
...♡♡♡...
Toko pakaian pria.
Tepat di depan stan makanan berhenti sebuah mobil putih milik Panji Faldo yaitu Mercedes Benz Maybach Exelero yang di buat oleh orang jerman dan hanya ada beberapa di dunia saja makanya ketika mobil itu berhenti di parkiran membuat mata tertuju pada mobil tersebut karena wilayah itu memang jarang sekali di masuki oleh mobil sebagus milik Panji sebab tak ada pilihan lain dari rute yang di lewati Nathan hanya toko pakaian itu yang dekat dari arah alamat Shopia.
"Apa kalian tidak turun? atau mau di dalam mobil saja?" tanya Nathan menoleh ke belakang saat ia bersiap mau keluar setelah melepas beltnya bahkan terlihat keduanya saling berjarak dan membuang wajah satu sama lain.
"Aku mau turun! rasanya tenggorokan ku kering setelah banyak berteriak," celetuk Amel pula sekilas ia melirik sinis ke arah Devan yang menyeringai seketika kemudian ia keluar dengan rasa yang masih jengkel.
"Hegh! aku juga mau turun habis sudah wajah tampan ku di acakin sama ratu kecoak!" balas Devan tak mau kalah pula lalu ia keluar dan membanting keras pintu mobil sehingga ia tak sadar Nathan sudah melotot dari dalam mobil.
Nathan terlihat masih di mobil dan hanya membuang nafas kasar melihat kedua teman Khanza yang memiliki tingkah tiada habisnya itu bahkan ia tak menduga bisa berbarengan dengan mereka saat ini padahal ia tak pernah sekalipun semobil dengan teman Khanza sehingga sedari awal bertemu di taman sekolah ia terus bergeleng kepala juga mengelus dada melihatnya sampai ia bertanya dalam benaknya bagaimana Khanza menghadapi kedua temannya yang sangat brutal itulah fikir Nathan yang dari tadi melamun panjang ketika Devan juga Amel sudah berlalu pergi.
Sejenak Nathan tersadar dari lamunannya. "Kita turun sekarang," ajak Nathan pula padahal Wandi sudah menunggunya saat ia melamun barusan.
"Baik tuan muda," turut Wandi anggukan kepala.
Tampak keduanya serentak keluar dari dalam mobil dan melenggang ke arah toko pakaian busana khusus pria saja.
Yeap Nathan ingin menjalankan sebuah misi penting sebelum ia menuju ke alamat Shopia dengan bekerjasama pada kedua teman Khanza juga Wandi supir pribadi dari kakeknya dan sebelum Nathan pergi dari rumah ia menceritakan idenya itu pada sang kakek sehingga ia membutuhkan dukungan dari kakeknya tersebut bahkan sang kakek begitu senang mendengar rencana dari Nathan makanya sang kakek memberikan kartu debit miliknya untuk di gunakan oleh Nathan.
Stan makanan.
Tap
Tap
"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Devan terlihat sedang memegang segelas jus jeruk dan nasi goreng seafood di tangannya bahkan terdengar ramah namun Amel terlihat cuek melirik sinis ke arah Devan.
"Duduk saja kalau kosong! gak usah sok ramah padaku, hiih! memuakkan," ketus Amel dengan melontarkan cibiran pula.
Devan masih terlihat sabar menghadapi temannya itu karena ia merasa lelah sendiri jika terus meladeni Amel sebab memang harus ada yang mengalah sebelum terjadi perang berikutnya di antara mereka.
"Apalagi yang kau tunggu? mau aku tendang bokongmu itu? cepat duduk!" serangan Amel membuat Devan membuang nafas berulang kali sembari melirik Amel yang sedang menikmati cemilan pisang crispy miliknya.
"Mel," tegur Devan ramah bahkan ia berusaha memberi senyuman kecil pada Amelia sebab dalam kejadian sebelumnya ia merasa bersalah walaupun tujuannya bukan berujung seperti itu karena murni ia hanya ingin menolong Amel saja.
"Ya."
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Devan terlihat gugup hingga tertunduk padahal ia belum pernah segugup itu jika berdua dengan Amel.
Dag
Dig
Dug
Alamak! kenapa jantungku ini sampai berdegub? jangan bilang aku...Tidak tidak! aku tetap pada satu tujuan tidak boleh kelain hati! batin Devan sehingga ia tampak menepuk kedua pipinya sesekali seolah ingin menyadarkan dirinya.
"Hoi, ada apa dengan mu? ngigau ya?" senggolan dari tangan Amel ke bahu Devan ketika ia melihat Devan hanya bergeleng kepala dan menepuk pipinya sendiri membuat Amel merasa terheran.
"Ti -tidak! aku hanya merasa bersalah saja padamu mel, karena aku memang tidak ada maksud apapun padamu jadi kau jangan salah paham padaku," celotehan serta kegugupan dari Devan membuat Amel terbengong.
"Pfttt ahahahh... Hahahah!"
Pecahlah kekehan dari Amel saat itu sampai memukul-mukul meja dan memukul sebelah pundak Devan sehingga orang-orang di sekitar mereka melihat Amel yang sedang terbahak tiada henti bahkan setiap yang melihatnya jadi ikut tersenyum sendiri hingga bergeleng kepala melihat Amel yang tertawanya seperti itu.
"Hei, kau gila ya? sadar woi, ini stan makanan bukan rumah mu! apa kau tak malu?" cocot Devan sambil berbisik ke arah Amel serta Devan melirik sesekali pengunjung yang ada di dekat mereka.
"Hahahaha! habisnya kau lucu Van, wajahmu itu terlihat maling ketangkap basah yang sedang memohon jangan di gebukin... Ampuni aku! ya kira-kira begitu! ahhaha..."
Amel masih saja nyerocos bahkan terbahak secara keras dengan bualannya itu membuat Devan mulai kesal dan jengkel sehingga ia menutup mulut Amel seketika.
"Ssstt! diamlah."
Kini sepasang mata mereka saling bertatap secara dekat karena Devan tampak sedang membungkam mulut Amel dengan tangannya.
Yep! jantung mereka berdua saling bergantian berdegup kencang hingga kedipan mata pun terlihat bersamaan dengan lontaran tatapan mata hanya berjarak 2 cm.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan : ...
Kita tak pernah menyadari cara tuhan mempertemukan kita pada seseorang sebab tuhan punya caranya sendiri tanpa kita sadari jodoh yang tuhan berikan itu sesuai dengan karakter dari kepribadian kita sendiri, jadi intinya jodoh adalah cerminan diri jangan kau sesali jika mendapat seseorang yang tak sesuai dengan keinginan mu karena jodoh yang tuhan berikan sesuai dengan diri mu sendiri maka hargailah pasangan mu karena di balik itu kau sedang menghargai dirimu ❤️