Aku, Khanza

Aku, Khanza
Berbagi Cerita?


...♡♡♡...


Tap


Tap


Suara langkahan kaki mengarah pada Khanza lalu ia dan beserta ke dua adiknya menoleh ke belakang sehingga mereka melihat wanita separuh baya itu sedang membawa kotak obat juga beberapa potongan buah semangka yang telah tersusun dia atas piring kaca.


Sesampainya wanita itu di dekat mereka lalu ia meletakkan piring berisi buah tadi di atas bangku tempat mereka duduk. "Ayo anak-anak di makan dulu," katanya dengan sangat ramah melontarkan senyum lebar di bibirnya.


"Waahhh, ada semangka! biasa bunda..." sejenak keriuhan Zizi berhenti saat ia mengingat wajah Hayati di benaknya.


"Apa kau tidak suka semangka nak?" tanya lembut dari wanita itu serta ia belai rambut Zizi sesekali


"Suka nek, tetapi..."


Zizi kembali berhenti dalam ucapannya dan tertunduk lesu.


"Zi, sudahlah! di makan saja," sanggah kakaknya berkata demikian lalu Zizi menoleh dan memberikan tawa kecilnya serta anggukan kepala.


Wanita separuh baya itu menjadi terheran dengan reaksi Zizi barusan ketika melihat buah semangka seakan ada sesuatu hal yang dia pendam, itulah pemikiran dari si wanita tersebut.


Tak berapa lama Zizi menancapkan buah tadi memakai garpu yang sudah sengaja di sediakan kemudian ia mengarahkan buah yang ada di pegangan tangannya pada Khanza karena ia tahu sang kakak masih terluka di bagian kedua telapak tangan.


"Untuk kakak?" tanya sang kakak yang sudah terpelongo pada adiknya.


Zizi dengan cepat anggukkan kepala melontarkan senyum tipis di wajahnya yang lucu itu sehingga ketika mata melihatnya seakan tersentuh dengan kakak beradik tersebut.


Khanza membuka mulutnya dengan suapan yang di berikan adiknya seolah ia merasa sangat beruntung memiliki adik seperti Zizi bahkan ia bersyukur sudah di titipkan seorang adik yang belum tentu orang lain dapatkan makanya Khanza tidak bisa berlama-lama untuk marah pada adiknya.


"Kalian berdua mengingatkan ibuk pada adik perempuan ibuk yang sudah dari kecil tiada," ungkapnya dengan bernada sedikit lirih dan terus menatap keduanya dengan mata yang berbinar seakan ia benar-benar sedang mengingat memori saat bersama saudaranya. "Ah sudahlah kalau di ingat terus bisa-bisa kalian tertawakan ibuk menangis di sini," lanjutnya pula lalu ia berjalan sedikit dan duduk di sebelah Khanza.


Wanita itu meraih kedua tangan Khanza ketika sudah menoleh padanya lalu telapak tangan Khanza ia letakkan di atas pahanya serta ia mulai membasahi kapas dengan alkohol untuk membersihkan darah yang sudah hampir mengering dengan campuran pasir.


Secara perlahan ia mulai menyeka darah itu memakai kapas yang sudah ia basahi.


"Ssshhh," desis perih dari mulut Khanza terdengar begitu jelas di telinga wanita itu.


"Apa sangat perih? tahan dulu nak, sebentar lagi hilang sakitnya setelah ibuk kasih salap, ini merupakan salap tradisional yang sering ibuk gunakan karena salap ini lebih cepat menyerap ke dalam kulit yang terluka dan cepat pula menutup lukanya," ia sengaja mengajak Khanza berbicara supaya tak merasakan sakit ketika ia sedang mengobati.


"Benarkah? saya baru pertama kali mendengar ada salap yang seperti itu," keriuhan Khanza membuatnya melupakan rasa sakit dan wanita tadi sudah hampir menyelesaikan tugasnya memberikan salap di kedua telapak tangan Khanza bahkan ia sesekali melontarkan senyum kecilnya pada Khanza.


"Buk, apa saya boleh bertanya?" sesaat Khanza menatap lembut ke arah wanita itu.


"Apa yang ingin kau tanyakan nak?" balasnya dengan ramah setelah ia mengarah pada Khanza kembali.


"Apa ibuk tinggal sendirian? atau ibuk ada seseorang yang menemani?" tanya Khanza lagi karena memang sedari tadi dia sangat penasaran walau sebenarnya ia sangat segan ingin bertanya.


"Oh, ibuk tinggal bersama suami dan sekarang dia sedang keluar."


Dalam ucapan itu terdengar ada suatu beban yang di sembunyikan oleh wanita bernama Meli ini sebab sejenak ia mengalihkan wajah lalu terlihat sekilas oleh Khanza buk Meli itu menyeka kedua matanya.


"Ibuk kenapa? cerita saja jika itu bisa membuat beban ibuk sedikit berkurang," imbuh Khanza yang melontarkan senyuman hangat di wajahnya lalu ia mengelus punggung tangan buk Meli ketika ia menyadari telapak tangannya sudah mulai kering dan tak berapa perih lagi.


Seketika buk Meli mendongak ke arah langit yang di tutupi oleh awan namun masih sangat indah ketika mata memandang dari kejauhan tampak juga burung-burung sedang berbaris yang terbang di atas langit serta hembusan angin bercampur teriknya matahari begitu terasa masuk ke dalam kulit.


"Beberapa tahun silam adik perempuan ibuk berumur 7 tahun terserang penyakit getah bening di bagian otaknya dan harus segera operasi namun sebelumnya kedua orangtua ibuk sudah lama tiada jadi adik perempuan ibuk tinggal bersama ibuk di sini dan suami, akan tetapi..."


"Hmm jika ibuk tidak ingin cerita jangan ibuk paksakan," kata Khanza pula yang tampak mengusap-usap punggung belakang buk Meli.


Tampak buk Meli sudah mulai berkaca-kaca sebelum ia melanjutkan pembicaraannya kembali lalu ia tertunduk dan menitikkan air mata sejenak sembari menarik nafas panjang membuangnya kasar.


"Uang operasi untuk adik ibuk di gunakan suami bermain judi serta minuman kerasnya yang tiada habis," lirihan suara dari buk Meli sangat menyayat hati Khanza ketika mendengarnya sehingga ia bisa merasakan buk Meli sangat terpukul atas kejadian yang menimpanya.


"Ya allah, bukankah berjudi di haramkan dan mabukan juga di larang keras oleh agama kita?" tanya Khanza pula yang masih memberi kehangatan dari balik usapan lembut di punggung buk Meli.


Sebelumnya Khanza sempat melihat ayat suci allah terlihat jelas di dalam warung buk Meli ketika sebelumya Khanza membeli minuman.


"Entahlah ibuk tidak habis fikir semenjak suami ibuk di pecat dari kerjaannya dia hampir setiap hari bermalasan dan hanya menghabiskan uang di warung alhasil ibuk bongkar lagi celengan untuk belanja melengkapi isi warung," sesekali ia menyeka tetesan air mata bahkan suaranya terdengar sangat pilu.


Khanza hanya bisa memberikan sedikit kehangatan untuk buk Meli supaya tidak larut dalam kesedihan sebab ia juga seorang diri menanggung semua beban yang sedang ia pikul saat ini.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Jadikan hidupmu berguna untuk oranglain bukan untuk menyusahkan oranglain sebab kau di ciptakan sebagai perantara dari tuhan, jangan kau senang sendiri saat kau susah malah menyulitkan oranglain ❤️