Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kebaikan Di Balas Dengan Uang


...♡♡♡...


Tatapan mata Alsha tertuju pada sosok seorang lelaki dan wanita yang tampak begitu serasi sekali saat ia memandangnya, Alsha menganga bahkan matanya tidak berkedip sedetikpun tentu saja wanita bernama Chelsea itu menoleh pada Alsha yang masih asing baginya kemudian David papa dari Nathan melihat degan alis bertautan sehingga wajahnya begitu menjadi penasaran. Siapa yg duduk bersama anak dan orangtuanya itu? begitulah pikir sang papa.


"Khem, kalian sedang makan malam tidak menunggu kami?" ucapan itu terdengar hangat tapi menancap hati Nathan.


"Biasa juga aku makan sendiri tidak pernah di tanya begini," ketus Nathan pula memalingkan wajahnya sambil memegang dagu.


Raut wajah David sang papa langsung berubah drastis setelah mendengar perkataan anaknya itu.


Chelsea menatap hangat Nathan dari jauh, lalu ia bergerak mendekati tempat duduk anaknya. "Nathan, papa dan mama sangat sibuk jadi maafkan kami yang tidak memperhatikan mu," turut Chelsea pula membujuk Nathan secara lembut.


"Sudahlah! aku capek, mau istirahat," imbuh Nathan pula dengan mengelak sentuhan dari sang mama.


Seketika Nathan berdiri tanpa senyuman dan wajah yang terlihat muram.


"Nathan, kau mau kemana?" tanya David dari jauh dan sejenak Nathan menghentikan langkahnya.


"Mau tidur!" celetuknya dengan santai melirik dari samping.


Nathan melenggang ke arah kamarnya dengan meninggalkan semua orang begitu saja.


Kedua orangtuanya menatap Nathan yang sudah tidak terlihat lagi, dan di saat Chelsea menoleh ke arah Alsha yang berada di depannya itu ia masih terus mengamati kenapa Alsha masih saja melihat dengan ekspresi bengong begitu.


"Nak," petikan jari tangan Chelsea untuk menyadarkan lamunan Alsha.


"Ah maafkan saya, saya tidak bermaksud lancang nyonya maaf," keriuhan Alsha membuat yang lain menjadi bingung sekali karena ia langsung berdiri dengan sigap dan membungkukkan badan.


"Memangnya kamu sudah berbuat apa?" tanya Chelsea sekilas melirik pada suaminya sejenak.


"Sa -saya sudah lancang makan di sini, seharusnya saya sudah berada di rumah sedari tadi," ucap Alsha memejam matanya karena terlihat sangat segan hingga tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"David, Chelsea ini namanya Alsha dan dia yang sudah menolong papa saat di jalanan," ungkap kakek Panji membuka suara terlebih dulu.


"Apakah benar begitu? terimakasih karena sudah menolong orangtua saya, oh ya! karena saya tidak ingin ada hutang budi jadi sebutkan berapa nominal yang ingin kamu minta," ucapan David membuat kakek Panji menautkan kedua alis matanya.


"Tidak om saya melakukan semua itu murni, tanpa meminta imbalan apapun sungguh," sambut Alsha dengan murah hati.


"David, ini teman sekolah Nathan jadi papa minta ucapan kamu tolong di jaga sedikit," protes kakek Panji berkata tegas supaya anaknya tidak asalan dalam berkata.


"Ohya pa, tadi aku sudah membuat janji pada teman ku katanya papa besok sudah bisa operasi mata karena ada mata yang ingin di donorkan untuk papa," ucap David mengalihkan pembicaraan seketika.


"Waahh, kakek sebentar lagi akan bisa melihat dong! Alsha senang sekali mendengrnya," tepukan tangan Alsha membuat kakek Panji tersenyum bahagia seolah melupakan perkataan dari anaknya barusan.


"Pa, besok papa akan di temani Chelsea di rumah sakit dan sesempatnya aku akan datang setelah pekerjaan beres," lanjut David memotong perkataan Alsha pula.


"Alsha, apa kamu ingin menemani kakek di rumah sakit?" tanya kakek Panji yang tak menghiraukan perkataan David padanya.


"Kakek memintanya, apa kamu tidak bisa mengabulkan permintaan kakek?" bertanya lagi seolah kakek Panji tidak mengharapkan kedatangan David anaknya sendiri dari balik raut wajah sedihnya itu.


"Apa kamu tidak pulang? ini sudah larut, tidak baik anak gadis berada di rumah orang lain jam segini," ketusnya terdengar nyeletuk lalu ia sambil melihat jam tangannya secara santai.


"Baik om ini juga Alsha mau pulang," sambut Alsha dengan nada rendah masih saja berkata sopan pada David.


"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Chelsea mulai bergerak dari tempat duduknya dan ia langsung berdiri sambil melirik sang mertua yang kini mengerutkan wajahnya.


"Saya bisa naik apa saja tante jangan khawatir," jawab Alsha dengan sopan.


David merogoh kantongnya untuk meraih selembar uang. "Oh ya! ini ongkos untuk kau pulang," kata David pula membuat Alsha tersenyum kecil membalas sikapnya itu.


"Tidak om saya masih ada uang di saku," balas Alsha dengan ramah menolak uang pemberian David.


"Anak sekolah dari mana dapatkan uang kalau tidak dari orang tuanya?" imbuh David membuat jengah istrinya dan kakek Panji.


"Saya suka menyimpan uang saku saya om, jadi saya masih ada simpanan untuk pulang," imbuh Alsha lagi meyakinkan dengan tenang supaya tidak ada salah paham akhirnya.


"Sudah ambil lah, jangan menolak!" terdengar memaksa membuat Alsha memudarkan senyumnya sejenak yang sedari awal sudah berusaha untuk menahannya.


"Cukup! biar papa yang mengantar Alsha, tak perlu memaksa dia untuk menerima uangmu itu!" tegas kakek Panji pula ia sigap memegang kursi berusaha bangkit dari kursinya.


"Pa ini sudah malam biarkan saja dia pulang sendiri," katanya lagi membuat kakek Panji bertambah kesal sekali mendengarnya.


"Alsha pergilah ke depan, tunggu kakek karena kamu akan kakek antar sampai rumah," ucapan kakek Panji membuat Alsha terharu sekali seolah dirinya di perlakukan dengan sangat baik oleh sang kakek.


"Baik kek, om dan tante saya pamit dulu." Alsha membungkuk pelan dan melirik Chelsea yang tersenyum sedikit berusaha ramah pada Alsha.


Sesaat Alsha pergi dari tempatnya tanpa di sahut oleh David namun Alsha masih tersenyum kecil tanpa rasa marah, begitu pula dengan kakek Panji yang ingin melangkah untuk menyusul Alsha yang sudah berlalu.


"Pa!" panggilan dari anaknya mencoba menghentikan langkah kakek Panji.


"Kau pergilah istirahat, jangan menghentikan langkah ku atau kau mau aku pukul pakai tongkat ini?" senggak kakek Panji pula membuat sang anak terdiam seketika tak bisa berkutik.


Chelsea hanya berdiam diri melihat sikap suaminya itu yang tak pernah berubah saat berbicara pada orang lain apalagi selalu merendahkan orang lain tanpa berfikir perasaan yang lainnya.


Apa yang akan terjadi setelah ini?


Tetap ikuti ceritanya yang akan lebih seru lagi tentunya, terus stay di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan ❤️


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^