
...♡♡♡...
Drtt
Drtt
Getaran ponsel milik Wandi sesaat ia rasakan di balik saku jas yg terpasang di tubuhnya lalu ia meraih ponsel itu sehingga langsung membuka layar ponsel tersebut dengan melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata sebuah pesan singkat dari Nathan untuknya.
Segera Wandi membuka pesan singkat itu kemudian ia membacanya dan dalam pesan tersebut Nathan mengatakan bahwa tugas untuknya harus secepatnya di selesaikan sebab Nathan sudah berada di dalam mobil jadi Wandi harus secepatnya ke luar dari rumah Shopia, begitulah isi pesannya.
Tak berapa lama Wandi menutup layar ponselnya serta memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku jas bahkan Wandi sedang melihat kehebohan Shopia yang sedari tadi mengoceh.
"Oh ya ampun Keke! kenapa kau sampai jatuh begini? apa kau tidak punya mata untuk berjalan? tidak kah kau sadari dirimu sudah menganggu pembicaraan kami?" bengisnya Shopia mengatakan hal tersebut padahal pengurus rumahnya sudah kesakitan.
"Ma, maaf nyonya bukan saya sengaja terjatuh lagian saya tidak tahu kenapa jalannya jadi licin seperti ini nyonya," katanya pula sembari memegangi bagian bokongnya karena terasa sangat sakit baginya.
"Tidak usah banyak alasan! memang dasarnya kau ceroboh setiap hari," semburan dari Kino pula menyambung pembicaraan.
"Bukan begitu tuan, saya terjatuh memang benar-benar tidak tahu kalau jalannya licin," tangkasnya sedikit protes.
"Ah! sudah-sudah jangan ribut, sekarang kau bereskan saja lantainya jangan sampai kami yang terjatuh! urus dirimu itu, buat kesal saja!" kelakar Shopia pula sehingga ia berbalik badan melihat ke arah Wandi yang tak habis fikir melihatnya bukannya merasa kasihan malah di bentak-bentak, begitulah fikir Wandi. "Mari kita kembali ke ruang tamu melanjutkan kembali pembicaraan yang sempat tertunda," ajak Shopia melontarkan senyum tipisnya bagaikan wajah bermuka dua sehingga Wandi sangat merasa tidak suka melihatnya namun Wandi berusaha tetap ramah walaupun ia merasakan kejengkelan.
"Baik nyonya," turut Wandi sengaja ramah supaya tak di curigai Shopia.
Shopia melirik ke arah Keke serta bergeleng kepala karena pembicaraannya jadi terhambat di karenakan suara jeritan Keke lalu ia berjalan lebih dulu ke arah ruang tamu dan di susul oleh Kino di belakangnya akan tetapi Wandi masih berada di belakang mereka kemudian ia menoleh pada pengurus rumah itu.
"Nona, apa kau ingin bantuan? bisa berdiri nona?" tanya Wandi pula yang mencoba menawarkan diri.
"Ti, tidak tuan... Saya bisa berdiri, silahkan tuan lanjut saja saya tidak apa-apa kok," tolaknya dengan sedikit ramah.
"Apa kau yakin nona?" tanya Wandi lagi.
"Iya tuan, saya bisa sendiri... Terimakasih tuan sebelumnya sudah mau bantu saya," balasnya lagi melontarkan senyum tipis.
"Baiklah kalau begitu saya deluan," tutur Wandi pula sehingga membuat Keke jadi merasa bahwa ada orang yang masih perduli pada dirinya.
Keke melihat dari belakang punggung Wandi ketika sudah berlalu pergi lalu ia pun mencolek lantai dengan ujung jari telunjuknya kemudian ia mendekatkan jari telunjuknya ke arah hidung. "Mhh... Ini kan pembersih lantai, kenapa bisa bertumpahan di sini? apa ada orang yang sengaja menuangkannya? tapi siapa? kan cuma ada aku, nyonya juga tuan atau mungkin aku yang mengepel rumah tidak benar?" gumam Keke yang tampak bingung sendiri lalu seketika ia mencoba bangkit untuk berdiri sembari memegang tembok supaya bisa menahan tubuhnya.
