Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kekalahan Devan?


...โ™กโ™กโ™ก...


Cerita sebelum petugas kepolisian datang ke rumah Shopia sebelumnya sudah mendapatkan informasi langsung dari Hayati sendiri.


Ruang rawat Hayati.


Pagi hari itu matahari menyongsong sehingga cahayanya masuk ke dalam ruangan Hayati bahkan tampak dirinya sedang bersiap diri untuk segera pulang bahkan kehadiran Nathan juga kakeknya turut ada di dalam ruangan tersebut maupun Devan yang selalu ada di samping Hayati menemaninya selama Hayati di rawat.


"Tante sekarang mau ke mana?" tanya Devan pula berbicara demikian sambil memberi Hayati segelas air putih sebab Hayati baru saja selesai makan bubur yang telah di sediakan oleh perawat untuknya.


Seusai Hayati meneguk air minumnya kemudian ia memberi gelas yang masih bersisa air tersebut pada Devan lalu ia hanya tersenyum simpul belum menjawab pertanyaan Devan itu tak lama ia menghela nafas kasar sebab ia juga tidak tahu harus pergi kemana sementara rumahnya tempat ia tinggal hanya bersama suaminya walaupun dia memiliki harta namun sudah ia pindahkan atas nama Khanza tetapi ada sebagian simpanan dirinya untuk masa hari tuanya akan tetapi kondisinya saat ini belum memungkinkan untuk mencari rumah sebagai tempat tinggalnya apalagi harus tinggal sendirian.


"Tante juga bingung harus kemana Van."


Jawab Hayati melontarkan mata penuh kesedihan serta suaranya yang lirih terdengar serak.


"Kalau begitu tante ikut Devan saja tinggal sama nenek karena kalau tante tinggal bersama Devan kan nenek bisa menjaga tante untuk sementara waktu," katanya pula memberi solusi sehingga Hayati tersenyum tipis padanya.


"Tidak! tante bisa di rumah ku saja lagian di rumahku juga banyak orang yang bisa mengurus tante," sambung Nathan menyela sebelum Hayati menjawab tawaran dari Devan sehingga mereka berdua langsung menatap ke arah Nathan sementara kakeknya yang berdiri di sebelah cucunya sedang menahan tawa supaya tak terlepas makanya sang kakek sesekali memalingkan wajah melihat Nathan bersikap demikian. "Bagaimana tante? apa tante mau di rumah Nathan saja?" lanjut Nathan tanpa melihat ke arah Devan karena ia fokus melihat ke arah Hayati dan menunggu jawaban dari Hayati dengan sabar serta tersenyum ramah.


"Mmmhh bagaimana ya... Kok tante jadi lebih bingung," cakapnya pula hingga ia jadi tertawa kecil sembari melihat keduanya.


"Sudah tante di rumah ku saja," selanya lagi.


"Aku tidak bertanya pendapatmu!" sanggahnya secara tegas ia menatap Devan.


"Sekarang pilihan ada di tangan tante jadi kau tak bisa memaksa tante!" serang Devan pula.


"Dan kau juga tak bisa memaksa tante," balas Nathan yang tak mau kalah dari Devan.


Baik kakeknya juga Hayati saling melihat satu sama lain sehingga Hayati menghela nafas panjangnya sementara Panji menahan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri bahkan ia sesekali tersenyum simpul memalingkan wajah ke arah lain melihat cucunya yang begitu cemburuan ketika Devan mengusulkan untuk Hayati ikut dengannya.


Saat ini mereka berdua masih ribut bahkan tak menyadari orang-orang di sekelilingnya termasuk Panji juga Hayati yang masih mendengarkan keributan dari mereka.


Panji juga tak bisa membawa Hayati ke rumahnya sebab anak lelakinya sudah pasti tidak menyukai ada orang yang berada di dalam rumahnya apalagi pernah terbukti ketika Khanza berada di rumah mereka saja David sudah sangat tidak suka konon lagi jika Hayati tinggal di rumah mereka bisa-bisa Nathan akan selalu ribut dengan ayahnya sendiri.


Oleh sebab itu Panji saat ini sedang berfikir sembari terus mendengar suara ocehan dari cucunya juga Devan bahkan Hayati terus memijat dahinya mendengar suara mereka bahkan ia berusaha mendamaikan mereka juga belum berhasil malah teguran dari Hayati tak di gubris oleh mereka berdua.


BLAAAMMMM


DRAKKK


"Apa kalian bisa diam?" lontaran mata dengan kobaran api membuat mereka terdiam seketika.


"Bi -bisa..."


Serentak keduanya menjawab dan anggukkan kepala pula sehingga mata mereka melebar ketika melihat Panji sudah terlihat penuh rasa amarah.


