Aku, Khanza

Aku, Khanza
Rasa Ketakutan Yang Hebat...


...♡♡♡...


Cip


Cipp


Kicuan burung kecil terdengar jelas di telinga Khanza serta suara adzan berkumandang membangunkan dirinya dari lelap tidur yang terasa semakin dingin akan tetapi ketika ia membuka matanya perlahan kini ia melihat kalau Taro dan Zizi sedang memeluknya erat sehingga ia tersenyum kecil melihat keduanya secara bergantian bahkan ia sudah merasa hangat walau angin pagi berhembus kencang menyapa dirinya, tak berapa lama Khanza menggeser tangan mereka secara pelan satu persatu kemudian ia bangkit dengan terduduk sembari memandangi Taro juga Zizi.


Dalam sekejap Khanza meneteskan air mata sebab ia teringat sosok Hayati saat dirinya dan Zizi pernah tidur bersama dengan Hayati apalagi posisinya persis seperti saat ini ketika Khanza juga Zizi memeluk Hayati sangat erat sehingga kehangatan itu masih terasa oleh Khanza namun ia sempat mengepalkan kedua tangannya karena ia sudah di campakkan begitu saja bagaikan sampah, itulah fikirnya maka dari itu ia langsung menyeka air mata yang jatuh di pipinya lalu ia memejamkan mata serta sesekali bergeleng kepala sebab ia ingin membuang kenangan dirinya saat bersama Hayati.


"Bunda... Khanza sangat rindu," lirih Khanza sejenak ia kembali meneteskan air mata padahal ia sudah bertekad untuk melupakannya namun sungguh berat baginya melupakan sosok Hayati, apalagi ia sempat bermimpi Hayati dan dari dalam mimpi itu Hayati mencium keningnya berulang kali alangkah senangnya Khanza di dalam mimpi tersebut seolah ia tak ingin bangun walau hanya sekedar mimpi akan tetapi kebahagiaan bisa ia rasakan setelah ia tersadar dari mimpinya.


Kini Khanza terisak-isak dalam tangisnya walau ia menutup mulutnya namun rintihan tangisan itu membuat Zizi tersadar dari tidurnya dan dengan sigap Khanza menghapus air matanya serta mengatur nafasnya sembari menghela nafas panjang.


"Kak, ada apa?" tanya Zizi pula yang sudah terduduk di sebelah Khanza sembari adiknya terlihat mengucek kedua mata serta menyentuh sebelah pundak sang kakak dengan tersenyum kecil.


"Ah tidak ada apa-apa Zi, kakak baru saja terbangun jadi mata kakak kemasukan debu sewaktu angin berhembus ke sini," jawab Khanza pula mencari alasan yang tepat sembari terus menghapus sisa air mata di pipinya ke arah samping.


"Tapi sepertinya kakak baru saja menangis, apa kakak sedang berbohong pada Zizi?" kembali bertanya sebab ia merasa kalau Khanza sedang mencari pengalihan topik.


"Tidak Zi, kakak kenapa harus membohongi mu? kakak memang tidak menangis, nah kau bisa lihat mata kakak tidak ada air matanya, kan?" kilah Khanza lagi sehingga ia berusaha menutupinya walau harus mencari alasan sebab ia tak ingin adiknya juga merasa sedih seperti dirinya.


"Kakak kalau berbohong berdosa loh, bukankah kakak sendiri yang mengajarkan pada Zizi jangan berbohong pada siapapun?" cakap Zizi dengan bijaknya sehingga Khanza melontarkan senyuman lebar sembari membelai rambut Zizi yang sangat halus ia rasakan.


"Sudah sudah! kita sholat yuk nanti waktunya keburu habis," ajak sang kakak sengaja memotong ucapan Zizi sebab ia tak tahu harus menjawabnya seperti apalagi makanya dia berkata demikian.


"Hm, baiklah kak."


Zizi pun bangkit dari duduknya setelah tangannya di pegang oleh Khanza serta keduanya pun berjalan ke arah sumur sebab kamar mandi tidak ada di dalam melainkan di luar gubuk dan sesampainya mereka di tempat tampak pula Khanza sedang menimba secara perlahan karena sebelumnya juga ia sering menimba air di rumahnya sendiri ketika ibunya masih bersamanya.


