
...♡♡♡...
Grookk Grookk
Dengkuran suara ngorok semakin menjadi sampai Chelsea menatap Chintya penuh rasa keheranan karena dia tak menduga kalau Chintya bisa tertidur dengan posisi yang seperti itu bahkan ia berusaha membangunkan Chintya namun belum juga berhasil.
"Ya tuhan Chintya kenapa kau jadi seperti ini di saat tidur?" gumam Chelsea menghembus nafas kasar sedari awal dia melihat Chintya dengan keadaan telentang bahkan kepalanya juga masih berada di bawah sofa.
Beberapa saat Chelsea berusaha mengarahkan kepala Chintya ke atas sofa dan mencoba menggoyangkan tubuh Chintya berulang kali di karenakan belum juga terbangun Chelsea berjalan ke arah meja kerjanya sambil menghubungi Tina lewat ponsel pintarnya.
Setelah beberapa menit kemudian Chelsea menutup layar ponselnya dan kembali menoleh ke arah Chintya yang masih tertidur pulas dengan dengkuran yang semakin jelas terdengar.
Mata Chelsea pun sekilas melihat sebuah kertas di atas mejanya dan ternyata hasil print yang sudah di selesaikan oleh TIna sebelumnya lalu ia meraih kertas tersebut kemudian melihat dengan seksama wajah Shopia pada datanya ketika bekerja di perusahaan Panji.
"Shopia, siapa wanita ini?" gumam Chelsea berucap demikian pula penuh rasa penasaran yang jelas tampak di wajahnya.
Tok Tok
Seketika ketukan pintu dari luar terdengar di telinga Chelsea serta buyarlah lamunannya ketika melihat kertas tadi.
"Ya masuklah," sahut Chelsea dari dalam.
Tak berapa lama pintu ruangan pun terbuka lebar dan ternyata Tina lah yang datang saat di hubungi Chelsea sebelumnya.
"Nyonya memanggil saya? ada apa nyonya?" tanya Tina sambil menutup kembali pintu tersebut kemudian dia berjalan ke arah Chelsea.
Dalam beberapa saat Tina terkejut ketika mendengar ada suara dengkuran jelas dari arah sofa bahkan tampak pula wajah Tina dengan rasa penasarannya.
"Pfftt."
Spontan Tina terkekeh ketika melihat seseorang yang sedang di atas sofa ternyata Chintya.
"Aku sudah sedari tadi membangunkannya namun tak sadar juga, apa kau tau caranya membangunkan orang yang sudah tertidur pulas begitu?" tanya Chelsea yang sudah terdengar putus asa karena tak bisa membangunkan Cintya
"Sebab itu nyonya menghubungi saya? pfftt, saya fikir nyonya sedang membutuhkan sesuatu hal yang penting sampai saya panik karena nyonya terdengar menghela nafas berulang kali," seloroh dari Tina membuat Chelsea memijat dahinya sesekali.
Tina masih saja terkekeh karena ia tak mampu menahan tawanya disaat Chintya mendengkur bahkan sampai menyeka air liurnya bagaimana Tina bisa menahan tawanya seolah dia tidak percaya kalau orang secantik Chintya juga mempunyai sisi unik ketika tertidur dan tak berapa lama kemudian Tina berjalan ke arah dapur tepat di dalam ruangan Chelsea yang sudah tersedia lalu dia mengambil gelas dan ia isi dengan air dari dispenser setelah terisi setengah kemudian ia kembali lagi ke arah Chintya dengan membawa gelas di tangannya.
"Untuk apa kau membawa air segala?" tanya Chelsea yang menoleh pada Tina ketika dirinya terlihat sedang bersiap untuk pergi.
"Nyonya tenang saja saya akan membangunkannya dengan cara ini," kikihan Tina berkata demikian dengan lontaran tawa kecilnya sambil menunjuk ke arah gelas tersebut.
"Jangan bilang kau..."
Chelsea bergeleng kepala melihat keduanya yang mempunyai tingkah berbeda.
