
🍁🍁🍁
Seng Seng
Terdengar suara dari arah dapur yaitu Hayati yang sedang memasak sebelum dirinya pergi mencari Alsha dan Zizi dalam keadaan hati yang tampak begitu kacau dan cemas Hayati masih sanggup meracik hingga memasak namun saat dirinya memasak ada saja kendala seperti spatula yang jatuh ke lantai, air tumpah, nasi kematangan di magic com saat dia memberi takaran air untuk memasak nasi terlalu sedikit di karenakan dirinya sedang memikirkan keadaan dua anaknya itu sebab perasaan Hayati sungguh tidak baik tetapi di balik itu dia tetap tanggung jawab sebagai istri harus bisa menyelesaikan terlebih dulu pekerjaannya supaya Kino tidak menyalahkan dirinya lagi.
"Hayati, apa kau sudah siap memasak? di mana teh hijau ku? harusnya setiap pagi sudah tersedia di meja ini!" teriak sang mertua dari arah ruang meja makan sambil mengomel tidak karuan.
"Sebentar ma ini sedang saya buatkan," teriak Hayati pula membalas dengan sopan dari arah dapur.
Seketika suara menjadi hening.
"Ya Allah, kuatkan lah aku jangan sampai aku roboh di saat aku lemah," gumam Hayati berbicara sambil mengaduk dan sebelah tangan lagi mengelus dadanya yang terasa sesak.
Tap Tap
Hayati membawa gelas berisi teh hijau yang setiap hari dia buatkan untuk ibu mertuanya itu, tetapi masih saja Hayati salah di mata sang mertua semenjak kehadiran Alsha dan Zizi di rumah mereka.
Dia pun meletakkan gelas tadi di atas meja tanpa berkata apapun dan berbalik arah untuk kembali ke dapur.
Shopia melirik sekilas dengan mata yang begitu sinis dan sangat tajam ke arah Hayati di saat dirinya di diamkan begitu saja seakan ia tak terima dengan perlakuan Hayati padanya. "Tunggu!" panggilan Shopia menghentikan langkah Hayati.
Hayati berbalik karena panggilan itu.
"Ada apa ma?" tanya lembut dari bibir Hayati yang terlihat kaku dan gemetar karena belum sempat mengisi apapun ke perutnya setelah ia menguras banyak air mata.
"Kau tidak ikut hari ini ke acara lelang? apa kau ingin aku mengganti posisi mu di rumah ini?" celetuk mertuanya terlihat santai saja tanpa rasa bersalah.
"Ma hari ini saya ingin mencari Alsha juga Zizi mungkin saja mereka dalam bahaya, apalagi mereka masih anak-anak saya sangat khawatir ma," keluhan Hayati yang sempat ingin mengeluarkan air mata namun masih dia tahan.
"Alsha, Alsha! itu saja yang kau urus, apa kau tidak ada pekerjaan lain? apa kau ingin benar-benar menjalankan peranmu sebagai ibu dari anak gembel itu?" celotehan ibu mertuanya semakin membuat Hayati muak sehingga dia hanya membalas senyum kecil di pinggir bibirnya.
"Mereka anak tidak berdosa, mereka anak yang tuhan titip untuk saya jadi maaf ma! saya ingin kembali ke dapur, menyelesaikan tugas saya sebagai seorang istri dan menantu di rumah ini." Hayati sedikit berbicara nada tegas supaya mertuanya tidak semena pada dirinya dan menganggap ia orang yang lemah.
Hayati pun bergerak dari tempatnya tanpa melihat sang mertua lagi yang sambil santai menyeruput teh hijaunya.
"Dasar menantu tidak tahu diri! apa kau tidak merasa malu mengatakan kalau mereka anakmu? dasar wanita mandul!" teriak sang mertua pula begitu kerasnya.
