
...♡♡♡...
Teras belakang dapur warung pak Yudi.
"Halo, saya ingin memberikan info penting pada kalian," kata Ratih berbicara melalui ponsel miliknya.
"Ya, anda siapa?" tanya seorang lelaki di sebrang menjawab di balik ponsel miliknya.
"Saya Ratih, pemilik warung nasi daerah Babakan Ciparay! saya membaca lembar kertas atas pencarian anak hilang makanya saya langsung menghubungi kalian," katanya pula menjabarkan sambil celingukan melihat situasi tempatnya berdiri.
"Apa kau mengetahui kedua anak yang ada di kertas itu? apa kau tidak salah melihat?" tanya lelaki itu lagi.
"Benar tuan, saya yakin tidak salah dan kedua anak itu ada di warung saya sekarang," ungkapnya terdengar meyakinkan lelaki tersebut.
"Kalau kau sampai mempermainkan aku, habislah kau di tanganku!" cecar si lelaki itu memberi peringatan terhadap Ratih.
"Tidak tuan, saya mana berani bermain dengan tuan! lalu, saya harus melakukan apa tuan?" tanya Ratih dengan beraninya.
"Kau ikuti ucapanku dan ingat jangan sampai ada kesalahan, apa kau mengerti?" titah lelaki itu mengulang peringatannya pada Ratih.
"Baik tuan! saya mengerti," turut Ratih dengan percaya dirinya tanpa berfikir terlebih dulu.
Sementara itu mereka sibuk menyusun rencana untuk Ratih bisa membawa Khanza serta adiknya tanpa di ketahui oleh suaminya apalagi dirinya tahu kalau Khanza akan segera pergi dari warungnya, jelas Ratih tidak ingin kesempatan tuk dapatkan uang bernilai besar lenyap begitu saja makanya dia tampak sedang berfikir bagaimana caranya supaya bisa mengalihkan perhatian suaminya itu.
Seusai Ratih berbicara pada lelaki itu ia menyimpan ponselnya kembali dan beranjak dari tempatnya berjalan ke arah depan dengan santai tanpa terlihat di curigai oleh siapapun.
Sesaat Ratih duduk di bangkunya sambil menatap ke arah Khanza melontarkan senyum senangnya yang sebentar lagi akan mendapatkan uang yang sangat besar, itulah fikir Ratih.
"Yeah! sebentar lagi uang 50 juta jadi milikku, hah! ternyata anak gembel itu berguna juga," gumam Ratih sambil bersender di bangkunya menatap jauh Khanza yang terlihat sibuk melayani pesanan. "Tapi aku masih penasaran dengan anak ini, kenapa dia di cari? apalagi imbalannya juga besar! apa dia berasal dari anak orang kaya?" bergumam lagi seolah seperti orang gila yang berbicara sendiri karena sempat terlihat oleh suaminya kalau sang istri sedang menatap Khanza sambil mengoceh.
.
.
.
Menjelang sore hari sekitar pukul lima.
Kreek
"Pa, ini mama bawakan teh hangat di minum dulu," tegur Ratih menyuguhkan gelas berisi teh saat ia hendak masuk ke kamar terlihat pula suaminya sedang menghitung penghasilan hari ini.
"Ya aku ingin saja, sekalian tadi aku buatkan tuk mereka juga," katanya pula membuat mata suaminya melebar seketika.
"Apa aku tidak salah dengar? kau buatkan tuk mereka juga?" tanya suaminya yang sedikit tak mempercayai ucapan istrinya itu.
"Iya, memang kenapa? tetapi tehnya belum di minum mereka, masih aku letak di atas meja," jawabnya pula berusaha melontarkan senyum di depan suaminya.
"Kau memang istri yang baik," turut sang suami meraih kepala istrinya dengan mengecup hangat kening sang istri.
Gluk Gluk
Pak Yudi meminum teh itu dengan beberapa tegukan sampai kosonglah gelas itu sangking nikmatnya yang dia rasakan.
Ratih menaikkan satu alis matanya saat sang suami minum teh buatannya itu sampai tidak ada sisa.
"Bagaimana penjualan hari ini?" tanya istrinya setelah usai suaminya minum.
"Alhamdulillah ma, hari ini memang pengunjung lebih banyak dari biasanya."
Pak Yudi tampak berbicara dengan nada yang terdengar bahagia sambil menghitung lembaran uang di tangannya.
"Ohya ma, kira-kira berapa kita berikan pada Khanza hari ini? karena dia sudah banyak membantu kita, kalau tidak ada dia mungkin tidak bisa papa handle sendiri," lanjutnya lagi sambil menoleh pada istrinya.
Akan tetapi pandangan dari pak Yudi sedikit buram entah mengapa apalagi dirinya menguap terasa ngantuk di tambah kepalanya yang berat ingin rebahan saja, itulah yang di rasakan oleh pak Yudi setelah ia meminum teh buatan istrinya.
Brugh
Akhirnya pak Yudi tumbang di atas kasurnya dan tak sadarkan diri lagi.
"Maaf pa, karena kau harus tidur untuk sementara waktu sampai aku berhasil membawa mereka dari sini," gumamnya pula terlihat puas karena rencananya mulus tiada kendala.
Ratih memungut uang yang terjatuh ke lantai saat terlepas dari tangan suaminya kemudian dia menyatukan semua uang yang ada di kasur setelah itu dia menghitung seluruhnya.
"Lumayan lah, bisa beli tas terbaru! hahah, dan apa katanya tadi? mau memberikan uang pada mereka? enak saja! sepeser pun tak akan ku berikan," gumamnya lagi sambil mendengus ke arah suaminya yang sudah terkapar di atas kasur.
Ratih meletakkan uangnya di dalam lemari pakaian setelah itu ia kunci rapat, lalu dia beranjak dari tempatnya untuk menyusul Khanza menjalankan rencana berikutnya.
Next...
...TETAP STAY SELALU ...