Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kepanikan Shopia...


...♡♡♡...


Uhuk Uhuk


"Khem, khem."


Sudah kesekian kalinya batuk dan dehaman yang di keluarkan oleh suami Shopia ketika berlangsungnya acara sampai kembalinya ke ruangan mereka dia terus merasakan hal aneh dalam dirinya.


"Bisakah kau ambilkan aku air putih segelas?" pinta sang suami yang sedang terlihat memegangi bagian tenggorokannya.


Shopia pun bangkit dari sofanya lalu ia beranjak ke arah bagian ransel untuk mengambil botol minuman yang di bawa sebelum berangkat ke aula.


Kemudian Shopia kembali lagi dengan membawa botol minuman berisi air mineral.


"Nih minumlah dulu dan sepertinya dari tadi kau terus batuk, apa kau sedang sakit?" tanya sang istri pula lalu menyuguhkan sebotol air pada suaminya.


"Terimakasih," turut suaminya lalu dia meneguk beberapa kali air botol itu hingga separuh. "Aku juga tidak tahu kenapa rasanya kerongkonganku terasa tidak enak," lanjutnya pula setelah selesai minum.


"Kau rebahan saja dulu, karena kita masih menunggu hasil keputusan dari pihak mereka soal kerjasama itu," cakap sang istri tampak sedang mencari sebuah bantal untuk suaminya. "Sebentar aku akan mencarikan bantal untuk kau pakai."


Ketika dia hendak mencari bantal ia melirik ke arah suaminya yang sedikit tampak pucat tidak seperti biasanya tetapi dia terus mencari bantal dengan terus memperhatikan suaminya berulang kali.


Karyawan serta model mereka juga tampak sedang istirahat di bagian sofa lain karena kelelahan.


"Kino di mana?" tanya suaminya dari jauh yang melihat istrinya sedang mencari bantal untuknya namun ia masih saja duduk dan terlihat lesu sehingga dia bisa merasakan rasa tidak enak dalam tubuhnya.


"Dia pulang karena tugasnya sudah selesai, aku juga merasa puas kali ini Kino berhasil menyelesaikan apa yang aku perintahkan padanya," cakapnya pula tampak senyum bahagia di balik wajahnya tanpa menoleh ke arah suaminya. "Aku berharap Panji menderita kehilangan anak tersayangnya dan aku tidak sabar menunggu perusahaannya bangkrut karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia andalkan! hahah," cerocosnya serta gelak tawa yang terdengar begitu jelas meliputi wajahnya itu tetapi dia masih terus saja mencari bantal sambil mengoceh sendiri.


Akhirnya dia mendapati sebuah bantal kecil terselip di bagian sofa makanya dia terus mencari sedari tadi karena bantal tersebut jatuh di bagian bawah sofa lalu ia pun meraih bantal itu di genggaman tangannya kemudian berbalik badan untuk menghampiri suaminya yang sedang menunggunya.


Ketika dia menoleh ke arah suaminya betapa terkejut dirinya sehingga terjatuhlah bantal dari genggaman tangannya serta tampak melebarkan mata karena suaminya sudah terkapar di atas sofa dengan mengeluarkan busa bercampur darah dari mulutnya lalu sigapnya dia berlari ke arah sang suami yang sudah tak sadarkan diri lagi.


"Pa, kau kenapa? hei, bangunlah! kau jangan menakuti ku begini, hei bangunlah jangan bercanda padaku!" riuh sang istri yang terus menggoyangkan tubuh suaminya serta tampak sangat panik dari raut wajahnya.


Shopia terus menggoyangkan tubuh suaminya yang terlihat sudah sangat pucat serta tampak darah dan busa masih saja keluar dari mulutnya sementara itu Shopia menyeka berulang kali mulut suaminya memakai tisu karena busa campuran darah tidak juga berhenti Shopia bertambah panik saat itu.


"Hei kalian! cepat bangun, panggilkan ambulans sekarang, cepat!" teriak Shopia dari jarak jauh karena dia masih menahan cairan busa itu memakai tisu yang sudah hampir habis karena cairan itu belum juga berhenti.


