
πππ
Gedubraaak
Suara keras yang terdengar seperti kelapa jatuh dari atas pohon membuat seorang pelayan wanita rumah terhentak langsung berlari dari pekerjaannya.
"Ukh, ssshh..." Desis rasa sakit di punggungnya Alsha ketika dirinya terjatuh dari atas sebuah kasur yang begitu empuk.
Mata Alsha melotot saat dirinya tengah tersadar dari lelapnya ia juga melihat sebuah kamar sangat luas begitu harum bak bunga kasturi sehingga terasa nyaman saat masuk ke dalam hidung, bahkan dia juga tidak menduga dirinya bisa ada di kamar luas dan senyaman itu terasa seperti di dalam istana saja ia pun sambil celingukan masih tidak percaya apa yang baru saja di lihatnya.
"Nona sudah terbangun? mari saya bantu nona berdiri," turut seorang pelayan rumah tersebut sangat ramah sekali.
Ia pun berdiri dengan bantuan pelayan tadi. "Saya berada di mana? kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Alsha sejenak kembali duduk di atas kasur empuk saat di papah pelayan barusan.
"Nona ke sini bersama tuan muda kami," kata pelayan itu yang berpenampilan sangat rapi sekali.
Alsha menyadari kalau ia sebelumnya sempat menghadapi preman yang mencuri uangnya. "Loh! kerudung saya di mana? apa kamu melihat letak kerudung saya?" riuh Alsha bangkit dari duduknya sehingga mondar mandir kelihatan gelisah karena penutup kepalanya kian terlepas.
Krekk
Pintu kamar terdengar sudah di buka oleh seseorang dari kejauhan Alsha melihat tongkat yang begitu tidak asing baginya.
"Nak, apa itu kamu?" kata seorang kakek yang tengah mengejutkan batin Alsha sejenak.
"Ya Allah, kakek... Kenapa kakek bisa berada di sini juga? apa kakek kenal dengan pemilik rumah ini?" keriuhan Alsha membuat rasa sakit di tubuhnya hilang seketika ia berlari mendekati kakek itu dan memeluknya hangat.
"Alsha fikir kakek berada dalam bahaya, apa kakek terluka? di bagian mana yang sakit kek? maafkan Alsha yang tidak bisa menolong kakek," kepanikan Alsha membuat kakek itu tersenyum lebar.
"Seharusnya kakek yang bertanya seperti itu padamu nak karena kamulah orang yang sudah menolong kakek," lontaran itu membuat Alsha membuang nafas lega.
"Syukurlah sepertinya kakek baik-baik saja." Alsha kembali memeluk kakek itu dengan hangatnya merasa ada kedamaian dalam hatinya.
Sementara itu seseorang yang lain masuk ke dalam kamar membuat Alsha terkejut.
"Apa kamu mencari ini?" tanya seorang lelaki yang telah menyelamatkan Alsha sebelumnya.
"Hahh, bukannya kamu..." Mulut Alsha terdiam melihat lelaki yang masuk ke dalam kamar itu.
.
.
Lelaki yang sempat menyelamatkan Alsha merupakan seorang blasteran Eropa bahkan ahli waris dari keluarga Austin pemilik perusahaan terbesar di kota Bandung yaitu Agency Modeling Management. Lelaki tersebut bernama Nathan Austin, Alsha dan Nathan memiliki umur yang sama tetapi berbeda kasta juga berbeda agama. Nathan memiliki agama Kristen, sedangkan Alsha agama Islam di tambah lagi keluarga Nathan begitu sangat terpandang dan sangat di hargai oleh bnyak masyarakat pada umumnya, papanya bernama David Austin sedangkan sang mama bernama Chelsea.
Alsha semakin bingung dengan kondisi dan suasana yang ada sehingga dia melihat sepintas pada kakek yang ia tolong sebelumnya dan menoleh pada Nathan saat lelaki itu terus saja melihatnya.
"Hubunganmu dengan kakek ini apa?" tanya Alsha seketika membuka suara setelah sadar dari lamunannya.
"Ini kakek ku, aku mencarinya hampir setengah bulan ini dan ternyata dia sedang ada di jalanan bersama mu tadi bahkan aku melihat kakek ku sudah tergeletak tak sadarkan diri setelah itu aku membawanya masuk ke dalam mobil." Nathan memberi jawaban yang jelas supaya Alsha bisa memahami ucapannya.
Alsha semakin tidak percaya bahwa kakek yang ia tolong itu ada sangkut pautnya dengan lelaki yabg begitu dingin saat di sekolah.
Nathan tidak pernah mau berbicara padanya, yeap pria satu itu sangat dingin bahkan tersenyum pun enggan makanya Alsha masih belum percaya bahwa yang saat ini berdiri di depan matanya ialah Nathan si cowok dingin seperti batu es.
"Lantas kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Alsha lagi dengan beraninya.
"Hmm aku melihat ada bercak darah sepanjang jalan saat aku memindahkan kakek ku jadi aku penasaran mengapa kamu juga menghilang saat bersamaan ketika kakek ku tergeletak pada saat itu pula aku mengikuti darah yang berceceran ternyata kamu sedang berada dalam masalah," jawab Nathan pula dengan santai dan memberikan kerudung yang ia pegang tadi sambil melenggang duduk di atas kursi empuk miliknya.
Alsha memakai kembali kerudungnya dengan cepat.
"Terimakasih, karena kamu sudah menolong saya," turut Alsha dengan bungkuk perlahan.
"Jangan seperti itu, santai saja berbicara padaku lagian kamu juga sudah menolong kakek ku," balasnya dengan senyuman kecil.
Alsha masih tidak menduga kalau itu memang Nathan dia memalingkan wajahnya takut ketahuan kalau dirinya sedang di ambang rasa malu.
..........
Bagaimana keadaan Zizi dan Hayati yang terus mencari Alsha ?? kita ikuti terus cerita merekaβ€οΈβ€οΈ jangan sampai ketinggalan..
^^^To be continued^^^
^^^π aiiWa π^^^