Aku, Khanza

Aku, Khanza
Keberanian Khanza...


...♡♡♡...


Gedebug


Brruukk


Benturan keras terjadi saat Nathan sampai di taman sekolah kemudian ia berlari dengan cepat dan sesampainya di tempat ia membelalakkan kedua matanya melihat peristiwa yang tak pernah ia saksikan sebelumnya kini tepat di hadapannya.


Saat ini Nathan sedang menyaksikan dua insan sedang terbaring di rerumputan bahkan matanya tak berkedip hingga melotot karena melihat Devan sudah berada di atas tubuh Amelia hingga bibir mereka menempel sangat jelas.


"Woi?! malah pacaran di sini, apa yang sedang kalian lakukan? berbuat mesum jangan di tempat umum woii," teriak Nathan yang belum juga membuat keduanya tersadar karena mereka berdua masih melotot satu sama lain seolah suara Nathan terbang begitu saja.


"Waaah, ke-enakan ini si Devan!" jengah Nathan pula. "Woi?! Devan sadar kau ini tempat umum!" tampak Nathan menepuk keras pundak Devan dan di situlah Devan mulai tersadar.


"Aaaa..."


Amelia menjerit seketika karena mulai tersadar setelah Nathan berteriak lebih keras.


Bugh


Amelia respon menendang perut Devan yang masih menimpa tubuhnya hingga Devan terpental.


"Akh," desis dari suara Devan menahan sakit sambil memegang perutnya akibat kena tendang Amel. "Apa yang kau lakukan? dasar kau tak ada terimakasihnya jadi cewek!" protes Devan yang masih terus memegangi perutnya itu.


"Kau! apa maksudmu tadi ha? dasar lelaki mesum, kenapa kau lakukan hal tadi padaku? haaa... Mama... ciuman pertamaku di ambil si lelaki mesum ini," rengekan Amelia pecah lalu ia memukul tubuh Devan dengan tasnya berulang kali hingga terus merengek.


Karena merasa mulai jengkel Devan pun bangkit seketika. "Sudah cukup! kau berisik," ia pun menangkap lengan Amelia dengan menahannya erat. "Apa kau tak ingat tadi loncat-loncat kecentilan manggil nama si balok es itu dan kau memijak batu makanya kau terjatuh langsung aku menangkap mu bahkan aku tidak sampai berfikir akan terjadi hal seperti tadi," perjelasnya pula sehingga Amel terdiam dan mengerutkan wajah serta bibirnya menatap ke arah Devan.


Masih juga dia memanggilku dengan balok es? apa anak ini minta ku hajar? batin Nathan menatap ke arah mereka dengan berdiri tanpa ekspresi apapun namun ia menaikkan sebelah alis matanya karena tak terima ia di sebut seperti tadi oleh Devan.


"Lagipula aku tak selera dengan dirimu! nafas mu bauk kecoak," celetuk Devan membuat naik spaning Amel sehingga wajah Amelia mulai memerah padam.


"Apa kau bilang? nafas mu itu bauk jengkol! sampai sekarang aku mau pingsan mencium hawa mulutmu yang membuat aku mual," tandasnya pula yang tak mau kalah. "Jauh-jauh kau dari ku dasar lelaki mesum! mulut bauk jengkol sana kau mandi kembang tengah malam bila perlu tak usah kau keluar dari bak mandi mu!" kelakarnya lagi dengan menolak tubuh Devan hingga sedikit menjauh darinya.


"Huueeekk! dasar pemakan serangga mulutmu bauk kencing kecoak, tak perlu aku dekat dirimu cewek kecoak!" ejeknya lagi hingga Devan menjulurkan lidahnya.


Sedari tadi Nathan sudah mulai kesal melihat mereka adu mulut. "Woi, apa kalian tidak bisa diam? belum selesai ributnya?" tegur Nathan dengan santai di tengah mereka mengatupkan kedua tangan di dada.


"Diam kau!" teriak mereka pula secara serentak menatap ke arah Nathan.


Kini Nathan terdiam akibat di bentak oleh mereka lalu ia berjalan ke arah bangku panjang dengan bersandar dan memejam matanya sekaligus mendengar mereka masih ribut bahkan mereka juga jambakan seperti anak kecil memperebutkan makanan.