"Bagus!" kata Panji sambil membuang nafas kasar lalu ia melangkah ke arah Hayati dan mengatupkan kedua tangan di dada. "Buk Hayati, saya ada sebuah apartemen kosong untuk ibuk tempati dan saya akan berikan satu orang pengurus rumah saya supaya bisa menjaga buk Hayati, bagaimana apa ibuk bersedia dengan tawaran saya?" ucapan Panji tersebut membuat Nathan jadi tersenyum tipis sebab ia merasa lega mendengar solusi dari kakeknya itu walaupun tidak langsung ke rumahnya asalkan tidak ke rumah Devan juga makanya Nathan memberikan senyum senangnya ke arah sang kakek.


"Aduh bagaimana ya saya jadi merepotkan tuan," jawab Hayati dengan nada yang sangat segan mau menerimanya.


"Tidak buk, justru kalau di apartemen saya akan membuat ibuk lebih aman dan ibuk bisa memulihkan kesehatan setelah itu kita bisa cari Alsha bersama-sama," turutnya pula terdengar ada benarnya makanya Hayati melihat ke arah Devan dan kemudian Devan anggukkan kepala menandakan dirinya setuju dengan solusi yang di berikan Panji tersebut akan tetapi kepalan kedua tangannya begitu erat tepat ia sembunyikan di belakang tubuhnya sehingga tak ada yang menyadari jika ia merasa jengkel walau harus tersenyum palsu di depan Hayati.


Sial?! kakek sama cucu tidak ada bedanya yang bisanya hanya buat orang kesal! batin Devan berucap demikian tanpa dia sadari Nathan sudah tersenyum seringai melirik ke arah samping merasa puas karena kakeknya menggagalkan rencana Devan untuk mendekati Khanza melalui Hayati terlebih dulu.


"Baiklah saya terima tawaran dari tuan, terima kasih sudah banyak membantu saya... Terima kasih juga buat kalian berdua sebab tanpa kalian tante tidak tahu bagaimana nasib tante akan jadi seperti apa," ia berkata demikian dengan nada yang lirih ke arah Panji setelah itu ia melihat ke arah Nathan juga Devan dengan air mata berbinar di bola matanya.


"Sama-sama tante," jawab ramah secara serentak dari keduanya.


"Ma-"


"Sudah tante jangan di fikirkan lagi sekarang yang lebih penting tante harus jaga kesehatan supaya sehat seperti dulu," imbuh Nathan berkata demikian namun sebelumnya yang ingin berbicara itu Devan akan tetapi Nathan langsung menyergap secara cepat dan tak memberi Devan kesempatan untuk bicara sehingga Devan hanya anggukkan kepala membenarkan apa yang di ucapkan oleh Nathan barusan hingga tersenyum penuh kepalsuan.


Hayati pun tersenyum bahagia melihat keduanya yang membuat rasa sepinya selama ini menjadi sedikit terobati walau hatinya masih merasa tidak tenang sebelum Khanza dan Zizi tampak olehnya namun dengan keberadaan mereka memberi harapan besar untuk Hayati lebih cepat sembuh.


"Kalau begitu saya deluan menunggu di bawah," kata Panji pula sengaja ingin menutup perbincangan mereka supaya mereka juga ikut keluar dari ruangan tersebut.


"Baiklah tuan kami akan menyusul," turut Hayati secara tersenyum ramah kemudian Panji berjalan menuju pintu ruangan yang sudah terbuka dan sekilas ia melirik ke arah Nathan dengan tersenyum simpul sehingga Nathan menaikkan sebelah alis matanya melihat ke arah sang kakek yang melontarkan senyum bermakna tersebut.


Seusai Panji berlalu pergi kemudian sigapnya Nathan memangil perawat supaya membawakan sebuah kursi roda untuknya sementara Devan membantu Hayati untuk bersiap-siap setelah beberapa saat Nathan membawa kursi roda yang di berikan perawat padanya lalu ia mendekatkan kursi roda tadi ke arah Hayati dan secara bersamaan mereka membantu Hayati menaiki kursi roda tersebut secara perlahan.


Setelah Hayati duduk di kuris roda tejadi lah keributan kembai antara mereka berdua sebab berebutan ingin mendorong kursi roda akan tetapi Hayati menyarankan keduanya untuk saling mendorong tanpa harus ribut pada akhirnya mereka berdua menurut sehingga mendorong kursi roda satu sama lain bahkan bodyguard Nathan menjadi bergeleng kepala karena keributan mereka sedari tadi terdengar sampai luar ruangan.


Sesampainya di bawah keluar dari rumah sakit Hayati di naikkan ke mobil milik Nathan sementara Hardi yang menyetir mobilnya lalu Ded duduk di depan bersama Hardi sedangkan Hayati duduk di bangku belakang tepat di tengah antara mereka berdua sebab Devan tak membawa mobil karena ia lebih dulu datang ke rumah sakit menggunakan taksi dan Panji menggunakan mobilnya sendiri yang di kemudikan oleh Wanda.


^^^To be continued ^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


NANTIKAN TERUS....