"Sepertinya sumur ini sangat dalam, Zi ingat ya, jangan pernah bermain di sini karena bahaya! apa kau dengar ucapan kakak barusan?" kata Khanza pula melontarkan sorot mata yang tegas sembari ia terus menimba air dan secara terus-menerus mengisi air itu ke dalam ember.


"Iya kak. Zizi akan ingat pesan kakak," turut Zizi anggukkan kepala lalu ia dengan semangatnya mencuci wajah terlebih dulu.


"Anak pintar," pujian itu terdengar jelas di telinga sang adik sehingga adiknya tersenyum ceria menatap kakaknya.


.


.


.


"Nyonya, apa anda sudah sadar?" sapa seorang perawat tepat di sebelah Hayati.


Yeap, saat ini Hayati sedang membuka matanya perlahan dan mendengar suara sapaan dari seorang wanita serta ia melihat secara samar kalau wanita itu memakai pakaian rumah sakit.


"Aku ada di mana?" tanya Hayati yang tampak berusaha bangkit walau ia masih dalam keadaan lemah.


"Nyonya jangan banyak bergerak dulu ya sebab nyonya masih dalam kondisi yang lemah dan syukurlah nyonya telah sadar," kata si perawat sembari mengelus perlahan punggung tangan Hayati. "Nyonya sekarang ada di rumah sakit tapi keluarga nyonya sedang tidak ada mereka katanya akan kembali karena sudah pulang dari semalam," lanjut si perawat pula dengan sangat ramah menatap ke arah Hayati.


"Keluarga?" tanya Hayati secara gaguk serta terasa gemetar tangannya ketika mendengar perkataan dari perawat barusan.


Apa aku di bawa oleh mereka? tidak-tidak! aku harus melarikan diri, aku tak boleh bersama mereka! aku harus mencari Alsha dan Zizi, ya! aku harus kabur sekarang! batin Hayati berkata demikian sehingga ia seketika mencabut selang infus yang ada di tangannya bahkan muncrat lah darahnya tercecer di lantai.


"Nyonya tenang lah, nyonya jangan begini," riuh si perawat berusaha menahan Hayati sekuat tenaga.


"Tidak, aku harus keluar dari rumah sakit ini?!" teriak Hayati sebab ia di tahan kuat oleh si perawat sehingga Hayati dengan paksa ingin melepas tangan si perawat yang ada di kedua bahunya tersebut.


"Nyonya kondisi nyonya belum stabil, nyonya tenangkan diri anda!" ia kembali menahan walau Hayati sempat mencakar tangannya.


"Aku mohon biarkan aku keluar dari sini karena mereka orang-orang jahat tidak mempunyai hati nurani jadi aku mohon izinkan aku pergi, aku mohon!" isak tangis suara Hayati pecah seketika namun si perawat terus menahan tubuh Hayati walaupun tangannya sudah terluka akibat cakaran dari Hayati.


Secara sigap si perawat itu bergerak ke arah lain sehingga ia mulai memasukkan obat penenang ke dalam suntikan lalu ia pun sesekali melihat Hayati sudah hampir bergerak turun dari kasurnya setelah ia melepas genggamannya dari bahu Hayati.


Kreekk


Suara pintu kamar ruang inap Hayati terbuka dengan lebar dan seketika Hayati melebarkan kedua matanya melihat lurus ke depan.


"Ada apa ini?" sapa seorang lelaki berdiri dengan tegas.


Si perawat juga Hayati terdiam ketika lelaki tersebut menyapa mereka dengan senyuman tipis di bibirnya.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Apa itu rasa takut? pernahkah kalian mengalaminya? tentu saja setiap manusia pernah mengalami rasa takut dan untuk itu obat yang paling ampuh melawan rasa takut dengan menghitung 1-3 sambil membuang nafas berulang kali, sebab rasa takut harus di hadapi bukan di hindari ❤️