Awalnya Tina sedikit demi sedikit memercikkan air tersebut ke arah Chintya namun ia tak menduga bahwa Chintya malah ke-enakan setelah air tersebut mengenai wajahnya malah Chintya sempat tersenyum ketika mengusap air di wajahnya itu.
Sejenak Tina mengangkat ke dua bahunya ke arah Chelsea sebab merasa aneh kalau Chintya bahkan tidak mempan dengan percikan air darinya.
BYUUURRRRRR
"Ahhhhh kebanjiran, kebanjiran... Tolooong selamatkan a-"
"Ahahah... Hahaha..."
Mengakak lah Tina yang sambil memegangi perutnya sendiri karena dia melihat kehebohan dari Chintya bahkan Chelsea juga menutup mulutnya merasa lucu dengan tingkah keduanya.
"Tina! kenapa kau menyirami ku dengan air begini? aku jadi basah kuyup," rasa sebal terlihat jelas di wajah Chintya ketika ia menyibakkan lengan bajunya yang sudah tampak basah serta menyapu wajah dan rambutnya.
"Haih maafkan aku kak Chintya karena kakak tidak bisa di banguni dengan percikan air makanya aku tak ada pilihan lain lagi akhirnya dengan begini kakak bisa terbangun, pfftt sekali lagi maafkan aku kak," bungkukkan badan pula sambil membungkam mulutnya agar tak tertawa lagi.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang? bajuku basah semua ini, aku tak ada baju! ayo cepat buka baju mu," serang Chintya lalu ia pun bergerak dengan tampang seolah benar yang ia katakan barusan.
"Ahhh, tidak kak tidak! lalu aku pakai baju apa? tidak mungkin aku telanjang kak..."
Teriakan Tina sangat nyaring lalu dia berlari menjauhi Chintya yang juga mengejarnya.
"Ayoo kemari kau! karena mu aku jadi basah begini kau harus tanggung jawab," katanya pula yang terus mengejar Tina bahkan mereka saling terlihat kejaran mengitari ruangan itu.
Kini Chelsea memijat dahinya melihat tingkah kedua kandidat yang dia banggakan di depan David ternyata punya kelucuan masing-masing bahkan ia sempat tertawa pada dirinya sendiri terkekeh melihat kejahilan Tina juga Chintya yang sekarang masih mengejar Tina.
Prok Prok
Chelsea menepukkan tangannya berulang kali. "Sudah kalian, sekarang ikut aku ke rumah sakit dan untuk kau Chin berganti pakaian di rumahku saja karena aku sudah menyuruh koki rumah untuk memasak makanan anggap saja sekaligus merayakan keberhasilan kita barusan," ajak Chelsea yang sudah kian meraih tasnya.
"Tapi nyonya saya segan memakai baju nyonya dan tidak mungkin saya memakai baju milik nyonya," imbuh Chintya pula sudah terdiam di hadapan Tina yang tampak mengatur nafasnya karena sedari tadi di kejar oleh Chintya.
"Aku banyak baju yang masih berlebel belum ada tersentuh jadi kau jangan segan padaku karena kalian sudah aku anggap sebagai keluarga ku sndiri, sudahlah! ayo cepat," ajaknya lagi yang sudah deluan berjalan ke arah pintu.
Lalu keduanya pun anggukan kepala secara bersamaan.
Akhirnya Tina lega karena Chintya tak lagi menginginkan baju miliknya dan tampak Chintya meraih tasnya yang ada di atas meja kemudian mereka bertiga pun keluar dari ruangan itu secara serentak
"Aaww!" desis suara sakit yang di terima Tina.
"Rasakan itu karena kau tadi menyiramku," kekehan Chintya pula sebab dia puas sudah memberi jeweran pada Tina.
Tina pun mengelus telinganya berulang kali dan tampak wajahnya cemberut ketika keduanya sedang terkekeh melihat dirinya yang sedang kesakitan akibat jeweran dari Chintya.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Orang lain bahkan bisa di jadikan saudara lalu kenapa saudara kandung masih ada saja yang saling bermusuhan? ❤️