"Rasanya kenapa jadi aneh ya? Sebelum aku masuk ke kamar tidak licin begini bahkan lantainya begitu kesat tetapi setelah aku keluar dari kamar kenapa pembersih lantai ada di depan pintu?" ia mengoceh sambil berjalan masuk ke dalam kamar walau perlahan serta tangannya terus memegangi di bagian yang sakit. "Aneh, ini benar-benar aneh!" lanjutnya lagi yang tak habisnya mengoceh sedari tadi sebab ia merasa di ambang kebingungan yang memuncak.
.
.
.
Srak
Srakk
Wandi sedang tampak memasukkan beberapa berkas yang sudah di tanda tangani oleh Shopia sebab perbincangan mereka telah berakhir bahkan Shopia begitu hebohnya sedari tadi karena mendapatkan uang bernilai yang cukup besar.
"Semuanya sudah beres nyonya jadi kapanpun nyonya bisa cairkan uangnya, sekali lagi selamat untuk nyonya," imbuh Wandi yang terlihat ikut bahagia ketika melontarkan senyum lebarnya di depan Shopia. "Oh iya nyonya! saya hampir saja lupa kalau direktur juga ingin meminta foto diri anda beserta keluarga mau itu anak kandung suami atau kerabat juga boleh nyonya, Apa nyonya bersedia?" lanjut Wandi pula.
Shopia menatap lurus ke arah Wandi seolah ucapan Wandi barusan belum bisa ia percayai sebab ia terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Wandi.
"Jangan cemas nyonya karena perusahaan kami bisa di tuntut kalau menyebarkan privasi orang lain lagipula nyonya bisa melaporkan kami jika nyonya merasa di tipu oleh kami, bagaimana nyonya?" tanya Wandi lagi semakin membuat dirinya tampak lebih meyakinkan.
"Oke! saya akan pegang ucapan bapak Jordan," turut Shopia pula sembari meletakkan cek tersebut di atas meja. "Kino, kemarilah!" titah ibunya pula.
Sebenarnya Kino enggan untuk di foto akan tetapi dirinya tak mungkin membantah sudah pasti akan di sembur oleh ibunya di tambah pula ia mungkin tak dapat bagian jika menolak maka dari itu ia menurutinya dan sekarang ia sudah berada di sebelah sang ibu.
Wandi pun mulai bersiap sebab ponselnya juga sudah berada di tangan.
Ckreekk
Ckrek
Bunyi jepretan dari ponsel milik Wandi terdengar jelas sehingga ia terus memberikan senyum cerianya di hadapan keduanya.
"Waah! anak dan ibu yang sangat mirip sampai saya tak dapat membedakan keduanya," seloroh Wandi pula sengaja berbasa-basi supaya suasana tidak terlalu tegang. "Baik kalau begitu nyonya saya harus pamit sekarang karena sudah waktunya saya kembali bekerja," tutur Wandi tersenyum kecil hingga ia bungkukkan badan sebelum melangkah pergi.
"Sampaikan salam saya pada direktur kalian," pesan Shopia pula yang tampak masih duduk dan melirik ke arah cek miliknya.
"Akan saya sampaikan, mari nyonya... Semoga hari anda menyenangkan," ucapnya pula lalu ia mulai melangkah ke arah pintu rumah serta tampak berusaha menahan tawanya.
Shopia langsung meraih cek tersebut dan menghirupnya sembari memejamkan mata sebab ia merasa bahagia sudah mendapat hadiah tak terduga walau dirinya harus menipu sekalipun karena baginya itu tidaklah penting, yeap begitulah sifat Shopia selalu menghalalkan segala cara apapun yang dia inginkan.
Kini Wandi sudah berhasil menyelesaikan tugasnya serta ia dengan cepat melangkah kembali ke mobil.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Ingatlah, kalau kau menabur kebaikan maka kebaikan pula yang akan kau dapatkan namun jika kau menabur kejahatan maka kejahatan pula yang akan kau terima sebab apapun yang kau lakukan akan kembali padamu juga ❤️