
...♡♡♡...
Panggung model internasional.
Beberapa saat lagi akan di bukanya launching merek terbaru dari Louis Vuitton keluaran dari negara Prancis dan akan di pamerkan oleh para model di berbagai perusahaan lain yang akan bersaing untuk mendapatkan kesempatan bekerjasama dengan produk luar negri.
Pembawa acaranya saja berasal dari jepang bahkan sudah memiliki perusahaan besar di kota Osaka dengan ekspor impor bahan rempah sampai ke indonesia hingga kerjasama antar kedua negara itupun masih berlanjut sampai kini akan tetapi dia masih melakoni rutinitasnya sebagai pembawa acara karena pekerjaan itu memang sudah menjadi kebiasaannya dan sekarang perusahaannya dia percayakan pada staff managernya yang akan selalu mengontrol jika ia sedang bertugas.
Kecintaannya pada negara indonesia tak dapat di pungkiri lagi meskipun ia berasal dari negara jepang akan tetapi style yang dia kenakan malah bermotif khas batik berasal dari kota Yogyakarta hingga sampai ke kota lain seperti Solo, Jambi, Cirebon, Banjarmasin, Madura, juga Bali. Dalam setiap tugasnya ia selalu mengenakan baju khas miliknya bahkan sampai ke acara resmi pun dia tetap mengenakan pakaian tradisional apalagi dia ingin sekali membudidayakan pakaian batik di tempat asalnya akan tetapi dia belum menemukan desainer yang pas untuk di ajak kerjasama.
.
.
.
Tibalah saatnya untuk para model menampilkan merek produk Louis Vuitton.
Para pengunjung yang hadir juga turut meriahkan acara tersebut dengan duduk di kursi yang telah di sediakan.
Model wanita yang tampak berjalan begitu elegant sedang membawa Capucines Bag memberi kesan mewah sehingga membuat para tamu yang hadir sorak sorai bertepuk tangan karena tas sekecil itu saja harganya sudah mencapai ratusan juta rupiah.
Sungguh tas yang sangat emezing sekali dan hanya mampu di beli oleh orang yang memiliki banyak uang khususnya.
Di saat model wanita masih menampilkan Capucines Bag di atas panggung dengan berjalan menelusuri setiap sudutnya supaya apa yang mereka tampilkan jadi terlihat lebih jelas.
Di sisi lain tempat para tamu duduk.
"Dari mana saja kau Nathan?" tanya sang kakek yang menoleh pada cucunya ketika duduk bersebelah dengannya.
"Dari toilet kek, apa aku harus mengatakan juga sedang apa aku di dalamnya?" cetus Nathan sesaat membuat kakeknya tersenyum kecil mendengar ucapan cucunya itu.
Seketika kakek Panji menyadari dahi Nathan terlihat memar akibat jedutan dari pintu toilet barusan. "Tunggu! ini kenapa lagi dahi mu sampai begini?" riuh sang kakek terlihat panik sambil memegang dagu Nathan lalu dia mengadahkan kepala Nathan ke atas supaya ia bisa melihat dengan jelas.
Karena keriuhan itu Chelsea pun langsung bergerak mendekati anaknya dengan menumpukan kedua kaki menahan tubuhnya serta ikut memegang dahi Nathan dengan wajah sedikit cemas. "Kenapa sampai memar begini? Hardi, apa yang terjadi dengan tuan muda?" kepanikan Chelsea membuat Nathan menjadi jengah.
Lalu Nathan membuang nafas kasar serta menatap Hardi supaya membungkam mulutnya untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya. "Sudahlah! kenapa kalian jadi berlebihan begini? aku hanya terjedut, bukan hal yang besar untuk di ributkan!" cetusnya dengan rasa jengkel karena ia merasa di perlakukan seperti anak kecil lalu dia menepis pelan kedua tangan yang memegang dahinya itu.
Akan tetapi David hanya melihat dari jauh saja perbincangan mereka karena dia tidak ingin membuat Nathan bertambah kesal kalau dirinya juga bersikap yang sama.
Kakek Panji hanya melirik dari samping wajah cucunya itu dengan berhembus nafas lega yang keluar dari mulutnya karena dia merasa bahwa Nathan sudah tidak ingin dianggap anak kecil lagi olehnya akhirnya dia hanya mengelus rambut Nathan dengan kasih sayangnya seolah dia melihat David saat kecil dulu tidak jauh berbeda dengan Nathan sekarang.
Karena Nathan sudah berkata demikian Chelsea bangkit dari tumpuannya dan kembali duduk berdekatan dengan suaminya kemudian dia menoleh pada Nathan yang sudah kian membuang wajahnya itu.
Sementara itu mata Nathan terfokus pada Shopia yang sempat memperhatikannya dari jarak jauh sesaat entah mengapa tatapan Shopia sangat tajam ketika melihat kakeknya lalu tidak berapa lama Shopia mengalihkan matanya supaya tidak di perhatikan kembali oleh Nathan.
"Kek, apa kakek kenal dengan orang itu?" tanya Nathan menoleh pada kakeknya yang sedang berbincang bersama papanya.
"Siapa?" berbalik tanya pula merasa bingung orang yang di maksud oleh Nathan.
"Itu kek, yang sedang duduk di sebelah pria memakai jas berwarna biru gelap," cakap Nathan pula yang tidak menunjuk karena ia tak ingin mengundang perhatian Shopia bahwa dirinya sedang di bicarakan.
Sesaat kakek Panji menoleh ke arah yang di maksud oleh Nathan dan ternyata orang tersebut sangat ia kenal sekali apalagi lelaki yang memakai jas biru tua itu juga model yang selalu ingin terkenal namun selalu kalah saat bersaing dengannya, mata kakek Panji belum terlepas dari arah mereka sebab dia juga penasaran kenapa Shopia bersama model perusahaan yang kini menjadi saingannya wajar saja dia penasaran karena dia tidak tahu kalau Shopia sudah menikah dengan lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Dia mantan perias model kakek dulu sudah lama sekali," ungkapnya pula lalu menoleh pada Nathan yang sedari tadi menatapnya. "Hm tumben kau penasaran dengan seseorang, apa kau pernah melihatnya makanya kau bertanya pada kakek siapa dia?" selorohnya pula sambil terkekeh kecil melihat sorotan mata yang di lontarkan oleh cucunya itu.
"Tidak! sejak kapan aku ingin tahu tentang orang lain," singkatnya pula dengan santai mengatupkan dua tangan di dadanya sambil mengalihkan wajah ke arah lain.
Sang kakek hanya bergeleng kepala namun tawa kecilnya masih terlihat begitu jelas.
Kemudian Shopia melirik Panji yang sedang tertawa bahagia bersama cucunya itu lalu ia pun melontarkan senyum kecil di balik pinggir bibirnya merasa ada rasa puas dari raut wajahnya.
Sementara Kino anggukkan kepala ketika Shopia menoleh padanya dari jarak sedikit jauh darinya.
Sebentar lagi tawamu sirna Panji Faldo! dan air mata yang akan kau keluarkan, tunggu saja dan aku akan menyaksikan rasa terpurukmu itu! bathin Shopia menatap Panji dengan begitu tajamnya sehingga ia terlihat menutup mulutnya karena ia melepas tawanya yang jahat itu.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Keharmonisan dalam keluarga bukan hanya dari materi saja namun rasa perhatian yang di berikan itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kalau rasa kasih sayang melebihi apapun ❤️