehat jadi kalian tak perlu mencari tahu lagi sekarang kalian boleh bubar karena masih banyak tugas yang menanti kalian selain menunggu di sini," ucap Nathan yang masih terus berkata sopan supaya mereka semua paham maksud ucapannya itu.
Para wartawan itu saling berpandang satu sama lain lalu mengangguk serentak secara bersamaan kemudian kembali menatap ke arah Nathan. "Terimakasih tuan sebelumnya, maaf karen kami sudah menganggu ketenangan tuan dan kalau begitu kami pamit tuan," turut mereka pula yang hendak ingin melangkah pergi sebelum itu mereka pun bungkuk serentak.
"Tunggu dulu!" senggak seorang lelaki yang memakai kemeja abu bercampur garis hitam dan tampak rapi sedang membuka suara lalu melangkah ke arah depan berjalan dengan lantangnya.
"Bukankah kakek anda mengalami luka berat lalu bagaimana anda mengatakan kalau kondisinya baik-baik saja? apa anda berniat menipu kami semua?" katanya dengan menuduh Nathan secara terangan.
Mereka yang hendak ingin pergi akhirnya terdiam seketika saat mendengar ucapan lelaki itu sehingga semua mata tertuju pada lelaki tersebut.
Sedangkan Nathan hanya tersenyum kecil tampak biasa saja karena ia merasa lelaki itu hanya provokator yang tak mendasar.
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
Nantikan cerita yang akan datang...