Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kecemasan Zizi


🍁🍁🍁


BLEDARR


Petir yang keras terasa begitu nyaring saat terdengar oleh telinga apalagi cuaca terlihat sangat gelap sehingga matahari sudah tidak menampakan sinarnya mungkin pertanda hujan akan segera turun begitu lebat.


.


.


Sedari siang Alsha belum kunjung pulang juga membuat Hayati menjadi semakin cemas, begitupula dengan Zizi yang terus menunggu di depan pintu rumah sambil menghisap jempolnya karena Zizi memiliki kebiasaan menghisap jempol kalau sudah merasa ketakutan sebab itu ia alami saat beranjak umur 2 tahun hingga kini berumur 5 tahun.


Hayati kini tampak mondar mandir di ruang tamu tidak ada ketenangan dalam dirinya sesekali duduk dan berulang kali melihat ke arah luar rumah.


"Bunda, kakak pergi kemana ya? kenapa sudah jam segini belum juga pulang kita jemput kakak yuk bunda?" kegelisahan Zizi mengerutkan wajahnya dan dengan polosnya memeluk tubuh Hayati.


"Bunda juga tidak tahu kakak pergi kemana sayang... Kamu tenang ya nak bunda yakin kakak pasti lagi di jalan pulang," imbuh Hayati membuat Zizi lebih tenang dalam dekapan hangatnya yang ia rasa.


Zizi terus menatap madam Shopia yang hanya santainya duduk di atas sofa tanpa bertanya sedikitpun tentang kekhawatiran mereka berdua.


Hayati melepaskan pelukan Zizi dengan sejenak ia menoleh pada mertuanya yang sedang asyik membaca majalah kecantikan Ia juga sempat baru sadar kalau mertuanya itu seharian berada di rumah tentu saja pasti akan tahu kemana Alsha pergi karena Alsha bukan anak yang suka keluyuran tidak jelas.


"Ma, apa mama tidak tahu kemana perginya Alsha?" tanya lembut Hayati sambil melangkah dekat pada mertuanya itu.


"Tidak! apa saya di sini satpam anak anak yg kamu urus ini?" balik bertanya pula seolah menyudutkan Hayati.


"Bukan begitu maksud saya Ma hanya saja Mama seharian berada di rumah sudah pasti Mama tahu kalau Alsha pergi keluar." Hayati berusaha lebih tegar lagi menghadapi mertuanya itu karena dia sudah tahu perangai dari sang mertua.


"Hayati kamu ini orang terpandang! bisa-bisanya kamu memungut anak seperti mereka, di mana akal sehatmu itu?" ucapnya bernada kasar membuat Hayati ingin menangis tetapi masih ia tahan di balik wajahnya.


"Heh, kamu itu sudah berapa lama tidak punya anak? makanya sudah saya sarankan untuk program bayi tabung tapi kamu selalu saja menolak terlalu banyak alasan!" sergahnya dengan begitu kejam.


"Rahim saya masih ada jadi tidak perlu bayi tabung dan saya hanya ingin anak keluar dari rahim saya sendiri tanpa bantuan apapun itu prinsip saya Ma," memberi ketegasan supaya mertuanya bisa sedikit menerima keadaan dirinya yang seperti itu.


"Kamu itu keras kepala sekali dan sekarang kamu malah menampung anak gembel ke rumah ini apa kamu fikir ini panti asuhan?" berdengus hingga melontarkan tatapan tajam pada Zizi yang semakin cepat menghisap jempol tangannya karena mendengar suara teriakan Shopia.


"Ma cukup! saya tidak ingin berdebat lagi bukankah kita sudah pernah membicarakan masalah ini dan kenapa Mama masih mengungkit ini lagi? maaf Ma saya pamit dulu mau mencari Alsha," masih saja Hayati berkata sopan dengan mertua yang sudah berkata kasar padanya ia pun sedikit merundukkan kepala dan berlalu pergi.


"Alsha! Alsha! terus yang kamu pedulikan kamu anggap apa saya di rumah ini?" teriaknya pula dengan suara melengking namun tidak di respon oleh Hayati.


Hayati meraih lengan Zizi dan membawanya pergi bersama dirinya untuk mencari Alsha bahkan jeritan itu ia abaikan karena akan panjang urusannya jika masih di ladeni terus menerus.


Zizi merasa takut saat mereka bertekak tadi begitu terasa tangan Zizi yang di penuhi oleh keringat membuat Hayati semakin cemas dan khawatir makanya beruntung dia pergi dari hadapan mertuanya itu kalau tidak Zizi pasti akan bertambah takut lagi nantinya.


Sementara itu mereka memasuki mobil yang terparkir di halaman rumah setibanya keluar dari gerbang jatuhlah air hujan yang begitu derasnya Hayati bahkan belum mengisi perutnya setelah pulang dari tugas karena biasanya kalau dia pulang pasti akan mengajak Zizi dan Alsha untuk makan bersama tetapi tidak untuk saat ini kecemasan terus melanda pikiran Hayati membuat dirinya melajukan mobil sedikit lebih kencang.


Bagaimana pun caranya dia harus menemukan Alsha secepatnya Itulah yang ada di dalam benak Hayati sambil membelai rambut Zizi yang masih saja terus menghisap jempolnya, tepatnya Hayati tidak ingin mencegah Zizi saat ini karena dia yakin Zizi pasti lebih cemas melebihi dirinya.


..........


Terus nantikan kisah 'Aku, Khanza' Jangan sampai ketinggalan kisah penderitaan yang akan mereka lewati lebih banyak lagi ❤️❤️


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^