
...♡♡♡...
Khanza mulai menapaki jalan bebatuan saat dirinya sampai mengarah pada kursi yang tampak di duduki oleh banyak orang, seketika mata Khanza melebar melihat sebuah keranda di saat itu pula ibunya meninggal setelah melahirkan Zizi di bawa menggunakan keranda yang sama bentuknya.
Hati Khanza langsung kacau dan bahkan terlihat keringat dingin mengingat kejadian dirinya berpisah dari ibu yang sangat dia sayangi hingga saat ini pun Khanza masih belum bisa melupakan kepergian ibunya.
Sementara itu Khanza terdiam masih terus berdiri seakan tak mampu untuk berjalan apalagi adiknya belum terlihat oleh matanya semakin berkecamuk pikiran Khanza malam itu.
Sempat terfikir olehnya terjadi sesuatu pada Zizi ataupun nek Raya.
"Kakak..."
Jeritan bercampur isak tangis dari suara Zizi menghentakkan bathin Khanza yang tertunduk meremas semua jemari tangannya, di saat jeritan itu Khanza menegakkan kepalanya melihat Zizi dari jauh memanggil namanya bahkan berlari dari jauh.
Sesampainya Zizi mendekati Khanza ia langsung memeluk tubuh sang kakak dengan gemetaran sekali seakan penuh ketakutan.
"Ada apa Zi? kenapa begitu banyak orang di sini?" tanya Khanza pula mecoba melepaskan dekapan Zizi di tubuhnya itu.
"Ayo kak kita masuk saja, supaya kakak bisa melihat sendiri di dalam." Zizi mengajak kakaknya hingga dengan cepat ia menarik lengan sang kakak sambil membawanya secara berlari.
"Pelan-pelan saja Zi, nanti kita terjatuh!" kata Khanza pula terdengar nafas mulai tak beraturan.
Namun Zizi terdiam tanpa mendengar pesan dari kakaknya itu dia terus membawa sang kakak berlari sampai menuju gubuk nek Raya.
Sesampainya di depan pintu gubuk barulah Zizi melepaskan pegangan tangannya dari Khanza.
Bola mata Khanza langsung memerah dan mulai mengeluarkan air mata di saat dia melihat nek Raya di balut kain panjang menutupi seluruh tubuhnya.
Kini dia sadari bahwa Tuhan punya rencana sendiri untuk dirinya dan sang adik dalam menjalankan kehidupan setelah kepergian nek Raya malam itu.
Khanza pun masuk ke dalam dan mendekati tubuh dingin nek Raya yang sudah banyak memberikan bantuan padanya, hati Khanza terasa begitu pedih sekali melihat tangan yang mengobati dirinya kini terbujur tidak bernyawa lagi.
Baru sebentar dia hidup bersama nek Raya dan ia juga belum sempat mewujudkan keinginan untuk membahagiakan nek Raya tetapi sudah meninggalkan dirinya terlebih dulu.
Sejenak ia memeluk dengan erat tubuh Zizi, bahkan terasa gemetaran ketika dekapan itu berlangsung.
Beberapa menit setelahnya Khanza melepas pelukan itu serta menyeka sisa air matanya, dan mulai bertanya pada Zizi secara perlahan tentang kejadian yang menimpa nek Raya sampai menghembuskan nafas terakhir.
"Zi, apa yang sudah terjadi? ceritakan pada kakak," kini ia meraih jemari tangan adiknya yang terlihat ketakutan itu.
Khanza membelai rambut adiknya dengan penuh kasih sayang, karena dia tahu betul kalau Zizi sedang ketakutan pasti ingin menghisap jempolnya makanya Khanza terlebih dulu meraih semua jemari tangan adiknya itu supaya tidak menjadi kebiasaan sampai dewasa nantinya.
Akhirnya dengan sentuhan sang kakak makanya Zizi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Kemudian Zizi mulai menceritakan kejadian yang menimpa dirinya juga nek Raya.
.
.
.
"Nek, tempatnya masih jauh ya?" tanya Zizi sambil membawa hasil belinjo yang dia tenteng bersama dengan nek Raya.
"Sedikit lagi sudah mau sampai, apa kau lelah nak?" balik bertanya seolah dia mengerti kalau Zizi tidak akan kuat berjalan terlalu jauh, padahal Zizi sendiri yang minta ikut pergi bersama dengannya.
Karena bujukan dari Zizi akhirnya dia ikut menemani nek Raya.
"Zizi tidak lelah kok, hanya saja Zizi khawatir kalau sampai nenek yang lelah Zizi harus apa? Zizi tidak kuat menggendong nenek," celotehnya pula dengan begitu bijak membuat nek Raya tersenyum kecil sambil melirik Zizi di sampingnya yang berusaha kuat di depannya.
"Sudah, kau jangan berbohong! mari kita istirahat dulu di bangku itu sampai lelah mu hilang," ajak nek Raya pula menunjuk ke arah yang dia maksud.
"Tidak nek, Zizi masih kuat! kan Zizi anak laki-laki, harus kuat supaya bisa jagain nenek dan kakak," riuhnya pula berlompat girang membuat nek Raya semakin menyayangi Zizi karena sikapnya itu yang tidak mudah mengeluh apalagi masih berusia sangat kecil sekali.
Beberapa menit telah berlalu akhirnya mereka sampai di pabrik yang di tuju.
Setelah selesai mengantar pesanan barulah mereka mendapatkan uang walau cukup untuk makan, tetapi pemilik pabrik selalu memberikan uang lebih pada nek Raya untuk meringankan beban nek Raya.
Apalagi bos pemilik pabrik tahu kalau nek Raya menampung dua anak yang di tolongnya, makanya Zizi juga mendapatkan uang saku dari pemilik pabrik tersebut.
Bahagianya Zizi ketika mendapat uang 50 ribu selembar dari pemilik pabrik, sebahagia itu raut wajah Zizi ketika menerimanya.
"Apa kau senang? uang itu kau gunakan untuk apa?" tanya nek Raya sejenak melihat Zizi dari samping yang memegang telapak tangannya dengan erat.
"Zizi akan simpan uang ini, supaya bisa membelikan nenek tongkat yang baru," ujarnya terdengar manis sekali sehingga nek Raya begitu kagum mendengar jawaban dari mulut Zizi.
"Bukankah anak seusia kamu suka dengan mainan robotan?" tanya nek Raya lagi ingin memastikan kalau Zizi memang anak yang berbudi luhur.
"Zizi sudah tidak suka permainan itu!" jawabnya terdengar lirih.
Nek Raya hanya terdiam setelah Zizi mengatakan itu.
Tiba-tiba saja
"Halo nek, sudah lama kita tidak bertemu!" tegur seorang pria menghampiri mereka saat berjalan arah mau pulang.
Dengan cepat nek Raya menarik lengan Zizi dan menyembunyikan di balik tubuhnya seolah dirinya sangat merasa ketakutan saat pria tadi menyapa dirinya.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Hidup jangan banyak mengeluh karena rasa malas tidak akan ada obatnya, jadi berusaha keras untuk hidupmu bukan untuk hidup orang lain ❤️