
...โขโขโข...
Curahan air hujan masih saja mengguyur kota Bandung Babakan Ciparay saat itu terlihat orang yang berlalu lalang sedang sibuk berlari sana sini adapula yang sedang berteduh, memakai payung saat berjalan, ada juga merelakan dirinya hujanan karena mengejar waktu, dll.
Mata Hayati tidak terlepas dari pandangan yang mengarah setiap sisi jalan, gang, bahkan tempat orang sedang berdiri menunggu hujan dan sekarang kegelisahan Hayati semakin jelas terlihat karena belum juga ada pertanda jejak dari Alsha. Zizi terus bertanya berulang kali pada Hayati apakah kakaknya sudah terlihat tentu saja Hayati berusaha menenangkan kecemasan Zizi dengan cara apapun yg dia bisa.
Alsha di mana kamu nak? bunda sangat cemas, semoga tidak ada hal buruk menimpamu.. Di dalam benaknya Hayati berkata demikian hingga celingukan sambil menyetir mobil.
.
.
.
๐๐๐
Kembali pada markas preman yang menangkap Alsha.
Pelupuk mata Alsha hanya bergerak tetapi tidak bisa ia buka mungkin Alsha berusaha untuk sadar namun karena reaksi obat bius yang mereka berikan di sapu tangan itu membuat kesadaran Alsha menjadi tidak stabil.
Abeng dan Beng bersiap untuk menikmati tubuh Alsha yang semampai itu dengan wajahnya teramat cantik membuat keduanya semakin merasa senang karena mereka menemukan mangsa yang sangat pas untuk di santap.
Temannya bernama Beng itu menutup pintu markas dan Abeng saudara kembarnya sedang ingin melakukan aksinya itu. Perlahan ia membuka kerudung Alsha yang menutupi rambutnya, dengan jelas Abeng melihat wajah asli Alsha tanpa memakai kerudung sungguh jahanam sekali fikiran Beng saat melihat dari jauh sehingga ia melebarkan matanya dan mengecap lidahnya sendiri berulang kali.
"Beng ternyata anak ini benar-benar sangat cantik!" riuh Abeng membelai rambut Alsha yang masih lelap belum juga sadar.
Abeng mulai ingin membuka kancing baju Alsha yang masih terpasang dengan erat, setelah ia membukanya ternyata Alsha memakai dalaman lagi untuk menutupi tubuhnya.
"Ah, si*al! banyak sekali lapisannya apa dia mau jual baju di tubuhnya ini?" gerutu si Abeng sudah tidak sabaran akhirnya ia berceloteh sendiri.
Sementara itu Beng mau membuka tali pinggangnya saat melihat kancing baju Alsha yang sudah kian terlepas.
Belum sampai setapak Beng melangkah.
Bruak
Aaarghhh
Jeritan Beng ketika itu menggelegar sampai seisi ruangan.
Pintu markas hancur seketika menimpa tubuh Beng entah mengapa.
Alangkah terkejutnya Abeng ketika melihat ada dua orang bertubuh kekar sedang berdiri menatap mereka seperti ingin membunuh dengan keji.
Abeng membelalakkan matanya kemudian ia melihat postur tubuhnya yang tidak sebanding dengan tubuh kekar di depan matanya.
Glupp
Abeng kini menelan air liurnya sendiri seakan tak mampu berdiri lagi seolah merasa ciut sebelum perang di mulai.
"Si- siapa kalian? berani sekali kalian masuk ke markas kami!" tunjuk Abeng berusaha berdiri supaya tidak ketahuan kalau dirinya sedang di ambang cemas padahal sudah kelabakan sendiri.
Tu- tuan muda siapa? kenapa mereka begitu hormat? batin Abeng tampak keringat dingin bercucuran di wajahnya.
Seketika itu orang yang mereka sebut dengan tuan muda ialah pemilik sebuah perusahan terkaya di kota Bandung, tuan muda itu menapaki pintu yang sudah menimpa tubuh Beng dan kemudian dia berjalan dengan santainya di atas rubuhan pintu tadi tanpa belas kasihan.
Arrgghhh
Jeritan Beng semakin pecah karena tuan muda itu menginjak tubuhnya hingga sampai kepalanya.
Ia mulai melangkah berjalan mendekati Alsha yg menjadi tawanan mereka. "Lepaskan gadis itu!" ia menyenggak namun santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Berani sekali kau memerintahku!" teriak Abeng pula tanpa sadar sudah di pelototi oleh kedua orang berbadan kekar tadi.
"Hardi, Ded, urus keduanya!" tegasnya pula dengan berucap sekali saja.
"Siap tuan muda!" patuh keduanya dengan melangkah masuk ke dalam markas bergerak lebih cepat.
Krek Krek
Bunyi gerakan leher serta jari-jari Hardi juga Ded seolah meregangkan otot mereka yang sangat kekar.
"Ka- kau ma- ."
Aaarghhh
Bugh dhuak
Tanpa basa basi lagi Hardi menghantam tinjunya ke wajah Abeng yang sudah terdiam di belakang tembok ingin melarikan diri namun tendangan kaki Hardi yang begitu panjang menghancurkan wajah Abeng seketika.
Saat bersamaan Ded memungut tubuh Beng yang masih tertimpa oleh pintu tadi ia mengangkat tubuh Beng memakai satu tangannya saja.
"A- ampuni aku!" ucap Beng dengan memohon seolah sudah tidak berdaya.
Tetapi tidak di dengarkan oleh Ded.
Bugh Dhuaaak
Pukulan keras menghantam perut Beng seketika itu ia memuncratkan darah segar dari mulutnya, Ded melemparkan tubuh Beng bersebelahan dengan Abeng yang kian tidak bergerak lagi akhirnya mereka berdua benar-benar runtuh dalam satu hantaman saja.
"Urus! jangan ada yang tersisa di ruangan ini lebih tepatnya serahkan pada pihak berwajib, aku akan membawa gadis ini," tegasnya lagi hingga menggendong tubuh Alsha bahkan ia menutupi tubuh Alsha dengan switer yang dia pakai sebelumnya.
"Baik tuan muda serahkan semuanya pada kami," bungkuk keduanya pula dengan patuh.
..........
Masih ada cerita yang lebih seru lagi, tentunya terus stay di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan๐ค
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^