
...♡♡♡...
Klinik spesialis anak Dr. Zikmal
Ternyata klinik tersebut tidak terlalu jauh letaknya dari arah gubuk mereka sebab Khanza dengan sigapnya bertanya pada orang-orang di sekitaran maka dari itu mereka menemukannya dan terus saja berlarian sampai pada tujuan mereka.
Ruang praktek Dr. Zikmal
"Alhamdulilah anak ibuk sekarang sudah kami berikan penanganan yang terbaik jadi ibuk jangan khawatir lagi sebab kondisinya tidak seperti sebelumnya," ungkap dokter itu pula yang membuka kliniknya 24 jam sebab adanya beberapa perawat yang berjaga di dalam klinik tersebut.
"Terima kasih dokter atas bantuannya syukurlah anak saya bisa di tangani oleh dokter," jawab Nina dengan menghela nafas leganya berulang kali sembari mengelus dadanya. "Tapi dokter, kenapa dengan anak saya? sudah beberapa hari ini kondisinya tidak menentu," lanjutnya lagi dengan tampang yang sedih.
"Anak ibuk terjangkit demam berdarah karena kami sudah mengecek penyakit anak ibuk lewat tes darah yang kami ambil langsung melalu tubuhnya," balasnya pula secara perlahan. "Demam berdarah sebuah penyakit yang sangat berbahaya buk sebab jika kita sedikit saja terlambat menanganinya anak ibuk bisa kehilangan nyawanya," lanjutnya lagi sembari sesekali melirik ke arah pintu ruangannya yang masih terbuka lebar karena ia terheran Nina seorang diri masuk ke ruangannya tanpa Khanza yang sedari awal sudah berteriak memanggil perawat.
"Saya juga tidak tahu harus berbuat apa dokter kalau saja anak gadis itu tak menolong saya mungkin saya akan kehilangan anak saya satu-satunya," turutnya pula seketika ia menoleh ke belakang sebab Khanza belum juga kembali karena Khanza meminta untuk ikut dari pihak kasir padahal kasir tersebut sebelumnya meminta Nina yang ikut tetapi Khanza malah menunjuk dirinya sendiri untuk biaya perobatan Arka.
"Ah iya, saya belum ada melihatnya... Bukankah tadi ada bersama ibuk?" tanya dokter itu pula yang ikut menatap ke arah pintu.
"Sepertinya di luar dokter karena dia bilang saya masuk saja lebih dulu nanti dia menyusul tapi sampai sekarang belum juga kembali," balasnya lagi masih saja berbicara sambil sesekali melihat ke belakang.
"Ibuk sangat beruntung bisa bertemu dengan anak sebaik itu, apakah kalian kerabat? maaf saya sudah banyak bertanya tapi biasanya hanya kerabat dekat yang dengan sigapnya membantu saudara sendiri," cakapnya pula melontarkan senyum simpul karena ia juga penasaran dengan pertanyaannya sendiri.
"Tidak dokter, kami baru saja berbicara tadi dan kami memang tinggal di gubuk yang sama," balasnya pula dengan membalas senyuman kecil di wajahnya.
"Sungguh anak yang berhati baik bahkan saya jarang sekali melihat anak seusianya mau membantu kesusahan orang lain," katanya pula dengan senyuman hangat menatap ke arah Nina.
"Dokter benar, dia anak yang baik bahkan wajahnya juga cantik sesuai dengan hatinya," turut Nina membenarkan ucapan sang dokter.
Akhirnya mereka pun berbincang panjang lebar sembari menunggu kedatangan Khanza.
"Maaf apakah adik saudara dari anak bernama Arka yang baru masuk tadi?" seorang wanita muda sedang duduk tepat di dalam ruangan kasirnya menatap ramah ke arah Khanza.
"Ya kak itu adik saya," jawab Khanza dengan anggukkan kepala.
