Aku, Khanza

Aku, Khanza
Sesimpel Itukah Rasa Bahagia?


...♡♡♡...


Grasak


Grusuk


Nathan terlihat sedang sibuk melihat ke arah luar kaca mobil belakang karena ia sempat mendengar suara yang sangat familiar baginya maka itu ia dengan sigap terus memperhatikan walau mobil sudah jalan namun sayang wajah Khanza sudah tak tampak lagi olehnya sebab ia sudah berbalik arah berjalan ke arah lain dengan menggandeng kedua bocah itu.


Tatapan mata Wandi sesekali mengarah pada Nathan hingga ia menautkan alis matanya. "Khem, tuan muda ada apa? apakah kita harus berhenti lebih dulu?" tegur Wandi menghentakkan batin Nathan sejenak.


"Ah tidak perlu, aku hanya merasa mendengar suara seseorang yang aku kenal tapi mungkin hanya ilusi ku saja," imbuhnya pula yang kini sudah kembali duduk dengan menoleh ke arah samping kaca mobilnya sambil memijat kedua alis matanya.


"Sepertinya tuan harus beristirahat karena saya melihat tuan sangat lelah," saran dari Wandi pula yang tampak terus fokus menyetir namun Nathan hendak menjawabnya dia hanya terdiam setelah Wandi mengatakan hal itu padanya.


Apa akhir-akhir ini aku terlihat aneh? kenapa aku mudah berhalusinasi sekarang? ya, mungkin benar saat ini pasti karena aku kelelahan! bathinnya pula berkata demikian sambil memejam mata.


Seusai perbincangan itu Wandi dan Nathan saling terdiam dan lajuan mobil terus berjalan ke arah sekolah Nathan.


.


.


.


Di depan warung kecil.


"Zi, kau ingin minum apa? apa kau mau susu dingin?" tanya kakaknya saat mereka bertiga sudah ada di depan warung kecil.


"Apa saja kak karena Zizi tidak pemilih," ucapnya pula dengan bijak membuat sang kakak bergeleng kepala karena perkataan sang adik.


"Hm, yasudah kalian tunggu di bangku itu duduk lah sana," tunjuk kakaknya ke arah yang di maksud.


Keduanya pun mangut dan melenggang ke arah yang di tunjuk oleh Khanza secara berbarengan.


Beberapa menit kemudian Khanza kembali dengan membawa dua botol susu rasa coklat, air mineral, dua bungkus snack untuk Zizi dan Taro.


"Nah kalian minum dulu dan ini cemilan sebelum waktu makan siang," imbuh Khanza memberikan satu persatu pada mereka lalu ia duduk di tengah mereka.


Keduanya pun menyambut dengan riang karena sangat senang di belikan cemilan oleh Khanza.


Srakk


Zizi lebih dulu membuka snacknya lalu ia mengarahkan pada Khanza. "Nah kak, harus yang lebih tua dulu di dahulukan karena yang kecil haruslah mengalah," katanya pula demikian sangat bijak.


"Taro, apa kau yang mengajarkan padanya?" tanya Khanza ketika ia menoleh pada Taro serta menaikkan sebelah alis matanya.


Tentu Taro mengangkat kedua bahunya dan bergeleng kepala dalam arti bukan dia orangnya.


"Lalu siapa? ayo ngaku? kakak tidak pernah mengajarkan padanya," katanya pula terdengar mendesak supaya Taro mau berkata jujur.


Taro langsung menggoyangkan telapak tangannya dengan cepat serta gelengan kepalanya lalu Khanza menoleh pada Zizi yang sedari tadi melihat mereka berdua.


"Nah kak ambil lah," ia pun masih saja tersenyum manis ke arah sang kakak.


"Zi kau jangan menjadi orang yang dewasa sebelum waktunya karena umurmu masih enam tahun Zi, dari mana kau belajar kata-kata seperti tadi?" tanya sang kakak tampak mengatupkan kedua tangan di dada menatap tegas ke arah Zizi.


"Tidak ada yang mengajarkan pada Zizi kak karena Zizi banyak melihat orang-orang dari pinggiran rel kemarin ketika itu Zizi melihat ada seorang kakek terlihat duduk sendirian lalu ada anak seusia Zizi sedang membawa bungkusan nasi dan menawarkan pada kakek itu di saat itu Zizi mendengar ia berkata seperti tadi akhirnya mereka makan bersama walau hanya nasi satu bungkus," ungkapnya pula dengan ocehan secara lengkap serta kedua pipi yang menggumpal itu masih terlihat menggemaskan sehingga Khanza hanya menghembus nafas kasar.


"Aww, sakit kak kenapa mencubit pipi Zizi," keluhnya yang begitu lucu sehingga Khanza terkekeh melihatnya.


"Karena kau buat kakak gemas," ucapnya sambil mengacak rambut adiknya itu.


Taro pun menjadi ikut tertawa karena kekompakan kakak beradik yang ada bersama dirinya seakan Taro baru merasakan memiliki keluarga yang baru.


Mereka bertiga menghilangkan rasa lelah hanya sedikit gurauan saja sudah membuat mereka begitu bahagianya tidak kebanyakan anak-anak lain ketika di ajak bermain dan berlibur barulah terlihat bahagia memang benar nyatanya kebahagiaan itu mudah di dapat asal hati damai dan ikhlas menjalani kehidupan.


"Ohya kak tadi ada seorang bapak supir melebihkan uangnya pada Zizi dia mengatakan ambil saja kembaliannya, nah kak uang hasil jualan korannya," cakap Zizi sambil merogoh uang yang ada di saku celananya dan di ikuti oleh Taro karena ia juga sempat menjual beberapa koran.


"Alhamdulillah baik sekali bapak itu pada kalian, sudah simpan dulu saja lalu kita setor ke abang Dani nanti dan lebihan tadi kau simpan untukmu Zi," turut kakaknya sambil membelai kedua rambut Zizi dan Taro.


"Siap bos!" riuhnya Zizi seketika sehingga Taro ikut meniru gerakan dari Zizi.


Tiba-tiba...


"Woiii?!" teriak dari beberapa orang.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Bahagia itu simpel karena rasa bahagia jangan di paksa ujungnya tak akan baik ❤️