Aku, Khanza

Aku, Khanza
Bingkisan Makanan


...♡♡♡...


Walaupun hanya sebungkus roti yang mereka makan namun itu sudah sedikit mengenyangkan perut yang terasa lapar walau tidak se-kenyang saat makan nasi.


Malam yang semakin terasa dingin sampai menusuk ke dalam tulang rasanya tak tertahan lagi tetapi mereka mampu melewati semuanya secara bersama dalam suka maupun duka mereka selalu memberi kehangatan satu sama lain, tampak sang kakak mendekap tubuh adiknya dan sang adik juga melakukan hal yang sama dengan memeluk erat tubuh kakaknya supaya merasa hangat walau tidak sepenuhnya tertutupi oleh tubuhnya yang kecil itu.


Saat Zizi tersentak dalam tidurnya ia melihat kakaknya sedang menggigil karena kedinginan yang terasa memuncak masuk ke dalam tubuh Khanza, sang kakak rela memberikan semua bajunya untuk menutupi tubuh Zizi sebagai selimut sementara dirinya tidak memakai sehelai pun tuk melapisi tubuhnya dan hanya baju yang dia pakai saja tuk menepis rasa dinginnya oleh sebab itu Zizi hanya menghembus nafas pelan ketika menatap kakaknya yang sedang berusaha melakukan apapun demi dirinya.


Akhirnya Zizi bangkit dari tidurnya hingga terduduklah di samping kakaknya dengan menutupi tubuh sang kakak sampai pada kaki dan setelah ia selesai menutupinya ia bersender di sebuah tembok sambil menekuk lututnya memakai kedua tangannya merasakan udara yang bertambah dingin teramat sangat di rasakan oleh Zizi karena dia hanya menutupi bagian kakinya saja maka dari itu ia berulang kali menghembus nafas di balik kedua telapak tangannya yang kecil.


Zizi menatap indahnya langit malam yang bertabur bintang dengan cahayanya yang berkelap kelip membuat Zizi merasa ada yang menemani malamnya saat ia terduduk sendiri sementara yang lainnya sudah pada terlelap, ketika ia terhentak ternyata sudah pukul 02.00 pagi namun matanya sudah tidak dapat terpejam lagi sebab itu dirinya hanya asyik menatap langit hingga terlontar pula senyum cerianya karena ia belum pernah duduk tepat di bawah langit seperti itu.


Sungguh Zizi sangat menikmati malamnya yang dingin di temani oleh bintang di atas langit tampak pula dirinya memejam mata sambil tersenyum entah apa yang di fikirkan anak sekecil Zizi seolah raut wajahnya terukir sangat jelas meminta suatu keajaiban datang menyertai kakaknya juga dirinya.


.


.


.


Pagi hari pukul delapan.


Ciipp Ciipp


Kukuruyukk


Suara burung gereja serta suara kokokan ayam membangunkan Khanza seketika.


Dia merasa terheran semua baju sudah menempel menutupi tubuhnya apalagi ia juga tersadar kalau Zizi sudah tidak ada lagi di dekatnya.


"Zi, di mana kau?" teriak Khanza yang kebingungan saat dirinya sadar dari tidurnya.


Khanza bangkit beranjak dari tempatnya dan terus berjalan mencari adiknya yang tak terlihat oleh matanya lalu dari kejauhan ia melihat segerombolan orang sedang berbaris entah menunggu apa dan sekilas Khanza memperhatikan satu persatu orang yang berbaris itu, pada akhirnya dia melihat adiknya antara barisan tersebut bahkan tampak tersenyum pada seorang anak kecil hampir seumuran dengannya.


Setelah beberapa saat Khanza hanya berdiam diri melihat adiknya mendapat bingkisan dari sebuah mobil berwarna kuning yang tak asing baginya namun ia tak dapat menebak siapa pemilik mobil tersebut karena yang membagi bingkisan bukan orang yang dia kenal.


Lamunan panjang Khanza membuatnya tak sadar kalau adiknya sudah sedari tadi memanggil dirinya.


"Kak, kakak!" sekian kalinya sang adik menggoyangkan tubuh kakaknya yang sedang melamun itu.


"Ah iya maaf Zi," katanya pula saat terhentak karena panggilan dari adiknya namun dia belum menyadari kalau adiknya tidak sendirian. "Loh? Taro, kenapa kalian bisa bersama?" tanyanya merasa terheran tiba-tiba saja Taro ada di depan matanya melontarkan tawa kecilnya itu.


Tetapi karena masih penasaran dengan mobil yang dia kenal itu Khanza menahan langkahnya dengan menoleh ke mobil kuning tersebut.


Di saat pembagian bingkisan terakhir barulah dia melihat wajah yang sangat familiar sekali dan ternyata orang yang membagi bingkisan itu adalah kakek Panji, jelas saja Khanza langsung melepas tangan Zizi dan berlari hingga berteriak memanggil nama kakek Panji akan tetapi mobil itu sudah berjalan meninggalkan tempat itu, awalnya kakek Panji berada di dalam mobil dan di saat dia melambaikan tangan ke arah anak kecil barulah Khanza menyadari pemilik mobil tersebut memang orang yang dia kenal.


Khanza terus berlari dengan berteriak memanggil nama kakek Panji tetap mobil itu tidak berhenti seakan semakin jauh darinya, akhirnya Khanza berhenti mengejar karena sudah merasa lelah seolah kehabisan nafas mengejar mobil yang tak akan mendengar suaranya sama sekali.


Taro dan Zizi berlari menghampiri Khanza yang masih berdiri menatap mobil yang sudah semakin jauh darinya.


"Ada apa kak? apa kakak kenal dengan orang itu?" tanya adiknya memegang pergelangan tangan kakaknya.


Namun Khanza hanya berdiam diri saja tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya, ia terus menyeka keringat yang mengucur membasahi wajahnya itu.


.


.


.


"Tuan besar sepertinya tadi ada yang mengejar mobil kita," cakap dari sopir kakek Panji pula sambil melihat dari pantulan kaca spion.


"Siapa? apa kau yakin ada orang yang memanggil nama ku? aku tidak mengenal satupun orang dari daerah ini," katanya pula merasa terheran.


"Mungkin hanya perasaan saya saja tuan, maaf!" turutnya pula karena sudah melihat tidak ada apapun dari pantulan kaca spion.


"Nathan, apa kau sudah dapatkan alamat rumah orang tua Alsha?" tanya kakek Panji menoleh ke arah cucunya yang sibuk menatap laptop miliknya.


"Belum kek, sekarang aku sedang mencari tahu keberadaan ibu angkat Alsha kek," jawabnya pula namun tidak menoleh pada kakeknya.


"Info apa yang sudah kau dapatkan?" tanya kakek Panji terdengar tidak sabaran segera ingin mengetahui kabar Khanza.


"Di sini aku mendapatkan alamat rumah besar dari mertuanya bernama Shopia," ungkap Nathan sambil menunjuk ke arah laptop miliknya.


Di saat Nathan menyebut nama Shopia seketika kakek Panji melebarkan matanya merasa tak asing mendengar nama itu.


Next...


...Kutipan :...


Berharaplah pada Tuhanmu, dan jangan pernah kau berharap pada manusia yang pasti tidak akan kau dapatkan ❤️