Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kekerasan Seorang Suami...


...♡♡♡...


Klak


Kriieet


Tampak pintu sebuah kamar terbuka lebar sehingga seorang lelaki masuk ke dalam kamar tersebut serta langkah kaki menyadarkan seorang wanita yang sudah terlihat kurus dan sangat pucat bahkan dirinya sudah di katakan seperti istilah tengkorak hidup apalagi kondisinya sungguh menyedihkan karena kedua kaki di pasung lalu kedua tangan di ikat dengan rantai besi yang sudah di gembok supaya tak melarikan diri, begitulah kejamnya suami dari Hayati maupun ibu mertuanya Shopia padahal ia berada di kamarnya sendiri namun serasa bagai di penjara.


Tap


Tap


Kino sedang membawa sebuah piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya serta segelas air putih untuk memberikan Hayati makan siang.


"Waktunya kau makan supaya kau tak mati," ucapnya dengan berkata santai pula bahkan tidak ada rasa iba di saat melihat istrinya dalam kondisi seperti itu.


Kino mulai melangkah mendekati Hayati sembari membawa piring berisi nasi tersebut lalu ia menumpukan tubuhnya di antara kedua tumit berhadapan dengan Hayati. "Cepat buka mulutmu!" bentak sang suami hingga ia meremas kuat kedua pipi istrinya dengan memaksanya untuk membuka mulut.


Hayati masih enggan membuka mulutnya walau rasa sakit yang di deritanya selama di kurung dalam kamar tak sesakit ketika ia harus berpisah dari kedua anaknya.


Praaang


Berserakan lah pecahan piring berisi nasi tadi yang terlepas dari tangan Kino sebab Hayati memberontak menggunakan kepalanya sendiri makanya piring tersebut terhempas jauh dari tangan Kino.


PLAAKK


PLAKK


Tamparan keras oleh Kino di kedua pipi Hayati bahkan perihnya tak dapat terbilang lagi.


"Dasar wanita kurang ajar kau! tidak tahu diri, berani sekali kau melakukan ini! apa kau tak takut padaku? kau ku biarkan hidup sampai anak gembel itu ku temukan dan kau wanita mandul tak akan aku butuhkan lagi, masih untung aku mau perduli padamu!" cecarnya dengan menghina tak ada habisnya.


"Cih!"


"Apa yang kau tertawakan ha?" murkanya Kino ketika ia melihat Hayati tersenyum kecil entah mengapa bahkan ia dengan sengaja menjambak rambut Hayati dengan kuat. "Dasar wanita mandul menjijikkan!" secara kasar ia melepas jambakan dari rambut istrinya.


"Kau yang mandul?!" jerit istrinya pula secara berani serta lontaran mata penuh kemarahan.


"Apa kau bilang? aku mandul? apa kau tak salah mengatakan itu? justru kau lah yang mandul wanita tidak berguna, cuih!" cemooh suaminya pula merasa biasa saja seolah Hayati sengaja mencoba untuk memancing dirinya, itulah fikir sang suami.


"Aku tak sebodoh yang kau fikirkan Kino! apa kau sudah lupa dengan pekerjaan ku? selama ini aku menyembunyikan tipuan mu padaku karena aku masih berharap kau berubah jika aku simpan rapat tentang kebohongan mu padaku, nyatanya kau lebih bejat dari yang aku bayangkan! kau picik Kino, kau mencelakai kedua anakku!" berangnya terlihat sangat geram hingga ia berteriak sekeras mungkin. "Aku tak menyangka kau lelaki yang bengis dan menghalalkan segala cara kau biadab seperti ibumu?!" kelakarnya serta jeritan yang memekik.


PLAAAKK


Tamparan kesekian kali dari tangan Kino kembali melayang ke wajah sang istri sehingga sang istri hanya menangis karena ia merasa sangat menyesal sudah mengenal Kino namun ia tak ingin menentang pemberian tuhan padanya sebab sejak dulu cuma dirinya yang selalu mengalah akan tetapi tidak untuk sekarang setelah ia tahu kelakuan dari suaminya itu.


"Ayo! tampar aku lagi?! aku tak takut padamu dan aku pastikan kau dan ibumu akan mati di penjara!" ringis sang istri melontarkan mata penuh kobaran api yang membara sehingga sang suami kaget dari mana datangnya keberanian Hayati yang sebelumnya hanya terdiam membisu saja tapi kali ini sudah berani menantang dirinya.


Namun Kino hanya bersikap biasa serta santai dengan bersandar di sebuah tembok mengatupkan kedua tangan di dada menyeringai sejenak menoleh ke arah Hayati.


"Percuma kau memberontak begini Hayati, karena tak ada seorang pun yang tahu kau dalam kondisi sekarang ini bahkan tante mu saja tak tahu kau masih hidup atau tidak, jadi kau jangan beraninya menantangku!" santainya sang suami berkata demikian sembari tersenyum dengan tampang seakan menghina Hayati.


Tap


Tap


Kino perlahan melangkah ke arah Hayati sembari bungkuk sedikit tepat ke telinga Hayati.


"Ohya aku akan memberikan hadiah untukmu dan kau tunggu saja nanti, sebuah hadiah ke dua kepala anakmu akan aku bawa ke sini," bisikannya yang membuat Hayati melebarkan mata.


"Kino..."


Suara panggilan dari luar seketika terdengar oleh Kino karena ibunya tiba-tiba saja memanggil lalu ia bergerak beranjak dari tempatnya melangkah ke arah pintu luar kamar.


"Kino! lepaskan aku, cepat lepaskan aku..." jeritan sang istri tak di gubris oleh suaminya itu bahkan hanya menoleh sejenak serta lambaian tangan dengan lontaran senyum seringainya. "Lepaskan aku sekarang lelaki bejat!" teriakan sang istri kembali pecah namun tetap saja suaminya tak perduli.


BLAMM


Pintu kamar pun di tutup rapat oleh Kino dan di kunci kembali akan tetapi Hayati masih terus berteriak dengan memanggil nama suaminya walau Hayati menjerit sekeras mungkin tetap Kino hanya melenggang menjauh dari arah kamar untuk menghampiri ibunya tanpa menghiraukan suara Hayati.


"Aku bersumpah tidak akan melupakan semua perbuatan kalian padaku, aku akan membalaskan rasa sakit yang ku derita selama ini! aku bersumpah Kino," gumam Hayati dengan mengepalkan kedua tangannya serta tetesan air mata yang membasahi di kedua pipinya yang tampak sudah memar akibat tamparan dari Kino sebelumnya.


Alsha, Zizi... Bunda rindu nak, sekarang kalian ada di mana? hiiks, hiks, maafin bunda nak! batin Hayati pula ketika ia mengingat kedua anaknya serta tetesan air mata yang terus mengalir tak terhenti.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Rumah tangga itu seperti sebuah pondasi dan jika salah satu pasangan yang tak bisa bertahan maka pondasi itu pun akan runtuh ❤️