Bughh
Hayati terduduk di balik pintu dapur dan membungkam mulutnya yang sudah terisak ingin menjerit namun ia tidak mampu melakukannya sebab ia juga tidak menduga ibu mertuanya sungguh tega mengucapkan kata yang begitu pedas sekali sehingga dia merasa ingin lari dari kenyataan pahit yang saat ini dia hadapi, baginya Alsha dan Zizi kekuatannya untuk tetap bertahan hidup sampai detik ini namun sekarang mereka bahkan tidak ada di dekatnya saat dirinya ingin mendekap tubuh mereka bahkan tangisan Hayati semakin menjadi sehingga mengucur air mata deras membasahi kedua pipinya itu, ia juga merengkuh memegangi kedua lututnya untuk tidak mengeluarkan suara supaya tidak mengundang kemarahan ibu mertuanya kembali.
.
.
Semua makanan sudah lengkap di atas meja, setelah itu Hayati menggantung celemek yang sebelumnya terpasang di tubuhnya ia juga dengan sigap mengarah ke kamarnya yang sudah kian kosong ia berfikir Kino sudah pasti ada di meja makan bersama ibunya, tanpa fikir panjang lagi Hayati dengan cepat mempersiapkan dirinya untuk bergegas pergi mencari Alsha dan Zizi.
Hayati belum juga mengisi perutnya apalagi matanya juga terlihat sembab sekali, kemudian ia mulai merapikan diri dan keluar dari kamar juga merapatkan kembali pintu kamarnya.
"Kino aku ingin pamit mencari Alsha dan Zizi," dengan sopan Hayati mendekati mereka berdua, ia pun meraih tangan Kino dan mengecup punggung tangan suaminya itu.
"Kau tidak sarapan dulu?" tanya Kino singkat menatap santai istrinya.
"Aku sudah makan sereal tadi pagi sekarang perutku masih kenyang," jawab Hayati dengan berusaha tersenyum di depan suaminya.
Kino mengangkat kedua alisnya tanpa berucap lagi.
"Ma, saya pamit dulu."
"Ya, pergilah!" sang mertua tidak menggubris tangan Hayati yang ingin pamit padanya.
Tanpa banyak bicara lagi Hayati berjalan ke arah pintu dengan melenggang tidak memikirkan sikap yang di lontarkan mertuanya tadi, kedua orang itu juga hanya melihat Hayati yang akan keluar dari rumah.
Setelah Hayati keluar dari rumah.
"Pfttt ahahahah! ma, apa mama yakin? Hayati akan menemukan anak sialan itu?" kekehan Kino seketika pula setelah Hayati berlalu.
"Bagaimana caranya? kita kan sudah jauh membuang anak itu, mungkin saja keduanya sudah mati kelaparan!" membalas terkekeh pula sambil terbahak lah mereka berdua tanpa perasaan bersalah.
Pukk
Terjatuhlah tas yang ada di genggaman tangan Hayati ketika mendengar keduanya sedang mengobrol sambil tertawa apalagi menyangkut masalah hilangnya Alsha dan Zizi karena ulah mereka.
Kini Hayati tepat berada di depan mereka berdiri hingga menunjukkan wajah yang tidak percayanya mengerutkan kedua alis mata, ia juga sama sekali tidak berfikir sejauh itu kalau merekalah dalang di balik hilangnya Alsha dan Zizi, bahkan keduanya menganga melihat Hayati kembali masuk ke dalam rumah tanpa mereka sadari.
...........
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Kebusukan tetap tercium meski di simpan secara rapat, bagaimana pun kau sembunyikan tetap akan tercium juga bangkainya dan sekecil apapun perbuatan akan ada balasan sesuai perbuatan masing-masing jadi ingatlah saat ingin berbuat suatu hal fikirkan terlebih dulu apakah itu benar atau salah, baik atau tidaknya kita yang tahu mulai sekarang berfikirlah secara logis jika kau ingin kehidupan yang aman dan sejahtera ❤️