
...โกโกโก...
Teras rumah keluarga Austin.
Alsha berjalan dengan perasaan yang tidak enak setelah obrolannya dengan kedua orangtua Nathan, ia merasa di rendahkan saat papa Nathan memberikan uang padanya apalagi berkata kasar padanya membuat Hati Alsha menggerutu sampai mengomel sepanjang ia berjalan mengarah pintu luar.
"Kenapa semuanya harus di ukur dengan uang? apa aku memintanya untuk memberikan ku uang? apakah aku terlihat kasihan di depan orang lain?" gumam Alsha mengoceh sepanjang ia masih berjalan mengeluarkan keluh kesahnya.
Saat dirinya membuka pintu rumah ia melihat sebuah mobil berwarna kuning terparkir di halaman, dari kejauhan dia juga melihat ada seseorang di depannya sedang memegang setir mobil.
Tuk Tuk
Bunyi suara tongkat kakek Panji membuat Alsha tersadar dari sorotan matanya saat melihat mobil mewah itu, dia belum pernah sebelumnya melihat mobil sebagus itu di hadapannya karena mobil yang di pakai oleh Hayati masih belum sebagus milik keluarga Nathan si balok es, itulah pikir Alsha.
"Kenapa kamu masih berdiri di sini? apa yang kamu lihat?" tanya kakek Panji berusaha meraih lengan Alsha.
"Alsha hanya melihat sebuah mobil terparkir di arah situ, tapi itu mobil siapa kek?" balik bertanya pula membuat kakek Panji tersenyum kecil.
"Warna mobilnya apa?" tanya kakek Panji lagi walau dia tak bisa melihat tetapi ingatanny sungguh tajam.
"Kuning kek," jawab Alsha menoleh pada kakek Panji yang tersenyum padanya. "Apa yang membuat kakek tersenyum? apa kakek tahu itu mobil siapa?" lanjut Alsha pula merasa ada yang aneh.
Senyuman kakek panji begitu hangat ketika mengetahui warna mobil itu.
"Sepertinya kakek tidak perlu ikut mengantarmu Alsha karena di dalam mobil itu sudah ada yang menunggu mu," imbuh kakek Panji membuat alis Alsha saling bertaut.
"Maksud kakek apa?" tanya Alsha nada kebingungan sambil menggaruk pelan kepalanya.
"Sudah sana kamu masuk saja ke dalam mobil itu nanti kamu juga tahu sendiri siapa yang ada di dalamnya, sudah cepat pulanglah tapi ingat ya besok setelah selesai ujian sekolah kamu datang ke rumah sakit, nanti kakek akan minta Nathan untuk jemput kamu," ocehan kakek Panji membuat Alsha semakin bingung saja.
"Kek, apakah yang ada di dalam mobil itu si ba- Egh, si Nathan?" ucap Alsha hampir keceplosan melirik kakek Panji sambil menutup mulutnya.
"Cepat masuk sana! kakek juga akan masuk ke dalam mau istirahat," memaksa dengan mendorong tubuh Alsha pelan.
"Baiklah Alsha pulang dulu kek selamat istirahat kek, tapi Alsha tidak janji bisa menjenguk kakek kalau ujian selesai Alsha pasti datang kok," ucapnya dengan nada rendah.
"Tidak, tidak kamu harus datang menjenguk kakek dan ini perintah!" protes kakek Panji mulai bergerak pergi meninggalkan begitu saja tanpa dirinya mendengarkan alasan Alsha lagi.
"Hati-hati jalannya kek," teriak Alsha saat kakek Panji berlalu darinya.
Kemudian Alsha berbalik mengarah pada mobil itu, ia terus berjalan dengan rasa penasaran sambil mengamati pada sorotan mata tajamnya.
"Hah, hah!" Alsha menghembus nafas ke arah kaca dan menggosoknya berulang kali alhasil sama saja tidak juga terlihat.
Masih dalam keadaan menggerutu. "Kenapa mobil ini kacanya hitam? aku tidak bisa melihat siapa yang ada di da..."
Di saat Alsha masih mengintip dan mengoceh kaca itu terbuka dengan sendirinya apalagi ia sedang menganga karena sedang stres tidak bisa melihat dari luar.
"Apa yang kau lakukan dengan mobilku?" celetuk Nathan pula mengernyitkan dahinya bernada dingin sekali.
"Haaaa, Hahah." Alsha tambah menganga sambil berusaha tertawa karena yang ada di depan matanya si balok es.
Kenapa si balok es yang ada di dalam mobil ini? pantas saja kakek membiarkan ku pulang naik mobil ini, ternyata? Jeritan Alsha dalam batinnya sambil memalsukan senyum dan tawa yang riang di depan Nathan.
"Masuk lah! apa kau tidak ingin pulang? harus berapa lama lagi aku menunggumu di sini?" ketus Nathan sambil mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Siapa yang memintamu untuk mengantarku? aku juga tidak mau di antar olehmu! dasar balok es nyebelin! ocehan Alsha dalam hati merutuki Nathan tanpa dia sadari.
"Apa kau sedang memaki ku lagi? apa mau isi kepala mu yang kotor itu aku buang?" cocot Nathan membuat Alsha semakin kesal di buat olehnya.
Dari kedua tangannya Alsha mengepalkan kuat terlihat seperti ingin meninju Nathan yang sudah membuatnya jengkel.
"Aku bisa pulang sendiri tak perlu membuat mu repot!" cetus Alsha membuang wajahnya dengan lantang mengalihkan pandangan tak melihat Nathan lagi.
"Satu!"
"Apa sih! aku bilang tidak mau ya tidak mau! aku bisa pulang jalan kaki atau naik apa saja," ocehan Alsha tidak di dengar oleh Nathan.
"Dua!"
"Apa kau sedang belajar menghitung?" kekeh Alsha pula tertawa kecil tanpa melihat ekspresi Nathan yang sudah terlihat memerah padam.
Blam
Nathan keluar dari mobilnya dengan membanting pintu mobil secara keras.
...........
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
Masih ada keseruan lainnya reader tersayang ๐ tetap stay di 'Aku Khanza' jangan sampai ketinggalan cerita yang sangat menggemaskan ๐