
🍁🍁🍁
Hari sudah semakin siang namun Devan dan Amelia masih terus menelusuri alamat yang akan mereka datangi, Amelia juga selalu turun dari mobil untuk bertanya pada orang-orang sekitar letak alamat tersebut begitupula hal yang sama di lakukan oleh Devan bahkan mereka tampak saling kompak untuk mencari alamat yang di berikan oleh Hayati.
Saat di dalam mobil.
"Van, aku haus." Amelia mengecap mulutnya yang sudah sedari tadi mulai terasa kering.
Devan mengerem mobilnya seketika di pinggir jalan.
"Itu ada warung sekalian kau tanyakan alamat ini! ohya kau belikan untukku juga, dan ini uangnya." Devan berceloteh sambil merogoh dompet di saku celananya yang tanpa dia sadari Amelia sudah keluar saat dirinya berbicara panjang lebar. "Haish, aku sedang bicara kau pergi begitu saja! dasar wanita," cocot Devan melihat dari spion mobil saat Amelia menyebrang jalan.
Beberapa saat kemudian Amelia masuk kembali dengan membawa plastik putih yang di dalamnya terdapat snack dan permen ada juga minuman botol yang dia teguk saat sudah duduk di bangku mobil.
"Loh, loh! punyaku mana?" tanya Devan berteriak sedikit keras.
"Apa kau ada minta di belikan?" tanya Amelia pula dengan santai.
"Sumpah Mel, Lo budek ya? kan tadi aku sudah pesan sekalian belikan untukku, Lo sih main pergi aja! aku haus mel, emangnya Lo doang yang hidup?" kekesalan Devan memuncak mengurut kepalanya sangking ngenes sama Amelia.
Zlep
Tiba-tiba saja Amelia menempelkan botol dingin yang sudah dia minum tadi ke pipi Devan.
"Nih minum! jangan sampai Lo mati kehausan," kata Amel pula tak menyadari ucapannya.
"Apaan sih! masa iya aku harus minum bekas mulutmu?" protes Devan bernada keras menyingkirkan botol yang di lengketkan ke pipinya.
"Apa kau mau menyuruhku turun lagi? waktu kita tidak banyak kita harus segera mencari alamat ini, sudahlah minum saja! lagian aku tidak ada penyakit menular." Amelia meletakkan botol itu ke tangan Devan yang mulai menggeram dengan sikap acuh Amelia.
Glug Glug
Pada akhirnya Devan tidak menahan godaan air jeruk yang terasa dingin di mulutnya sehingga ia menghabiskan semuanya tanpa sisa.
"Parah Lo! masa gue gak di tinggalin sih?" berbalik Amelia yang sebal melihat Devan sedari awal menolak tapi nyatanya habis dalam sekejap.
"Sudah jangan mengeluh! lagian ini salahmu, aku bilang tadi sekalian belikan tapi kau main pergi saja!" celetuk Devan sambil meletakkan kembali botol kosong di samping kursinya.
Amelia sudah tak bisa berkata apapun lagi akhirnya terdiam dan membuka snack yang dia beli bahkan di makan sendiri tanpa berbagi pada Devan, yeap Devan hanya bergeleng kepala saja dan tersenyum kecil di sudut bibirnya.
Dia melajukan kembali mobilnya, mengikuti arahan dari Amelia ketika hendak membeli minuman tadi Amelia sempat bertanya ke arah mana alamat tersebut.
Terdapat sebuah jalan seperti perkampungan bahkan jalan menuju ke sana juga sangat jelek karena jalan yang di lewati mereka begitu hancur makanya Devan benar harus berhati-hati saat melajukan mobilnya, kemudian setelah melewati jalan bebatuan tersebut barulah mereka sampai di alamat yang sudah di cari sedari tadi.
"Apa ini tempatnya?" tanya Amelia yang menoleh ke sekitar tempat mereka berhenti.
Devan membuka salt beltnya dan turun tanpa mengajak Amelia.
Saat Amelia melihat Devan turun ia juga bergegas turun dari mobil dengan cepat.
