
...โกโกโก...
Hap Hap
Nyam Nyam
Sangat terdengar jelas suara kunyahan Zizi saat menyantap makanan yang tersedia di atas meja dan terutama ayam goreng kesenangan Zizi, alangkah senangnya hati Khanza melihat adiknya bisa makan malam itu apalagi dengan hanya melihat adiknya seperti itu saja Khanza teramat bahagia.
Mereka di jamu oleh pemilik rumah makan bernama pak Yudi saat Khanza meminta pekerjaan padanya beberapa menit yang lalu.
Pak Yudi memang terkenal dengan sosok yang dermawan dan semua itu sudah di ketahui oleh orang yang berada di sekitarnya, ia juga memiliki anak perempuan berusia 23 tahun namun anaknya sekarang sedang merantau ke negara lain karena sebuah pekerjaan.
Khanza awalnya tidak menduga kalau pak Yudi memberikan dirinya tumpangan berganti pakaian di tambah lagi pak Yudi memberi mereka makan tanpa harus bekerja dulu sungguh beruntung Khanza bertemu dengan orang sebaik pak Yudi.
Tap Tap
Langkah kaki sejenak terdengar mengarah pada meja tempat duduk kedua saudara itu.
"Zi pelan-pelan saja makannya! sampai bercelemotan begini," cakap sang kakak sambil menyeka sisa nasi di mulut Zizi.
"Biarkan nak, namanya juga anak kecil wajar kalau makan sampai begitu," tegur pak Yudi hendak ingin meraih kursi untuk duduk bersama mereka.
"Maafkan kami pak yang sudah sangat merepotkan bapak," turut Khanza terlihat begitu segan sekali dan berulang kali dia bungkukan badannya di depan pak Yudi.
"Sudah-sudah kau jangan merasa tidak enak begitu karena bapak ikhlas menolong kalian, apalagi sebagian rezeki yang bapak dapatkan itu juga hak kalian," katanya pula membuat Khanza melontarkan senyum hangat di balik pinggir bibirnya. "Lalu kenapa kau tidak makan?" lanjut pak Yudi lagi saat tersadar kalau Khanza tidak menyentuh makanan di atas meja
"Saya harus membantu bapak terlebih dulu yang terpenting bagi saya saat ini adik saya bisa makan," lirih Khanza membuat kunyahan Zizi berhenti sejenak.
"Kakak bohong lagi? katanya kakak sudah makan sebelum Zizi," protes adiknya menautkan kedua alis mata merasa tidak terima sudah di bohongi kakaknya.
Khanza hanya menghembus nafas kasar melihat celotehan adiknya itu.
"Ayo duduk lagi, kau tidak boleh begitu Zi," seru kakaknya meraih lengan Zizi supaya mengikuti ucapannya.
Pak Yudi bergeleng kepala melihat Khanza bersikap kuat tuk adiknya dan seketika pak Yudi meraih centong nasi untuk mengisi piring kosong serta menambahkan sambal di atasnya.
"Ini, ayo makan! kau jangan khawatir, bapak tidak akan meminta bayaran karena kalian makan di sini, ayo makan jangan sungkan lagi," kata pak Yudi menyuguhkan piring itu di depan Khanza.
Khanza langsung menyambut pring itu dengan sangat sopan.
"Terimakasih pak," turut Khanza sangat merasa tidak enak pada pak Yudi.
Akhirnya Zizi duduk kembali dengan senyum manisnya karena melihat sang kakak akan segera makan bersama dirinya.
Pak Yudi hanya memberikan senyum hangat kepada keduanya karena melihat sepasang saudara itu asyik menikmati makanan mereka.
Beberapa saat kemudian setelah keduanya selesai makan.
"Bapak sampai lupa bertanya nama mu!" cakap pak Yudi terlihat menepuk pelan jidatnya sendiri. "Siapa nama mu nak? dan kenapa kalian bisa ada di luar dengan cuaca yang dingin ini?" tanya pak Yudi membuka suara terlebih dulu karena dia sangat begitu penasaran sekali sehingga terlihat jelas dari matanya.
"Nama saya Khanza pak," jawabnya pula. "Kami tidak punya rumah," lanjutnya lagi terdengar lirih.
Khanza mengelus rambut Zizi yang sudah tampak tertidur.
"Saudara kalian di mana? apa kau tidak sekolah?" tanya pak Yudi lagi.
Mengingat saat dirinya sudah tidak berada di rumah Hayati ketika peristiwa ia di racun mulai dari situlah dia tidak berfikir untuk sekolah lagi padahal di hari kejadian itu dia harus melaksanakan ujian akhir sekolah.
Oleh sebab itu Khanza hanya terdiam ketika pak Yudi melontarkan pertanyaan itu padanya, dia hanya bergeleng kepala tanpa berbicara hingga kepalanya tertunduk sangat lesu sekali.
Sepintas pak Yudi melihat dari sorot mata Khanza yang di penuhi dengan kesedihan serta air mata itu membuat pak Yudi bisa merasakannya walau baru pertama kali bertemu dengan Khanza.
"Baiklah kalau begitu kalian di sini saja dulu sampai mendapatkan tempat tinggal."
Pak Yudi sempat menitikkan air mata walau langsung ia seka sehingga Khanza tak sempat melihat dirinya yang sudah terbawa suasana haru itu.
"Terimakasih sekali lagi pak, saya akan melakukan pekerjaan apapun yang bapak suruh," riuh Khanza sejenak berdiri hingga bungkuk berulang kali dan tampak ceria kembali setelah mendengar ucapan pak Yudi barusan.
Tap Tap
"Oh, ada yang kau tampung lagi ternyata!" tegur dari salah satu wanita dari balik punggung mereka terdengar sinis sekali.
Keduanya berbaik badan dan menoleh secara bersama.
Wanita itu tak lain ialah istri pak Yudi sendiri.
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
...Kutipan :...
Makanlah sebagian hak kamu, karena itu Tuhan yang perintahkan pada sebagian manusia yang mempunyai rezeki berlebih hendaknya dia berbagi dan jangan pernah membiarkan orang lain kelaparan sedangkan kamu mampu menghilangkan rasa laparnya โค๏ธ
Apa yang akan terjadi setelah ini? tetap ikuti kisah di balik perjuangan khanza ๐