
...♡♡♡...
Dari pertemuan Khanza pada Ratih yang tak terduga berakhir di warung soto pak Alim dan sekarang Ratih beserta suami mengantarkan Khanza di tempat tujuannya sebab Khanza mengatakan ingin melanjutkan berjualan koran walaupun sudah mendapatkan uang dari Ratih namun ia tak ingin hanya mengandalkan uang tersebut karena ia masih mau mencari uang dari hasil jerih payahnya sendiri, begitulah perkataan Khanza sebelum turun dari mobil padahal Ratih juga ingin membeli semua koran yang di bawa oleh Khanza akan tetapi tetap saja Khanza masih menolak tawaran yang di berikan Ratih padanya.
Sebenarnya Ratih ingin mengantarkan Khanza sampai ke gubuk tempat tinggalnya supaya Ratih bisa mengetahui letak di mana gubuk tersebut tapi Ratih tidak mungkin memaksa Khanza terus-menerus karena sudah pasti Khanza akan merasa tidak nyaman lagi terhadap dirinya, itulah fikir Ratih di dalam benak yang sedari tadi hanya menatap lurus ke arah Khanza dari balik kaca mobilnya.
"Apa yang sedang kau fikirkan ma?" tanya sang suami yang sesaat melihat istrinya terus melamun setelah Khanza turun dari mobil mereka.
Pertanyaan dari sang suami membuyarkan lamunan istrinya itu lalu sang istri pun menoleh dengan raut wajah yang sedih bercampur aduk. "Aku tidak tega melihat anak-anak sekecil itu harus mencari uang di jalanan raya apalagi bisa kena panas dan hujan sungguh aku tak tega pa melihat mereka," cakapnya terdengar sangat lirih dan sekarang matanya masih tertuju pada Khanza yang tampak sedang menawarkan koran di pemberhentian lalu lintas.
"Papa juga merasa kasihan pada Khanza sebenarnya dia juga memikul beban yang berat tapi dari situ lah papa bangga pada anak gadis seperti Khanza yang tak malu mencari uang walau harus di jalanan," balasnya pula dengan ikut menatap ke arah luar lalu beberapa saat suaminya memegang punggung tangan kanan istirnya sembari melontarkan senyuman yang sangat hangat ketika sang istri juga sudah menoleh pada suaminya. "Ma, papa boleh bertanya?" lanjutnya dengan raut wajah yang sendu bernada rendah.
"Ya pa, katakan saja ada apa?" jawab sang istri membalasnya dengan hangat pula.
"Kau membawa uang lebih? bukankah pertemuan ini kebetulan kenapa kau bisa memberi uang pada Khanza?" tanya suaminya dengan tampang serius sebab yang ia tahu istrinya kalau berbelanja untuk warung makan mereka selalu membawa uang pas saja.
"Hmm, mama sudah ber-nazar pa makanya mama membawa uang lebih ingin membeli makanan anak yatim dan ternyata mama bertemu Khanza di pasar dari itu mama memberi uang itu pada Khanza yang lebih membutuhkannya menurut mama," jawabnya pula sehingga sang suami menjadi benar-benar kagum pada istrinya makanya sang suami hanya melontarkan senyuman simpul di wajahnya.
"Papa tidak menduga kau bisa menjadi wanita sebaik ini ma sungguh papa seperti mimpi rasanya dan papa benar-benar bahagia mama bisa lebih perduli pada fakir miskin sebab memang begitulah seharusnya peran kita untuk meringankan beban mereka," balasnya sembari membelai kepala istrinya dengan sentuhan yang begitu hangat dari sebelum Ratih berubah sampai sekarang ini.
"Iya pa, mama juga seperti ini karena sebuah surat yang di tinggalkan oleh Khanza sebelum dia pergi dari rumah kita," ungkapnya pula serta tersenyum kecil melihat sang suami yang terus menyentuh kepalanya itu.
"Surat apa ma? kok papa tidak tahu kalau Khanza pernah meninggalkan surat di rumah kita?" tanya sang suami menautkan dahinya.
"Mama lupa memberi tahu papa, sejak itu mama sangat terpukul karena sudah berlaku buruk pada Khanza lagian suratnya masih ada di rumah kok, nanti mama kasih lihat papa kalau kita sudah sampai di rumah," ujarnya pula dengan memberi senyuman kecil.