"Kita ke arah sana! itu sepertinya ada kantor lurah." Devan menunjuk ke arah balai desa tempat Alsha berlari mencari ayahnya saat sang ibu mau lahiran.
Mereka pun berjalan mendekati balai desa tersebut.
Sampailah di depan pintu balai desa akhirnya mereka melihat seorang lelaki tua memakai baju dinas duduk terlihat sedang menulis sesuatu di atas amplop dengan kulit yang tampak keriput.
Tok Tok
"Ya silahkan masuk," turut bapak tua itu sambil membenarkan kaca mata putihnya.
Devan dan Amelia masuk setelah teguran mereka di sahut.
"Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?" tanya bapak itu dengan ramah pula terlihat mata yang mulai keriput dan bulu mata sedikit memutih.
Apakah sudah setua ini harus bekerja juga? batin Amelia mengamati wajah dari bapak tua tersebut.
"Hoi, kasih alamatnya." Devan menyenggol siku Amel yang sedang terbengong.
"Ah ya, ini pak! kami sedang mencari alamat ini," turut Amelia saat tersadar dari lamunannya ia memberikan kertas itu pada bapak tua tadi.
Kertas itupun di terima dan dia lihat dengan seksama memakai alat bantu kacamatanya.
"Oh, kalian mencari pak adam?" tanya bapak tua itu menatap Amel dan Devan.
"Pak adam itu siapa Van? apa itu nama orangtua Alsha?" tanya Amelia berbisik ke telinga Devan yang tidak sengaja di dengar oleh pak tua di hadapan mereka.
Selama ini Alsha tidak pernah berbicara soal nama orangtuanya pada teman sekelasnya, baik Devan maupun Amelia setahu Amel Alsha hanya di angkat jadi anak oleh Hayati itu saja yang dia ketahui.
"Begini nak, pak adam sudah menghilang sejak seminggu lalu dan kami juga masih mencari keberadaan beliau saat ini, dia tidak terlihat semenjak dari sawah." Kata pak tua itu memperjelas pada mereka berdua. "Kalau boleh bapak tahu, kalian kenapa mencari pak adam?"
"Kami teman Alsha pak, Khanza Alesha." Amelia berkata demikian supaya terdengar jelas di telinga bapak tersebut.
"Oh Alsha, di mana anak itu sekarang? kenapa dia tidak pernah menjenguk ayahnya lagi?" bertanya kembali.
"Kami juga kesini di suruh oleh ibu Hayati, apa bapak kenal ibu Hayati?" kali ini Devan mulai bertanya yang sedari tadi terasa begah mendengar pak tua itu bertanya terus.
"Saya hanya tahu setelah Alsha di bawa pergi dan pak adam bercerita sedikit."
"Apa bapak bisa mengantarkan kami ke rumah pak adam?" pinta Devan sedikit beranikan diri supaya percakapan itu cepat selesai.
"Bisa, tapi saya tidak punya kunci cadangan untuk membuka rumahnya, apa yang ingin kalian cari di rumah Pak Adam?" bertanya lagi dan lagi.
"Kami ingin tahu wajah orangtua teman kami supaya memudahkan kami mencari beliau," giliran Amelia menjawab dengan cepat karna dia melihat Devan sudah mulai kesal dari balik wajahnya yang berusaha tersenyum.
"Kalian tunggu sebentar, saya mau keruangan saya dulu."
Pak tua itu bangkit dari kursinya berlalu masuk ke ruangannya.
"Tenanglah! kau jangan emosi, kita di kampung orang kau mau babak belur?" bisik pelan Amelia di telinga Devan.
"Diam kau! atau kau mau aku buat babak belur?" membalas bisikan Amelia dan terlihat senyuman jahat dari balik bibir Devan.
...........
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Sesuatu yang hilang akan di cari, sesuatu yang pergi akan di kejar, berusaha supaya semuanya kembali seperti sediakala tapi itu tidaklah mudah, harus penuh kesabaran serta air mata. ❤️
TETAP IKUTI TERUS CERITA AKU,KHANZA