Aku, Khanza

Aku, Khanza
Awal Kedekatan Devan Dan Nathan...


...♡♡♡...


Waroeng Steak & Shake Babakan Ciparay.


"Pfftt."


Sedari masuk waroeng terlihat Devan sedang menahan tawanya sehingga kini di saat mereka sudah duduk di dalam ruangan tersebut pada akhirnya ia pun melepas tawanya juga dan seketika Nathan menatapnya dengan sorot mata yang tajam akan tetapi Devan belum menyadari karena dia asyik dalam tawanya itu.


"Apa yang sedang kau tertawakan? apa kau sudah tak waras?" sarkas Nathan pula.


"Bagaimana aku tak tertawa? di saat aku sedang serius bertanya bisa-bisanya perutmu berbunyi sangat keras, ahahah!" gelak tawa Devan semakin menjadi sehingga Nathan tampak tertunduk karena ia merasa malu mendengarnya.


"Ya mau bagaimana lagi? aku sedari siang belum mengisi perut sedangkan tadi pagi aku sudah harus buru-buru mau pergi," balas Nathan lagi sehingga ia menautkan kedua alis matanya.


"Aduh aduh... Kasihannya anak orang, sampai segitu kelaparannya, hehehe!" seloroh serta candaan Devan yang terdengar akrab itu membuat Nathan ingin membalasnya.


"Hmm, lalu kau anak siapa?" sanggah Nathan pula menaikan sebelah alis matanya.


"Anak orang hutan! ahahah."


Candaan serta gurauan Devan menjadikan dirinya terasa lebih leluasa berada di dekat Nathan sehingga tak ada lagi keraguan baginya setelah ia mengatakan hal tersebut.


"Maaf jika sudah lama menunggu, anda mau pesan apa?" sapa seorang lelaki pelayan cafe tepat berada di tengah mereka sembari tersenyum ramah dan pelayan tersebut sedang memegang sebuah pena juga sebuah buku kecil di tangannya.


"Kau mau makan apa Devan?" tanya Nathan pula sejenak sehingga Devan menghentikan ocehannya itu.


"Aku apa saja yang penting perutku tidak berbunyi lagi, pffttt!" kini Devan kembali meledek Nathan hingga ia menahan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri.


"Dasar! setelah ini kau habis di tanganku," celetuk Nathan karena ia sudah mulai kesal di buat oleh ocehan Devan sedari tadi.


Devan masih tetap tertawa dalam bungkaman mulutnya tanpa mengeluarkan suara seolah ia begitu puas setelah meledek Nathan sedari rumah sakit.


Akhirnya Nathan tak ambil pusing lagi maka dari itu ia melihat menu makanan yang sudah tersedia di atas meja lalu ia pun melihatnya secara membuka lembar per-lembar buku menu tersebut.


"Saya pesan rib eye new zealand buat dua porsi lalu minumannya iced lemon tea juga di buat dua," cakap Nathan pula pada pelayan tersebut lalu ia meletakkan kembali menu makanan di atas meja sembari melirik ke arah Devan yang masih terus membungkam mulutnya.


"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu dan mohon di tunggu pesanan anda," tutur pelayan tadi berkata dengan sangat ramah serta Nathan membalas dengan anggukan kepala dan si pelayan pun beranjak dari tempatnya.


Tak berapa lama Devan melepas bungkaman mulutnya itu setelah sang pelayan sudah berlalu pergi serta ia kembali serius menatap ke arah Nathan sembari melipat kedua tangan di dadanya. "Khem! aku ingin melanjutkan pertanyaan yang sebelumnya saat berada di rumah sakit, sekarang kau harus menjawabnya. Apa benar kau menyukai Alsha?" ia pun mengulang kembali pertanyaan yang belum sempat di jawab oleh Nathan.


"Yakin kau tak ingin menjawabnya dengan jujur?" kata Devan terdengar sedikit memaksa.


"Sudahlah! lebih baik kau diam saja daripada mulutmu aku letak lada ini, mau?" kelakar Nathan merasa sudah sangat jengah dengan omongan Devan yang tiada habisnya.


"Baiklah, biar aku yang berkata jujur padamu!" ucap Devan lagi sehingga Nathan sedikit di buat bingung olehnya padahal dirinya tidak ada bertanya apapun. "Aku menyukai Alsha," lanjutnya pula dengan wajah yang serius tanpa bualan.


Yeap, setelah mendengar ucapan Devan barusan sehingga ke dua tangan Nathan tampak ia kepalkan begitu kuat tepat di bawah meja namun wajahnya masih terlihat biasa saja tanpa membalas perkataan yang ia dengar dari mulut Devan.


"Apa kau marah? cemburu? bukankah aku tadi bertanya padamu? tetapi kau tak menjawabnya makanya aku mengatakan yang sebenarnya," katanya lagi terlihat santai ketika berkata demikian.


Nathan hanya terdiam dan hanya menatap lurus ke arah Devan sementara tangannya masih ia kepalkan dengan sangat kuat.


"Apapun yang kau katakan tak penting bagiku," cetus Nathan pula sehingga ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain akan tetapi Devan sudah merasa ada yang aneh dari sikap Nathan setelah ia mengatakan hal tersebut.


"Kita lihat saja setelah ini, apa kau masih tak jujur pada dirimu," timpal Devan terdengar ambigu di telinga Nathan.


Sejenak ia menoleh ke arah Devan. "Apa maksud perkataan mu barusan?" tanya Nathan sedikit bernada tegas.


"Aku akan merebut Alsha dan kita tunggu saja apa kau akan diam atau kau akan merebutnya dari ku."


Entah mengapa Devan terdengar seperti ingin mendorong Nathan untuk mengatakan sesuatu sebab karena Amel lah yang membicarakan pertama kali tentang Nathan sebelumnya di rumah sakit makanya Devan ingin membuktikan sendiri perkataan dari Amel padanya itu benar atau tidak akan tetapi saat ini Devan belum menemukan jawabannya makanya dia sedikit terbuka pada Nathan sekarang sampai semuanya ia dapatkan buktinya.


Brakkkk


Nathan seketika berdiri dengan memukul meja menggunakan kedua kepalan tangannya sehingga terlontar lah wajah yang sangar serta sorotan mata yang tajam ke arah Devan.


^^^To be continued^^^


^^^ ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Perbanyak teman daripada perbanyak musuh karena teman sejati akan menemani mu sampai kau tak bernyawa lagi ❤️