"Aku tak pernah makan jengkol asal kau tahu saja," tampak Devan memegang keras kedua telinga Amelia.


"Aku juga tidak makan kecoak! sama binatang saja aku merasa jijik dan sekarang aku merasa jijik padamu karena kau berani menciumku dengan mulutmu yang bau jengkol itu!" tampak Amelia menjambak kuat rambut Devan.


"Enak saja! sudah aku katakan aku tak makan jengkol, cewek serangga ratu kecoak!" jeritnya lagi sambil menahan sakit di rambutnya itu yang di jambak oleh Amelia.


Setiap yang berlalu lalang dari arah taman terlihat bergeleng kepala melihat perilaku mereka itu tiada yang mau mengalah bahkan Nathan hanya bisa mendengar saja sampai mereka puas tiada penghalang.


Karena sudah berjalan sekitar beberapa menit belum juga damai akhirnya Nathan bangkit dan berjalan ke arah mereka berdua.


"Heeeeei," tepukan di sebelah pundak masing-masing serta sorotan mata dingin Nathan terlihat jelas oleh mereka.


Glegg


Keduanya seakan berhenti bernafas setelah melihat ekspresi yang di lontarkan oleh Nathan membuat mereka terdiam tak berkutik.


"A -apa?!" teriak keduanya.


.


.


.


Kembali ke warung kecil tempat Khanza, Zizi serta Taro beristirahat.


"Woi?!" terdengar teriakan tiga orang anak lelaki seusia Khanza dari arah sebrang.


Karena mendengar suara teriakan itu kemudian Khanza dan keduanya berbalik menoleh ke belakang sehingga tampak ketiga lelaki yang baru saja meneriaki mereka berjalan ke arah Khanza bahkan membuat mereka bingung kenapa para anak lelaki itu sampai berteriak keras.


Sesampainya ketiga lelaki itu di tempat dan saling berhadapan lalu Khanza tersenyum kecil karena ia memang tidak tahu apa tujuan ketiga lelaki itu menghampiri mereka.


"Apa kalian memanggil kami?" tanya ramah dari Khanza tersenyum kecil.


"Haaahhh!"


Bruughh


Salah satu dari anak lelaki itu mendorong keras tubuh Khanza hingga telapak tangannya berdarah akibat ia menahan tubuhnya di aspal.


"Aww, ssshhh!"


"Kakak?!"


Teriakan Zizi terdengar jelas ketika ia langsung berlari mengejar kakaknya itu lalu Taro juga tampak berlari dengan berusaha membantu Khanza berdiri.


"Apa yang kalian lakukan pada kakak ku?!" bentak Zizi dengan beraninya walau terlihat badan mereka lebih besar darinya.


"Sudah Zi biar kakak yang bertanya kau jangan berbicara apapun, Taro pegangi Zizi," turut Khanza yang masih menahan rasa pedih di telapak tangannya itu kemudian Khanza berjalan ke arah ketiga anak lelaki itu yang masih terlihat menantang merasa masih belum puas sudah melukai Khanza.


"Maaf, kami ada berbuat salah apa pada kalian?" tanya Khanza yang masih bersikap sopan pada ketiganya.


Tampak dari jauh Zizi merasa marah karena kakaknya di buat celaka oleh anak lelaki itu.


"Kalian sudah mengambil wilayah kami, apa kau tak lihat kami berjualan koran? ini menjadi peringatan terakhir dari kami jangan menginjak wilayah kami, apa kau paham?" serang dari lelaki yang menolak Khanza sebelumnya.


"Bukankah rezeki sudah di atur? kenapa kalian harus marah pada kami? jika kalian merasa takut tidak laku itu tandanya kalian masih belum berusaha karena rezeki tidak akan pernah tertukar oleh siapapun walaupun kami berjualan di wilayah kalian," lontar Khanza dengan beraninya berkata demikian sehingga ia menatap tegas ke arah mereka.


Tampak yang menolak Khanza itu sangat geram ketika mendengar ceramah dari Khanza serta ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Udah bos! hajar saja," bisik dari teman di sebelahnya membikin tambah panas.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Jika kau merasa takut rezeki mu tertukar dengan orang lain berarti kau kufur nikmat ❤️