"Baiklah, kita pulang sekarang." Ucap sang suami.
"Oh ya pa, kata Khanza di sini tempat dia berjualan biasanya! besok kita ke sini lagi ya pa karena mama ingin melihat keadaan mereka supaya mama bisa lebih tenang saja," pintanya pula sembari mengelus punggung tangan suaminya.
"Iya ma, besok kita akan ke sini lagi."
Sang suami anggukkan kepala sehingga istrinya tampak tersenyum riang dengan jawaban suaminya tersebut tak berapa lama kemudian seusai perbincangan itu mobil pun di lajukan oleh pak Yudi namun sorot mata Ratih masih melihat ke arah Khanza dan yang lainnya sampai mereka sudah tak tampak lagi.
.
.
.
"Bos! tidak salah lagi itu anak yang kita cari bos," riuh dari mulut Juna tepat di telinga Guntur.
"Berisik! kau fikir gendang telingaku ada dua? kau berteriak keras begitu, apa mau mulutmu aku hancurkan sekaligus? hah!" berang Guntur pula yang sedari tadi sudah terus mengamuk sehingga ke dua bawahan yang duduk di belakang sedang menahan tawa mereka ketika Juna menjadi sasaran kemarahan Guntur.
"Ya maaf bos aku tak sadar sudah berteriak di telinga bos."
Kilahnya pula serta memasang raut wajah memelas.
"Sekali lagi kau berteriak di telingaku akan aku hancurkan mulutmu tanpa ampun, mengerti kau!" kelakarnya dengan raut wajah yang murka sehingga Juna terdiam tak berani menjawab dan hanya anggukan kepala sebab ia menyadari kalau Guntur merupakan orang yang bringas apalagi Guntur lah orang yang menyebabkan ibunya meninggal sebab di saat itu Juna menyaksikannya sendiri makanya Juna tak berani terlalu membantah perkataan Guntur terhadapnya.
"Sekarang kalian semua keluar ikuti aku!" lanjutnya lagi dengan tegas setelah ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Baik bos!" turut mereka secara serentak pula.
Setelah mereka semua keluar dari mobil kini Guntur sedang berjalan ke arah tiga orang anak lelaki yang pernah berurusan dengan Khanza sebelumnya sebab Guntur melihat ketiga anak lelaki itu lagi membawa koran juga makanya Guntur berniat ingin mencari tahu info tentang Khanza melalui ke tiga orang anak tersebut apalagi dia melihat sebelum turun dari mobil bahwa anak-anak lelaki itu tampak tak menyukai Khanza dan yang lainnya maka dari itu kesempatan bagi Guntur mendekatinya pula.
"Hei bocah," tegur Guntur dari balik punggung ke tiga anak lelaki tersebut.
Sesaat ke tiganya pun menoleh pada sumber suara yang memanggil mereka dari belakang.
"Ya om, ada apa?" sahut seorang anak lelaki bernama Adit yang pernah mendorong Khanza dulunya saat ini sedang membalas teguran dari Guntur.
"Apa kalian mengenal anak-anak yang ada di sebrang sana?" tanya Guntur pula serta menunjuk ke arah yang di maksudnya.
"Oh gadis sialan itu? ya om kami kenal, memangnya kenapa om?" berbalik tanya pula sehingga Guntur tampak puas sebab dugaannya benar kalau mereka memang tidak menyukai Khanza.
"Apa kalian mau tugas? ada uang saku buat kalian," tawar Guntur sembari menunjukkan beberapa lembar uang yang dia keluarkan dari dompetnya sehingga membuat mata ke tiga anak lelaki tersebut menjadi berbinar bahkan sambil mengecap serasa ingin merampas uang tersebut dari tangan Guntur, begitulah kira-kira.
"Mau mau om! kita mau," antusias Adit menjawabnya bahkan yang lainnya juga ikut anggukan kepala.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Nazar artinya sebuah janji untuk melakukan hal baik atau buruk sedangkan nazar menurut pengertian syara' ialah menyanggupi melakukan ibadah jadi jika kita sudah ber-nazar hendaknya segera di laksanakan sebelum kita melupakan hal wajib tersebut ❤️