
🍁🍁🍁
Dengan kesedihan mendalam pak Adam keluar dari ruangan itu sambil menyeka air mata yang seakan mengalir begitu saja.
Bugh
Seketika pak Adam memeluk Alsha erat tanpa mengucap sepatah kata pun tentu saja Alsha tidak mengerti kenapa ayahnya memeluknya dengan begitu kuat saat keluar dari ruangan ibu bidan.
"Abi kenapa menangis? apa ada hal yang tidak baik?" tanya Alsha dengan polosnya sambil mengelus pundak sang ayah sesekali.
"Hiks, hiks, nak... Umi mu sudah tidak ada lagi," lontarannya membuat Alsha terkejut merasa tidak yakin dengan ucapan ayahnya.
"Apa yang Abi maksud? Alsha tidak mengerti," mencoba melepaskan pelukan itu supaya dirinya bisa menatap ayahnya.
"Umi sudah meninggal maafkan Abi yang tidak bisa menyelamatkan umi mu," keluhannya sampai terdengar ke ruang bidan itu bahkan ia terasa tak sanggup untuk memegangi kedua tangan Alsha.
"Alsha mau ketemu umi dimana umi?" tanya Alsha langsung berdiri dari kursinya sambil berlari meninggalkan orangtuanya begitu saja.
"Alsha tunggu Abi," teriaknya sambil mengejar Alsha yang kian berlari menuju ruang persalinan ibunya.
Saat Alsha masuk ke ruangan itu dia melihat ibunya yang sudah di tutupi sebuah kain menjulur seluruh tubuhnya, Alsha berlari secepat mungkin menghampiri sang ibu yang selama ini menemani dirinya.
"Umi... umiiiiiii ini Alsha umiiiiii umi bangun, haaaaa," rengeknya dengan menggoyangkan tubuh sang ibu.
Ketika ayahnya ikut masuk dia melihat Alsha yang sudah berderai air mata menangis memanggil nama ibunya.
"Abi, umi kenapa? umi kok diam saja bangunkan umi..." Jeritannya semakin menjadi dan terus menggoyangkan lengan sang ayah yang kian terduduk di lantai menahan isak tangisnya karena sudah tak tertahan lagi.
"Adik sabar ya... ibu sudah bahagia sama Allah jangan di tangisi lagi," bujuk seorang perawat yang membantu persalinan sebelumnya tampak membujuk Alsha.
"Nak maafkan Abi kamu jangan begini Alsha nanti umi tidak tenang kalau kamu begini terus," bujuk sang ayah yang mulai panik dengan reaksi anaknya.
"Abi bohong! umi tidak mungkin tinggalin Alsha karena umi bilang akan selalu bersama Alsha sampai Alsha dewasa," ia terus memberontak tidak terima dengan perkataan sang ayah.
"Ada apa ini?" tegur ibu bidan saat memasuki ruangan karena mendengar keributan dari dalam.
"Ini buk anak dari pasien yang meninggal terus menangis saat melihat ibunya di sini," sambung perawat itu memberi penjelasan.
Ibu bidan itu tanpa berkata apapun mendekati Alsha dengan perlahan.
"Pak Adam adzankan anak bapak yang baru lahir biar ini jadi tugas saya," titah ibu bidan itu sambil menghampiri Alsha perlahan.
"Tolong buk saya tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk anak saya," ia bermohon hingga terus menyeka air matanya.
Bidan itu manggut melontarkan senyum kecil seketika melihat Alsha yang masih menangis melihat ibunya.
Pak Adam berdiri dari tempatnya dan melakukan tugasnya untuk mengumandangkan adzan di telinga sang anak yang baru saja lahir ke dunia tanpa seorang ibu.
Terdengarlah suara adzan yang di lantunkan oleh sang ayah begitu merdunya saat di dengar oleh telinga bahkan dirinya pun sempat meneteskan air mata sesekali serta suara isakan tangis pun tiada henti di ruangan itu membuat semua orang merasakan kesedihan yang teramat di rasakan oleh pak Adam .
"Nak ikut ibu yuk... Ibu mau menceritakan sesuatu sama kamu," ajak bidan itu perlahan ia meraih lengan Alsha dengan keberanian berharap Alsha mau menuruti dirinya dan juga berusaha ramah.
Entah mengapa Alsha manggut setelah menatap wajah bidan itu dia pun bangkit setelah sang bidan memegang tangannya tetapi tetap sesekali dia menoleh pada sang ibu yang sudah kembali di tutupi dengan kain panjang.
^^^To be continued..^^^
^^^🍂 aiiwa 🍂^^^