"Oh kalau begitu ini rincian biaya yang harus di bayarkan sebelum adik Arka di bolehkan pulang," katanya lagi secara ramah sembari memberikan secarik kertas yang sudah berisikan total pembayaran.
Rincian biaya yang harus di lunaskan.
Pengambilan darah \= 200.000
Biaya infus 1 botol \= 100.000
Obat-obatan \= 300.000
Suntik anti demam \= 100.000
Begitulah gambaran rincian biaya yg harus di bayar oleh Khanza dan kini ia mulai meraih amplop yang di berikan oleh Ratih padanya serta ia perlahan menghitung uangnya tersebut.
"Alhamdulillah masih cukup dengan uang yang di beri oleh buk Ratih," gumamnya pula berkata demikian bahkan wanita yang menjaga kasir tersebut mendengar samar ucapan dari mulut Khanza sebab wanita itu masih penasaran anak sekecil Khanza sudah memiliki uang sebanyak itu namun wanita itu tak berfikir buruk mungkin saja orangtuanya yang memberikan terlebih dulu dan ia juga berfikir Nina adalah orangtua dari Khanza.
Setelah semuanya di hitung oleh Khanza ia pun memberikan sejumlah uang yang sudah tertera di dalam kertas tersebut langsung di depan si kasir. "Ini kak, uangnya coba di hitung lagi saja."
Khanza berkata dengan ramah pula sehingga uang yang di berikannya pun telah di sambut secara baik oleh si kasir tadi. "Baik, uangnya saya terima ya..."
Turut si kasir dengan membalas senyuman ramah dari Khanza terhadapnya.
Seusai Khanza memberikan uang tersebut kemudian ia memasukkan kembali amplopnya ke dalam saku bajunya itu sebab uangnya masih bersisa dua ratus ribu lagi karena Ratih memberikan uang pada Khanza sebanyak satu juta, yeap biasanya dengan uang segitu semua orang sudah banyak keinginan untuk membeli ini dan itu namun tidak bagi Khanza yang sama sekali belum berfikir menggunakan uang tersebut untuk apa sehingga saat ini keputusan yang tepat baginya menggunakan uangnya dengan sebaik mungkin supaya bisa meringankan beban orang lain mengapa tidak jika memang dia juga mempunyai rezeki maka dia harus berbagi dengan yang lainnya, begitulah sifat Khanza yang selalu tertanam sejak kecil.
"Dik, uangnya sudah saya hitung dan ini kwitansi pelunasannya... Jadi hari ini pasien Arka sudah boleh pulang jika infusnya habis," tuturnya dengan ramah pula masih tersenyum hangat pada Khanza. "Dan ini juga obatnya harus di habiskan sesuai petunjuk dari dokter, terima kasih sudah mengunjungi klinik kami semoga pasien Arka lekas sembuh," lanjutnya lagi masih pada keramahan yang tampak di wajahnya.
Khanza pun meraih kwitansi itu beserta obat yang terbungkus plastik dengan nama klinik mereka yang tercantum di bungkusnya. "Sama-sama... Kalau begitu saya pamit kak," turut Khanza dengan sopan ia merundukkan kepala sedikit.
"Silahkan dik," balas si kasir tadi.
Setelah urusan Khanza selesai di kasir ia pun melangkah ke ruangan dokter Zikmal karena Nina mungkin sudah menunggunya sedari tadi, itulah fikirnya bahkan kwitansi yang di terimanya barusan ia masukkan ke dalam saku bajunya sebab ia tak ingin memberi tahu Nina soal biayanya yang begitu besar sudah pasti Nina akan sangat tidak enak pada dirinya.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Jika kau bisa meringankan beban orang lain, maka beban mu seberat apapun akan tuhan berikan keringanan dan akan tuhan angkat derajat mu, itulah janji tuhan untuk orang-orang yang ringan dalam membantu orang lain walaupun kau dalam keadaan susah masih ada yang lebih susah dari mu jadi jangan merasa kau yang paling susah sementara kau bisa membantu mereka dengan caramu sendiri❤️