Aku, Khanza

Aku, Khanza
Duri Dalam Daging?


...โ™กโ™กโ™ก...


Kehidupan itu bagai kincir angin yang berputar pada porosnya karena setiap orang memiliki perbedaan dari sudut pandang cara berfikir, kebiasaan, bahkan setiap orang tidaklah sama namun tetap satu dalam bersosialisasi. Maka dari itu kehidupan Alsha tidaklah semewah milik Nathan, saat dirinya memasuki rumah semegah itu tentu saja dia melakukan hal apa adanya karena dia tak bisa memaksakan dirinya untuk mengikuti kebiasaan dari keluarga Nathan, mereka yang terlihat wibawa saat menyantap makanan itu sudah menjadi kebiasaan keluarga Nathan setiap harinya.


Nathan dengan penuh kewibawaan menyantap makanannya begitu membuat Alsha menahan tawa, entah mengapa Alsha selalu menoleh ke arah samping untuk melepas tawanya itu supaya Nathan tidak menyadari kalau dirinya sedang mengamati cara makan dari seorang balok es.


.


.


"Nathan hari ini papa mu pulang, kan?" tanya kakek Panji membuka suara terlebih dulu.


"Hmm aku tahu kek," balasnya santai namun terdengar enggan menjawab.


"Apa mama mu juga akan pulang?" tanya kakek Panji lagi.


"Entahlah mereka selalu sibuk, pulang juga jarang apalagi selama kakek tidak ada aku selalu sendiri di rumah ini," imbuh Nathan sambil menyantap daging yang dia potong di atas piringnya.


Alsha memandangi keduanya karena ucapan Nathan itu terdengar sepi dan penuh kesedihan saat Alsha memperhatikan dengan seksama.


Sebenarnya Nathan sadar kalau Alsha melihat dirinya namun ia berpura-pura tidak tahu dan masih santai menyantap makanannya sendiri.


Keheningan masih meliputi ruang meja makan itu dan bunyi suara kunyahan ketiganya terdengar jelas di telinga para pelayan, tampak juga Yani mengarahkan sendok ke mulut kakek Panji karena kakek Panji tidak bisa makan sendiri dengan mata yang belum melihat jelas.


Saat Alsha menghabiskan makanannya, ia memandangi kakek Panji dengan hangat.


Alsha menggeser kursinya mendekati tempat duduk kakek Panji. "Apakah boleh izinkan saya saja yang menyuapi kakek?" tanya Alsha membuat Nathan langsung menoleh ke arah samping padahal dirinya sedang menikmati makanannya.


Selama ini Nathan belum pernah sekalipun menyuapi kakeknya makanya dia sungguh terheran sekali, apalagi sesuatu yang membuatnya begitu terkejut saat mendengar Alsha meminta izin untuk menyuapi kakeknya itu.


"Boleh nona silahkan saja," turut Yani pula dengan rendah hati sambil meletakkan sendok tersebut di atas meja.


Alsha meraih sendok itu dan mengisinya dengan nasi serta lauk untuk mulai menyuapi kakek Panji di balik raut wajahnya dia sungguh senang sekali di izinkan untuk menyuapi seorang artis papan atas itu.


"Aaaak," kata Alsha bersuara hingga ia juga mengangakan mulutnya sendiri.


Kakek Panji mendengar perintahnya hingga membuka mulutnya perlahan.


"Uhuk, uhuk! khem," entah mengapa Nathan jadi batuk sampai memuncratkan makanan yang ada di dalam mulutnya dengan cepat ia langsung menutup mulutnya dan mengelus dadanya berulang kali hingga memalingkan wajahnya.


"Tuan muda kenapa? apa tuan baik-baik saja?" riuh Yeni langsung meraih tisu untuk membantu Nathan mengilap mulutnya.


"Tidak apa! sudah, biar aku saja," cetus Nathan pula menolak secara cepat membuat Yeni terdiam seketika.


"Kau kenapa? makanya makan itu pelan-pelan saja, memangnya ada yang berebut denganmu?" celoteh Alsha pula tanpa memikirkan raut wajah Nathan yang sedang menatap dirinya.


"Nathan, apa kau cemburu kakek di suapi oleh Alsha?" seloroh kakek Panji dengan kekehan pelannya.


"Kau tertelan duri? kata ibuku kalau tertelan duri harus makan nasi yang sudah di bulatkan membentuk bola lalu kau telan nasi itu atau tidak akan infeksi di tenggorokan mu," cakap Alsha pula sambil terus menyuapi kakek Panji dengan penuh kehatian.


Sepintas lirikan mata Yeni mengarah pada piring Nathan ia juga merasa bingung dari mana datangnya duri ikan kalau yang di makan itu sepotong daging empuk dan sekilas ia melirik Yani dari samping, bahkan Yani juga tidak percaya dengan alasan yang dibuat oleh Nathan itu.


Yani terlihat mengangkat kedua bahunya sedikit, pertanda tidak mengerti maksud alasan Nathan barusan.


Gluk Gluk


Nathan meneguk air di dalam gelas yang kian terisi sambil menahan nafasnya, ia mulai jengah melihat Alsha terus menyuapi kakeknya itu hingga debaran jantung Nathan semakin menjadi bahkan hampir tak bisa dia kendalikan.


Ting Tong


Ting Tong


Bunyi bel rumah terdengar sampai ke dalam membuat Yani bergerak cepat untuk membuka pintu dengan berlari.


"Apa kakek sudah kenyang? kalau sudah Alsha mau pulang kek, karena bunda pasti sangat khawatir pada Alsha," imbuh Alsha mengilap sisa makanan yang menempel di mulut kakek Panji.


"Terimakasih sudah mau membantu kakek makan, kamu tidak bisa menginap saja sampai besok pagi?" pinta kakek Panji membuat debaran jantung Nathan bertambah ๐Ÿ’ฏ persen yang sebentar lagi akan meledak.


"Tidak!" senggak Nathan tanpa sadar dia sudah berteriak.


"Kenapa tidak? kamar kita juga ada yang kosong, apa kau keberatan Nathan?" tanya kakek Panji membuat Nathan tak berkutik.


"Kek, Alsha mau pulang saja lagian Alsha besok mau sekolah kek, ada ujian akhir," jawab Alsha dengan santai namun sedikit melirik Nathan yang terbengong.


Aku juga tidak mau tidur di sini, bisa beku nantinya tinggal di dalam freezer! batin Alsha merutuki Nathan sangat mencibir sekali.


Tap Tap


Terdengar langkah kaki dari kejauhan mendekati ruang meja makan.


"Wah wah, ada apa ini? sepertinya lagi makan malam bersama," teguran dari seorang lelaki memakai jas hitam terlihat begitu rapi sekali dengan di temani seorang wanita cantik bahenol membuat mata Alsha tak berkedip.


Yeap sepasang lelaki dan wanita itu tak lain ialah orangtua dari Nathan.


Apa yg akan terjadi setelah pertemuan ini?


Tetap ikuti terus cerita mereka, kepoin selalu biar tidak penasaran dan pokoknya tetap stay di 'Aku, Khanza' jangan sampai terlewatkan โค๏ธ


^^^Ti be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^