Akan tetapi karyawan serta peran modelnya belum juga bangun karena tidak mendengar suara teriakan Shopia sangking lelahnya mereka.


Karena kesal tidak ada yang bangun satupun padahal dia sudah menjerit berulang kali belum juga tersadar dari tidur mereka akhirnya Shopia meraih botol minuman yang tampak masih tersisa separuh lagi dengan melemparkan ke arah modelnya bernama Beny tepat mengarah ke dahinya.


"Aww, ssshhh."


Beny langsung terduduk memegang dahinya mengerang sedikit karena menahan sakit walau hanya berbahan botol plastik tetapi jika terkena ke bagian tubuh juga akan berbekas.


"Kau! cepat panggil ambulans, bukankah kau lihat aku sedang panik saat ini?" senggak Shopia melontarkan mata yang penuh kemarahan ketika berteriak di depan Beny.


Setelah Beny menyadari kalau suami Shopia sudah sangat pucat makanya Beny langsung berlari mendekati Shopia secepat mungkin.


"Ada apa dengan tuan? kenapa tuan bisa sampai pucat begini nyonya?" lontaran penuh pertanyaan itu membuat Shopia bertambah kesal.


"Kau tidak usah banyak bertanya! cepat kau panggil ambulans sekarang, apa matamu buta? tidak bisa kah kau melihat suamiku saat ini tidak sadarkan diri, hah? cepat kau hubungi rumah sakit!" berang Shopia yang tampak begitu murka hingga ia sempat mendorong tubuh Beny secara kasar.


"Baik nyonya, akan saya hubungi ambulans tunggu sebentar nyonya," turut Beny yang bangkit dari tempatnya saat di dorong oleh Shopia lalu dia mencari ponselnya dengan gerak yang cepat.


Setelah Beny mendapati ponselnya kemudian dia langsung menghubungi rumah sakit tempat biasanya dia di rawat karena kebetulan berjarak dekat dengan aula.


Tidak berapa lama ambulans datang memasuki aula dan bergegas ke arah ruang rias milik Shopia dan ketika para perawat serta petugas lainnya sedang berlari tampak pula mengundang perhatian semua orang yang berada di dalamnya mereka terheran kenapa ambulans datang tiba-tiba saja.


Para petugas dan perawat pun memasuki ruang rias Shopia dan mulai bergerak untuk langsung mengangkat suami dari Shopia memakai tandu darurat untuk memudahkan mereka berlari dengan cepat hingga bisa sampai ke rumah sakit dalam waktu singkat.


"Kau di sini saja, kabari aku kalau pihak mereka datang menemui mu di sini," titah Shopia terdengar sangat terburu karena dirinya harus segera menyusul suaminya yang sudah di bawa terlebih dulu.


"Baik nyonya jangan cemaskan soal itu, semoga tuan baik-baik saja," turut Beny yang juga sedikit cemas dengan keadaan suami Shopia karena terlihat jelas dari raut wajahnya.


Akan tetapi Shopia bukan berterimakasih malah dia pergi begitu saja dan tidak berkata apapun lagi bahkan sepanjang dia berjalan dirinya di perhatikan oleh kerumunan orang-orang yang sedang melihat suaminya di bawa oleh tandu.


"Sial! kenapa aku jadi bahan perhatian mereka? rasanya aku ingin mencabut mata mereka satu persatu!" gumam Shopia sepanjang berjalan terus menggerutu hingga ngedumel sendiri bahkan tampak ia mengepalkan kedua tangannya karena geram.


Setelah ia sampai di luar aula Shopia langsung masuk ke dalam ambulans dan di temani oleh dua orang perawat yang masing-masing sudah menjalankan tugasnya.


^^^To be continued^^^


^^^ 🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Tuhan akan selalu menyadarkan perbuatan manusia atas apa yang telah di lakukannya supaya manusia yang dia tegur bisa kembali pada jalan yang benar, akan tetapi kalau manusia itu menentang atas perbuatannya sendiri percayalah tuhan akan memberi hukuman lebih dari yang kau bayangkan ❤️


Dalam istilah, senjata makan tuan ☺️