
🍁🍁🍁
Genggaman tangan hayati begitu erat ketika memegang semua jemari kecil lentik Alsha kini Alsha menjadi anak tanpa adanya seorang ibu tampak pula tetesan air mata pak Adam begitu jelas terlihat saat memasuki liang lahat untuk meletakkan jenazah istrinya serta bendungan air mata tidak tertahankan lagi di saat pak Adam melihat sosok Alsha yang berdiri tegar melihatnya dari kejauhan.
Alsha sungguh anak yang sangat penurut ia tetap menahan air matanya karena sudah berjanji sedari awal dengan Hayati dari samping Hayati mengamati sikap Alsha sangat terlihat tegar sekali dan tersenyum simpul seolah mengikhlaskan kepergian ibundanya.
Sangat tersayat hati seseorang ketika melihat tatapan sayu dari Alsha bahkan setetes air matapun tidak ia keluarkan.
Setelah selesai penguburan semua orang turut berpamitan serta ucapan belasungkawa pada pak Adam yang masih saja terduduk di atas bunga segar sudah kian di taburi oleh bnyak orang.
Seusai semuanya pergi maka tinggallah mereka bertiga yang masih belum beranjak dari tempat pemakaman, ambulans yang mengantar pak Adam juga sudah berlalu pergi kembali ke asalnya.
Keheningan menyelimuti suasana haru itu seketika Alsha melangkah perlahan dan melepaskan genggaman tangan hayati karena ingin mendekati sang ayah.
"Abi, kenapa terus menangis? nanti umi jadi sedih," tepukan tangan Alsha di atas pundak kiri ayahnya berusaha tegar.
Sepintas ucapan itu pak Adam langsung meraih tubuh Alsha yang terbilang masih kecil begitu eratnya ia memeluk tubuh halus Alsha terdengar pula pekikan tangis pak Adam pecah saat itu namun Alsha masih tenang walaupun ia mendengar ayahnya menangis pilu.
Alsha menyambut pelukan itu hingga ia menepuk punggung ayahnya dengan kedua tangannya sungguh itu sesuatu yang jarang sekali di lakukan oleh anak seusianya betapa terlihat begitu dewasa sampai seorang Hayati terkagum melihat sosok Alsha yang teramat tegar sekali.
Hayati mulai berjalan mendekati keduanya Ia jongkok di depan mereka dengan menumpukan kedua tumit untuk menahan tubuhnya.
"Alsha... kau anak yang kuat, maukah kau menjadi anak angkat ibu Hayati?" lontaran itu membuat mata pak Adam terbelalak.
Seorang Hayati belum memiliki anak apalagi sudah menikah 6 tahun lamanya tetapi masih belum juga di karuniai seorang anak makanya Hayati bertekad untuk mendekatkan dirinya pada Alsha karena ia sangat yakin bahwa Alsha adalah anak yang bisa membahagiakan dirinya kelak.
Selepas dari pelukan itu Alsha menatap lurus mengarah pada Hayati hingga beberapa saat ia menoleh pada ayahnya yang juga masih menatap Hayati.
"Ibu bidan baru saja mengatakan apa?" tanya pak Adam sejelas mungkin sambil menyeka air matanya.
Tetapi Alsha masih saja terdiam tanpa menyambut ucapan Hayati.
"Saya ingin Alsha tinggal dengan saya untuk sementara waktu dan saya akan membantu Alsha mengurus adiknya, apakah pak Adam mengizinkan saya berbuat hal demikian?" tanya Hayati pula sembari mengelus rambut Alsha dengan lembutnya.
Bagaimana dengan Alsha? apakah dia ingin tinggal bersama orang asing? batin pak Adam menggaruk kepalanya sejenak dan menoleh pada Alsha yang masih menatap lurus ke arah Hayati.
"Abi bagaimana?" berbalik tanya pula seakan berat melepas ayahnya seorang diri.
"Kita akan sering ke rumah Alsha dan ibu akan selalu menemani Alsha jika Alsha rindu pada Abi," jawab Hayati dengan memegang lembut dagu Alsha.
"Tapi..." Ucapan Alsha terhenti ketika ia melihat ayahnya berdiam saja sedang melamun.
Mengingat istrinya sudah tidak ada lagi dan dirinya juga tidak mungkin selalu ada untuk kedua putra putrinya di saat sedang bekerja mungkin ini jadi suatu kesempatan baginya untuk menerima tawaran Hayati apalagi ketulusan dari Hayati begitu jelas terlihat dari sorot matanya menatap lembut Alsha, begitulah pikir pak Adam.
"Abi," panggilan Alsha membuyarkan lamunan pak Adam sejenak.
"Ah iya Abi setuju kalau Alsha tinggal di rumah ibu Hayati tetapi Alsha harus janji jangan nakal dengan ibu Hayati, Apa Alsha bisa memegang janji itu?" tanya pak Adam pula membuat Hayati terhentak merasa bahagia mendengar ucapan itu.
"Pak saya begitu yakin Alsha ini anak yang begitu baik dan saya juga akan mendidik Alsha dengan tangan saya sendiri," balas Hayati dengan sigapnya penuh tekad yang kuat.
"Baiklah kalau begitu saya jadi merasa lebih tenang jika Alsha berada di dekat ibu bidan," sambung pak Adam merasa lega menghembuskan nafas pelan walau masih terasa berat.
Alsha yang tersenyum manis mendengar itu semua seakan ia senang oleh ajakan dari Hayati tentu saja Alsha merasa kalau Hayati akan memperlakukannya seperti anak sendiri, Itulah pikir Alsha di dalam otak kecilnya.
Keharuan di balut rasa bahagia itupun berlalu ketika mereka beranjak pergi dari pemakaman hendak kembali untuk menjemput bayi yang baru saja lahir kemarin lusa dan tak lupa juga Hayati menemani Alsha untuk mengambil semua perlengkapan yang akan dia bawa dari rumahnya.
.
.
Kisah pilu Alsha akan di mulai dari sini, saat dirinya menjadi anak angkat seorang bidan yang terkenal akan kemewahan dan memiliki jabatan terbilang paten, suami sang polisi yang berkedudukan tinggi sementara itu Hayati mempunyai tempat praktek di berbagai penjuru.
Akan kah Alsha mampu untuk berada di samping Hayati? kita ikuti kisah mereka selanjutnya.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^